Kolom Rektor Universitas Bangka Belitung :: University of Bangka Belitung :: Indonesia
Rektorat Universitas Negeri Bangka Belitung, Jl. Merdeka No. 4 Pangkalpinang Kep. Bangka Belitung Indonesia
Telp. +62 717 422145 Fax +62 717 421303 Email : info@ubb.ac.id
 


Berikut kami sampaikan bahwa Tes Kompetensi Dasar CPNS di lingkungan Universitas Bangka Belitung akan dilaksanakan mulai tanggal 7 Oktober 2014 berdasarkan nomor sesi masing-masing peserta, di Tempat Uji Kompetensi (TUK) yang telah ditentukan. Berdasarkan zona tes yang telah dipilih, nama-nama peserta, tempat dan waktu/sesi pelaksanaan TKD ditetapkan sebagaimana tabel terlampir.Peserta dapat mengikuti TKD hanya di tempat dan waktu/sesi yang telah ditetapkan tersebut.
 
  Menu utama website Universitas Bangka Belitung
   

 
 
Artikel & Opini Universitas Bangka Belitung


Download Artikel Mengapa Harus S2 ?

Mengapa Harus S2 ?


Sebenarnya isu tentang seorang dosen harus memiliki kualifikasi S2 (akademik) telah lama dibincangkan. Di negara-negara yang lebih maju, bahkan katakanlah di negara-negara tetangga seperti Singapura dan Malaysia, sejak lama para pengajar universitas harus bergelar S2 akademik. Mereka disebut dengan lecturer atau dalam bahasa setempat disebut pensyarah. Saya sendiri punya pengalaman karena pernah berkuliah di Malaysia selama 2 tahun (1984-1986). Di tengah-tengah masih ada orang yang memandang sebelah mata kepada negara tetangga kita ini atau bukan karena saya alumni S2 Malaysia makanya saya ingin merujuk ke Malaysia, tetapi fakta ini baik dikemukakan sebab dialami sendiri.

Maksud saya, perbandingannya sudah barang tentu dengan Indonesia yang kala itu saja sudah tertinggal jauh dalam hal pendidikan dengan Malaysia (apalagi dengan negara-negara yang lebih maju seperti Amerika Serikat dan Eropa Barat). Katakanlah satu hal saja tentang penggunaan komputer sebagai peralatan di universitas waktu itu, semua universitas di Malaysia sudah terinstal dengan baik, sementara di kita masih belum tampak wujudnya. Tampak bahwa standarisasi mutu telah lama mereka siapkan. Hal ini terlaksana satu dan lain halnya adalah karena rujukan standar mutu mereka senantiasa diarahkan ke negara-negara persemakmuran di bawah 'protektorat' Inggeris. Sebaliknya di negara kita karena putusnya rantai peradaban dengan Belanda (yang notabene sama-sama memiliki peradaban Eropa) terpaksa meraba-raba kesana kemari mencari standar sendiri. Alhamdulillah lama-kelamaan mulai tampak standarisasi tersebut yang alih-alihnya juga bersumber ke Barat juga.

Kembali cerita di Malaysia di tahun 1984, kualifikasi pendidikan dosen yang terendah atau minimum adalah bergelar master akademik. Pada tahun-tahun itu masih ditemui 'dosen' yang bergelar S1, namun tidak disebut lecturer atau pensyarah melainkan tutor dan dalam dua tahun maksimal pengabdiannya sebagai tutor itu dia diwajibkan mengambil S2. Seandainya sampai waktu dua tahun belum melanjutkan studi ke S2, yang bersangkutan diberhentikan sebagai tutor. Apa kerjanya sebagai tutor? asisten atau pembantu dosen dan tidak boleh mengajar di depan kelas. Nah itu gambaran di Malaysia dulu tahun 1984. Bagaimana kondisinya sekarang, anda bayangkan sajalah sendiri, dan bagaimana pula dengan kondisi pendidikan tinggi rata-rata di negara-negara maju lain seperti di Amerika, Eropa dan Australia? Tentu lebih baik atau minimal sama dengan di Malaysia. Bagaimana dengan kita?

