Revitalisasi lengkap University of Bangka Belitung Indonesia
Rektorat Universitas Negeri Bangka Belitung Jl. Merdeka No. 4 Pangkalpinang Kep. Bangka Belitung Indonesia
Telp. +62 717 422145 Fax +62 717 421303 Email : info@ubb.ac.id
 

PENGUMUMAN PENERIMAAN MAHASISWA BARU UBB TAHUN AKADEMIK 2012/2013

Panitia Lokal SNMPTN - Panlok 33 / Sub-Panlok Wilayah 5 Pangkalpinang


 
  Menu utama website Universitas Bangka Belitung
   

revitalisasi
Artikel & Opini Universitas Bangka Belitung

Membangun dengan Memaksimalkan Kerusakan Alam


Juni 2001, penulis meninggalkan kampung halaman Pulau Bangka untuk melanjutkan studi di rantau setelah lulus di SMA. Sekitar sepuluh tahun yang lalu, persis dimana Tambang Timah inkonvensional (TI_red) mulai marak beroperasi di pulau ini. Berdasarkan hasil ekspedisi Tim Eksplorasi Terumbu Karang UBB pada Juli 2010 di perairan utara Pulau Bangka, sesuai dengan hasil wawancara dengan masyarakat, TI Apung pun mulai beroperasi pada tahun 2001. Dikeluarkannya izin TI sebenarnya berawal dari Keputusan Menteri Perindustrian dan Perdagangan No 146/MPP/Kep/4/1999 mengenai pencabutan timah sebagai komoditas strategis dan Undang-undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintah Daerah (otonomi daerah).

Kini di Tahun 2011, tepat sepuluh tahun dari mulai maraknya TI di Pulau ini dan persis sepuluh tahun sudah lahirnya Provinsi Kepulauan Bangka Belitung yang kita cintai, pembangunan di daerah kita terlihat cukup signifikan. Jalan-jalan raya yang semakin lebar dan beraspal bagus meskipun terkadang masih dijumpai proyek jalan tambal sulam. Jumlah kendaraan bermotor yang semakin ramai seiring bertambahnya jumlah penduduk Pulau Bangka baik masyarakat pribumi maupun masyarakat pendatang. Pasar-pasar semakin padat dan sesak mengindikasikan bergairahnya perekonomian meskipun di pulau ini terkenal dengan harga kebutuhan hidup yang lebih tinggi daripada daerah lainnya. Hotel-hotel semakin banyak dibangun, gedung-gedung dan pusat perbelanjaan pun bermunculan. Pembangunan yang mungkin menurut banyak orang sangat membanggakan.

Pembangunan yang di dapat ini ternyata tidak gratis bahkan harus dibayar sangat mahal dengan kerusakan alam di Pulau Bangka. Pembangunan yang ada menurut penulis tidak sebanding dengan tingkat kerusakan alam di pulau ini. Jauh lebih parah daripada kerusakan alam yang telah dicapai dibandingkan dengan sepuluh tahun silam. Di kampung-kampung, disela-sela deretan rumah yang mulai bertembok beton tampak pemandangan di belakang rumah penduduk, padang pasir menganga bekas TI darat beberapa tahun silam. Kebun belakang rumah yang dulunya hutan "kelekak" (Hutan Lebat yang biasanya terdiri dari pohon buah2an spt durian, dll) dipenuhi oleh berbagai macam tanaman buah warisan kakek nenek untuk anak cucu telah tergadai oleh godaan uang yang didapat dari penjualan timah. Sungai yang dulu jernih, tempat penduduk menangkap ikan kini telah memutih, pekat dan nyaris tertutup pasir bekas buangan aliran tailing TI. Tak layak lagi untuk mandi apalagi untuk minum sehari-hari.

Tak hanya di darat, di laut pun kini kerusakan semakin menggila. Gila karena hampir tak tahu dan tak ada batas aturan untuk menambang. Kerusakan semakin hari semakin menggurita menggenggam hampir semua pelosok laut Pulau Bangka. Setelah AMDAL terpadu PT Timah Tahun 2009 dilakukan. Perusahaan ini seperti kesetanan mendatangkan mitra Kapal Isap di Laut Bangka tanpa ada kajian kemampuan kapasitas lingkungan dengan aktivitas penambangan yang dilakukan di laut. Tak puas dengan wilayah usaha penambangan (WUP) milik PT Timah, para mitra kemudian mulai mendekati pemerintah daerah untuk membuka izin usaha penambangan (IUP) baru di laut. Kurang dari 4 mil laut untuk wilayah kabupaten/kotamadya dan 4 – 12 mil laut untuk wilayah provinsi. Dengan semangat otonomi dan mengatasnamakan pembangunan, IUP-IUP baru bermunculan seperti jamur dimusim penghujan. Hampir dua periode kepemimpinan ini, kabupaten-kabupaten di Pulau Bangka beradu mengeluarkan IUP baru kecuali Bangka Tengah. Provinsi pun tak mau kalah bahkan kotamadya dengan luasan laut terkecil tak ingin absen.

