artikel lengkap |
Rektorat Universitas Negeri Bangka Belitung, Jl. Merdeka No. 4 Pangkalpinang Kep. Bangka Belitung Indonesia
Telp. +62 717 422145 Fax +62 717 421303 Email : info@ubb.ac.id
 


Berikut kami sampaikan pengumuman kelulusan Tahap I, Seleksi CPNS UBB tahun 2014 dan beberapa file-file penndukung lainnya yang akan digunakan untuk proses kelengkapan administratif yang dapat didownload melalui link berikut : kelulusan-cpns-ubb-2014.zip
 
  Menu utama website Universitas Bangka Belitung
 
 
 
Artikel & Opini Universitas Bangka Belitung

Anatomi Daun Sapu-Sapu di Padang Vegetasi Desa Gunung Pelawan Kecamatan Belinyu Kabupaten Bangka


Sapu-sapu (Baeckea frustescens) termasuk ke dalam family Myrtaceae dari ordo Myrtales dan merupakan tumbuhan berbentuk perdu hingga semak dengan ketinggian mencapai 5 meter . Tumbuhan ini juga mempunyai daun yang berhadapan, helaian daun yang sangat sempit seperti garis dan berkelenjar, tebalnya sekitar 0,8 mm dan panjangnya 5 mm sampai 16 mm. (Plantmor;2008). Tumbuhan ini masih tergolong tumbuhan liar yang belum dibudidayakan dan menyukai daerah atau tempat yang agak kering. Tumbuhan liar ini sebelumnya bisa ditemukan di pantai Cina Selatan, Australia, gunung-gunung di Malaysia dan Sumatera (untuk wilayah Indonesia) pada ketinggian 600 meter hingga 2.200 meter di atas permukaan laut (Plantmor;2008).

Di Indonesia sendiri selain ditemukan di wilayah Sumatera bisa ditemukan di pulau Bangka yakni di wilayah pantai Pasir Padi, Bangka hamparan sapu-sapu seluas 3 ha tumbuh bagaikan gulma. Selain itu di Bangka juga ditemukan daun sapu-sapu ini di desa Bintet (Hernawan; 2009 ) juga Desa Gunung Pelawan Kecamatan Belinyu Kabupaten Bangka.

Dalam habitat kakurangan air, tanaman akan membentuk sifat khusus untuk melindunginya dari kehilangan air dalam jumlah yang berlebih dengan cara yang berbeda-beda ( Hidayat ; 1995). Ukuran stomata dan kerapatan stomata berkaitan dengan ketahanan terhadap cekaman air dan salah satu sifat tanaman yang tahan terhadap kekeringan ialah ukuran dan kerapatan stoma yang rendah pada epidermis daun (Sulistyaningsih et al. ;1994). Maka dari penelitian ini kami bertujuan untuk mengetahui struktur anatomi daun sapu-sapu pada habitat yang berbeda-beda.

Penelitian ini di lakukan pada hari Sabtu tanggal 09 Januari di desa Gunung Pelawan Kecamatan Belinyu Kabupaten Bangka (yang terkenal dengan dusun Pejem) untuk pengambilan sampel daun sapu-sapu selanjutnya lima hari, yakni Minggu-Jum’at/ 10 Januari 2010 – 14 Januari 2010 untuk pengamatan mikroskopis yang dilakukan di Laboratorium Biologi FPPB UBB.
Daun diambil pada tiga cabang untuk masing-masing jenis tanaman. Sayatan paradermal diambil satu bagian daun yang utuh pada masing-masing cabang yaitu daun keempat dari pucuk. Kemudian daun difiksasi dalam alcohol 70%. Sedangkan sayatan transversal diambil beberapa helaian daun pada posisi daun ketiga dari pucuk. Daun dimasukkan ke dalam botol film yang berisi larutan alkohol. Pada botol sampel diberi label dengan mencantumkan nama tanaman, lokasi pengambilan, ulangan tanaman, dan waktu pengambilan.

Cara kerja dalam penyayatan paradermal yaitu dengan fiksasi alhohol, pencucian dengan aquades, pelunakan dengan alkohol, penyayatan, penjernihan, pewarnaan dengan safranin dan penutupan . Sedangkan pada penyanyatan transversal setelah fiksasi dengan alkohol kemudian di cuci dengan akuades dan dilakukan penyayatan menggunakan gabus singkong dan silet. Cara-cara ini kami lakukan karena masih minimnya alat dan bahan yang tersedia di Laboratorium FPPB UBB.

Pada pengamatan sayatan paradermal tipe stomata pada daun Baeckea frutescens ini memiliki tipe stomata parasitic (Rubiaceous) karena sel penutup didampingi oleh satu atau lebih sel tetangga yang letaknya sejajar dengan stomata (Sri Mulyani, 2006). Pernyataan ini juga sependapat dengan Chortip Kantachot , et all , 2007 yang ditunjukkan pada gambar 3 bahwa tipe stomata dari daun Baeckea frutescens adalah tipe stomata parasitic .