Saya tidak perlu bicara panjang karena anda bisa mereka-reka sendiri bagaimana kondisi kita sebenarnya. Data menunjukkan bahwa dosen yang masih berstrata S1 di negara kita mencapai di seputar 40-50%. Dalam aturan main sejak lama pun, kondisi ini tidak dibenarkan oleh standarisasi mutu. Saya masih ingat di akhir 70'an sampai awal 80'an ada program Akta V (Akta Lima) bagi dosen-dosen di PT negeri. Masa itu memang dosen S1 mencapai diatas 90% banyaknya. Oleh Dikti masa itu diterapkanlah program Akta V, yakni para dosen yang masih S1 itu diikutkan semacam program modul dan tutorial beberapa waktu lamanya. Saya waktu itu salah seorang peserta yang masih berstatus dosen muda, tetapi di antara saya banyak dosen yang sudah senior sebagai peserta Akta V. Mereka terpaksa ikut karena jika tidak memiliki sertifikat Akta V, mereka tidak boleh mengajar. Akhirnya kami semua memperoleh sertifikat Akta V. Perlu pula diketahui bahwa waktu itu PT di dalam negeri belum seperti sekarang yang banyak membuka Program Pascasarjana. Untuk berangkat ke luar negeri memerlukan besiswa asing yang masih satu dua dari banyak dosen berhasil memenangkan scholarship. Pada masa sekarang lucu kalau kita mengadakan lagi program Akta V, karena pendidikan pascasarjana terdapat dimana-mana. Persoalan utama sekarang terletak pada masih langkanya beasiswa pascasarjana, yang seharusnya juga dialokasikan ke PT yang masih kekurangan sarjana berkualifikasi S2. Sebab selama ini alokasi dana beasiswa itu diletakkan di lembaga (Program/Fakultas/Sekolah Pascasarjana) penyelenggara. Ada baiknya supaya lebih adil, PT yang masih sangat memerlukan juga dialokasikan anggaran beasiswa pascasarjana tersebut.

Mengapa dosen harus memiliki kualifikasi minimum S2 (sebagaimana tertuang di dalam Undang-undang RI tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, pasal 46 ayat 2)? Karena peningkatan mutu mahasiswa harus terus ditingkatkan semakin baik dari tahun ke tahun. Adalah menyedihkan di kala kita ingin melakukan persaingan global, mutu mahasiswa dalam masa berpuluh tahun tidak meningkat untuk ukuran nasional apalagi berdasarkan ukuran internasional. Pada masa lalu, prinsip diadakannya Akta V adalah berdasarkan rumus: pengajar S1 haruslah dosen yang serendah-rendahnya berkualifikasi S1 + delta. Pada masa itu deltanya adalah Akta V. Masa sekarang, dengan lebih mudahnya mengakses pendidikan S2, maka delta itu tergantikan oleh pendidikan lanjut yang bernama S2 dan S3. Oleh sebab itu mau tak mau persyaratan untuk menjadi dosen terasa lebih berat bagi sarjana S1 karena mereka diharuskan memiliki gelar akademik minimum S2.

Tentulah bagi para 'dosen' yang memang benar-benar bertekad menjadi dosen (suatu bidang kerja yang mulia dan cukup tinggi kedudukannya di mata masyarakat), harus bersiap-siap berangkat melanjutkan studi mereka ke S2 dan kemudian terus ke S3. Perhatikan juga linearitasnya, yakni kompetensi ilmu yang diambil supaya linear dengan S1 dan seterusnya. Hal ini penting karena dosen pada puncak karir fungsionalnya adalah memperoleh gelar Profesor atau Guru Besar. Seseorang Guru Besar tentu adalah akademisi senior yang jelas keahlian akademiknya di bidang ilmu tertentu yang juga harus jelas dan kuat akar ilmunya. Demikian, selamat menjadi dosen dan ilmuwan sejati. (BR)

Salam,


Prof. DR. Bustami Rahman M.Sc


Tanggal 2011-04-25 08:05:29



Baca Materi Kolom Rektor Lainnya :


Baca Artikel Lainnya :


Baca Berita :


Baca Feature :


Lihat Foto :

 
 
       

 

 

 

 

 

 
:: Beberapa Grafik Menggunakan Format SWF, Untuk Tampilan Terbaik Aktifkan/install Active-x Plugin flash di Browser Anda
Tampilan Terbaik Dengan Resolusi Monitor 1024 x 768 Pixels ::

Rektorat Universitas Negeri Bangka Belitung Jl. Merdeka No. 4 Pangkalpinang Kep. Bangka Belitung Indonesia
Telp. +62 717 422145 Fax +62 717 421303 http://www.ubb.ac.id Email : info@ubb.ac.id
Copyright 2008 Universitas Bangka Belitung
Sitemap - Peta situs