Kapal isap-kapal isap dari Thailand berseliweran seperti bebas hambatan di laut bagian Utara, bagian Selatan, dan bagian Timur Pulau Bangka. Dengan alasan PAD, kapal isap-kapal isap terus bermunculan. Anehnya, tak pernah cukup anggaran untuk melakukan pengawasan penambangan di Laut. Apalagi melakukan kajian untuk melihat dampak kerusakan ekosistem terumbu karang sebagai ekosistem vital perikanan akibat aktivitas sedimentasi buangan tailing kapal isap. PT Timah sendiri terkesan tak tegas dengan mitra yang menyalahi aturan apalagi pemerintah daerah dibawah komando kepala daerah. Jika aturan untuk perusahaan penambang timah yang legal saja tidak jelas dan tegas, bagaimana mungkin permasalahan untuk penambang ilegal seperti TI Apung dapat diaplikasikan?

Tahap pembangunan


Tahapan pembangunan sebenarnya sama seperti dalam sejarah kehidupan manusia dalam memanfaatkan alamnya. Pertama, manusia hidup berpindah-pindah (nomaden) berburu hewan dan memanen tumbuhan yang ada, ketika habis disuatu tempat maka berpindah ke tempat lain. Kedua, manusia mulai menjinakkan hewan yang biasa mereka buru kemudian mulai membudidayakannya dan bercocok tanam. Ketiga, manusia mulai menerapkan teknologi tepat guna iuntuk meningkatkan nilai tambah dan produktivitas dari komoditi alam untuk kehidupannya. Pertanyaannya, jika dilihat dari sudut pandang pembangunan, di tahap manakan pembangunan di daerah kita?

Pembangunan di Pulau Bangka menurut penulis baru sebatas memaksimalkan eksploitasi sumberdaya alam yang ada. Mirip seperti yang dilakukan manusia pada zaman hidup berpindah-pindah (nomaden). Kerusakan alam yang terjadi adalah buktinya. Lalu apa yang ingin kita banggakan dengan pembangunan seperti ini? Timah digali lalu dijual dalam bentuk balok-balok tanpa ada sentuhan teknologi untuk lebih meningkatkan nilai jual atau diversifikasi produk. Komoditi lain pun tak jauh berbeda seperti karet, sawit, lada, perikanan dsb sehingga memberikan manfaat yang lebih besar kepada masyarakat. Pemerintah daerah yang menjadi pondasi dari arah pembangunan harusnya lebih berpikir kreatif untuk membangun negeri serumpun sebalai yang sama-sama kita cintai dan sayangi ini.

Warisan Berharga


Bukan gedung-gedung tinggi dan munjulang, bukan timah yang menggunung, lautan minyak atau ladang tambang batu mulia.warisan berharga negeri ini. Warisan berharga itu adalah generasi muda yang beriman dan bertakwa, memiliki daya cipta dan daya saing untuk membangun negeri agar tahap pembangunan menjadi lebih bijak dalam mengelola suberdaya alam tidak sekedar menjadi manusia nomaden.
Ironisnya, selama sepuluh tahun pembangunan di Pulau ini. Generasi muda kita seperti biasa menyaksikan manusia yang merusak alamnya. Menghancurkan hutan, sungai dan laut karena alasan tuntutan ekonomi adalah pemandangan sehari-hari di Pulau ini. Lalu apa yang disiapkan untuk membentuk generasi ini? Berharap akan terbentuk dengan sendirinya generasi muda yang unggulan itu?

Memulai sesuatu yang baik untuk membentuk generasi yang baik adalah langkah bijaksana yang dapat dilakukan. semoga tulisan membangun Bangka Belitung seperti yang sering kita baca di spanduk, baleho atau surat kabar tak hanya membangun versi manusia nomaden lagi. Penulis yakin, bukan sekedar mimpi jika negeri laskar pelagi ini dikelola dengan lebih arif lagi dapat menjadi Brunai Darussalam kedua. Amin ya robbal alamin.

Memaknai sepuluh tahun pembangunan Babel ...




penambangan timah inkonvensional Apung (TI Apung_red) di Pulau Bangka


sisa galian penambangan timah rakyat yang dibiarkan begitu saja


Penulis : Indra Ambalika, S.Pi
Dosen Perikanan UBB dan Ketua Tim Eksplorasi Terumbu Karang UBB
Email : indra-ambalika[At]ubb.ac.id



Dikirim oleh Indra Ambalika, S.Pi
Tanggal 2011-12-15
Jam 08:09:00



Baca Artikel/Jurnal tentang revitalisasi Lahan Lainnya :
 
 
     

 

 

 

 

 

:: Beberapa Grafik Menggunakan Format SWF, Untuk Tampilan Terbaik Aktifkan/install Active-x Plugin flash di Browser Anda
Tampilan Terbaik Dengan Resolusi Monitor 1024 x 768 Pixels ::

Rektorat Universitas Negeri Bangka Belitung Jl. Merdeka No. 4 Pangkalpinang Kep. Bangka Belitung Indonesia
Telp. +62 717 422145 Fax +62 717 421303 http://www.ubb.ac.id Email : info@ubb.ac.id
Copyright 2008 Universitas Bangka Belitung
Sitemap - Peta situs
4 International Colleges & Universities





powered by
Socialbar