Gambar 1 . Hasil pengamatan sayatan paradermal daun Baeckea frutescens pada perbesaran mikroskop 400 kali


Gambar 2 Sayatan paradermal daun Baeckea frutescens (Sumber ; Chortip Kantachot , et all , 2007)





Hasil rata-rata kerapatan stomata setelah di hitung ke dalam rumus kerapatan stomata yaitu jumlah stomata dibagi dengan satuan luas bidang pandang (0,1589625/mm2) yaitu pada habitat tanah berpasir dan kering (tumbuhan I) yaitu = 380.5929071 / mm 2 , pada habitat tanah berpasir dan agak lembab (tumbuhan II) = 434.0646379 / mm 2, pada habitat tanah berair/basah (tumbuhan III) = = 286.2310293 / mm 2. Dari hasil tersebut didapatkan bahwa rata-rata kerapatan stomata pada tumbuhan III mempunyai kerapatan stomata yang lebih besar dan yang paling kecil ialah pada tumbuhan I.

Hasil ini sangat bertentangan dengan pendapat Sulistyaningsih et al. (1994) yang menyatakan bahwa kerapatan stomata pada tanaman yang tahan terhadap kekeringan mempunyai ukuran dan kerapatan stomata yang rendah pada epidermis daun. Kami beranggapan hal ini bisa terjadi dikarenakan keterbatasan alat dan bahan yang ada di Laboratorium FPPB UBB, kekurangterampilan kami dalam pembuatan preparat dan kekurangcermatan kami dalam pengamatan. Faktor-faktor ini juga yang menghambat kami dalam pengamatan transversal sehingga tidak bisa mendapatkan hasil yang optimal. Yang hanya dapat terlihat dari sayatan transversal adalah jaringan epidermis, jaringan palisade, jaringan bunga karang . Hasil itu juga kurang maksimal karena susunan ketiga jaringan tersebut sudah berhamburan .

Dari hasil penelitian terhadap anatomi daun sapu-sapu ini dapat disimpulkan bahwa:
  1. Stomata menjadi alat yang penting untuk adaptasi tanaman terhadap cekaman kekeringan, yakni semakin banyak jumlah stomata semakin besar kerapatannya sehingga semakin banyak ruang pada daun yang dapat melepaskan air ke atmosfir.
  2. Tumbuhan yang tumbuh di daerah kekeringan air mempunyai kerapatan stomata yang lebih kecil dibandingkan dengan tumbuhan yang tumbuh di daerah yang basah /berair


Dari penelitian ini kami sangat berharap sekali akan adanya alat dan bahan Laoratorium yang tersedia di Laboratarium Biologi FPPB UBB secara komplet khususnya alat dan bahanan dalam melakukan pengamatan terhadap anatomi daun. Dan Proyek PKH (Pengenalan Keanekaragaman Hayati ) di bawah bimbingan Dr. Eddy Nurtjahya, M. Sc sangat perlu dilanjutkan karena bisa menambah keterampilan Mahasiswa khususnya Mahasiswa Biologi untuk melakukan penelitian.






Pengambilan sampel daun sapu-sapu ( Baeckea frutescens) di Padang Vegetasi Desa Gunung Pelawan Kecamatan Belinyu Kabupaten Bangka pada tanggal 09 Januari 2010


Pengamatan mikroskopis anatomi daun sapu-sapu (Baeckea frutescens) pada tanggal 10 Januari 2010 di Laboratorium Biologi FPPB UBB


Foto Kelompok Anatomi Daun Sapu-Sapu (Sebelah kiri sampai kanan berturut-turut : Eka Sari, Cici Rahmanadaniati, Epi Lestari )


Foto Bersama Mahasiswa dan Dosen Biologi FPPB UBB



Written By : Eka Sari, Cici Rahmanadaniati, Epi Lestari
*Tim Penulis adalah Mahasiswa Prodi Biologi UBB


Download Artikel Anatomi Daun Sapu-Sapu di Padang Vegetasi Desa Gunung Pelawan Kecamatan Belinyu Kabupaten Bangka
Dikirim oleh Admin
Tanggal 2010-02-01
Jam 18:18:29



Baca Artikel Lainnya :


Baca Berita :


Baca Feature :


Lihat Foto :

 
 
       

 

 

 

 

 

 
:: Beberapa Grafik Menggunakan Format SWF, Untuk Tampilan Terbaik Aktifkan/install Active-x Plugin flash di Browser Anda
Tampilan Terbaik Dengan Resolusi Monitor 1024 x 768 Pixels ::

Rektorat Universitas Negeri Bangka Belitung Jl. Merdeka No. 4 Pangkalpinang Kep. Bangka Belitung Indonesia
Telp. +62 717 422145 Fax +62 717 421303 http://www.ubb.ac.id Email : info@ubb.ac.id
Copyright 2008 Universitas Bangka Belitung
Sitemap - Peta situs