artikel lengkap |
Rektorat Universitas Negeri Bangka Belitung, Jl. Merdeka No. 4 Pangkalpinang Kep. Bangka Belitung Indonesia
Telp. +62 717 422145 Fax +62 717 421303 Email : info@ubb.ac.id
 


Berikut kami sampaikan bahwa Tes Kompetensi Dasar CPNS di lingkungan Universitas Bangka Belitung akan dilaksanakan mulai tanggal 7 Oktober 2014 berdasarkan nomor sesi masing-masing peserta, di Tempat Uji Kompetensi (TUK) yang telah ditentukan. Berdasarkan zona tes yang telah dipilih, nama-nama peserta, tempat dan waktu/sesi pelaksanaan TKD ditetapkan sebagaimana tabel terlampir.Peserta dapat mengikuti TKD hanya di tempat dan waktu/sesi yang telah ditetapkan tersebut.
 
  Menu utama website Universitas Bangka Belitung
 
 
 
Artikel & Opini Universitas Bangka Belitung

Asal Usul, Sejarah, Kerajaan, Zaman Kolonialisme, dan Kehidupan Masyarakat di Negeri Bangka - Belitung


1. Sejarah Bangka Belitung

A. Asal Usul Bangka Belitung

Bangka Belitung merupakan daerah kepulauan, terdiri dari Pulau Bangka, Belitung serta beberapa pulau kecil lainnya. Kondisi topografi kepulauan ini terdiri dari rawa-rawa, daratan rendah dan bukit-bukit. Di derah rawa, banyak tedapat hutan bakau, sementara kawasan perbukitan dipenuhi hutan lebat. Di daerah pesisir, terdapat pantai yang landai berpasir putih dengan dihiasi hamparan batu granit.

Kepulauan ini terletak di bagian timur Sumatra. Di bagian barat kepulauan, terdapat Selat Bangka yang memisahkan Bangka dengan daratan Sumatera; di sebelah timur, terdapat Selat Karimata; di sebelah selatan, terbentang Laut Jawa; sementara di bagian utara, terhampar luas Laut Natuna yang berhubungan langsung dengan Laut Cina Selatan. Antara pulau Bangka dan Belitung dipisahkan oleh Selat Gaspar.

Kepulauan Bangka dan Belitung merupakan bagian dari wilayah perairan Sumatera, yang menjadi pusat lalu lintas perdagangan dunia sejak dulu kala. Kesatuan wilayah perairan Sumatera tersebut meliputi kawasan Selat Malaka dan Laut Cina Selatan, khususnya yag dibatasi oleh pantai timur Sumatera dan pantai Kalimantan Barat. Di kesatuan perairan tersebut, terdapat Bangka Belitung, dan juga Kepulauan Riau-Lingga. Sejak dulu, perairan ini berfungsi sebagai penghubung antara negeri di atas angin (sub benua India, Persia dan Arab) dengan negeri di bawah angin (nusantara) dan Asia Timur (Cina).

Sejarah mengungkapkan bahwa, kepulauan ini telah lama dihuni penduduk. Pada abad ke-7 M, diperkirakan kebudayaan Hindu telah berkembang dan penduduknya memeluk agama Hindu. Berkaitan dengan kerajaan, belum didapat data sejarah yang menceritakan tentang tumbuh dan berkembangnya kerajaan tertentu di daerah ini. Sejarah hanya mengungkapkan bahwa, kepulaun ini dikuasai silih berganti oleh berbagai kerajaan di nusantara dan juga komplotan bajak laut. Menurut sejarah, kerajaan yang pernah menguasai Bangka Belitung adalah Sriwijaya, Majapahit, Malaka, Johor, Mataram, Banten dan Kesultanan Palembang. Selain itu, Bangka Belitung juga pernah dikuasasi oleh penjajah Belanda dan Inggris.

Berkaitan hubungan Bangka dengan Sriwijaya, data arkeologis yang mula-mula muncul adalah prasasti Kota Kapur yang ditemukan JK van der Meulen di dekat Sungai Mendo, Dusun Kota Kapur, Desa Pernagan, Kecamatan Mendo Barat, Kabupaten Bangka, Desember 1892 M. Prasasti di atas tunggul batu itu berisi kutukan bagi mereka yang tidak taat kepada Raja Sriwijaya. Ini menunjukkan secara jelas bahwa, Bangka Belitung berada dalam kekuasaan kerajaan maritim tersebut.

Beberapa abad kemudan, diceritakan juga bahwa, Sultan Johor dan sekutunya, Raja Alam Harimau Garang pernah menyerang Bangka untuk membasmi bajak laut. Pada saat yang bersamaan, Johor juga menggunakan kesempatan untuk menyebarkan agama Islam. Bajak laut berhasi dibasmi dan agama Islam juga berhasil dikembangkan. Namun, hal ini tidak berlangsung lama. Seiring melemahnya kekuasaan Johor, maka bajak laut kembali bersarang di pulau ini.

Keberadaan bajak laut di Bangka sangat mengganggu aktifitas perniagaan di perairan tersebut. Banyak kapal-kapal saudagar yang dirampok dan dirampas oleh para bajak laut. Oleh karena itu, diceritakan, Sultan Banten juga pernah mengirim pasukannya ke Bangka untuk membasmi bajak laut. Ketika itu, ekspedisi Banten dipimpin oleh Bupati Nusantara. Ia berhasil menguasai Bangka dan memerintah di pulau tersebut dengan gelar Raja Muda.

Setelah Bupati Nusantara wafat, kekuasaan diwariskan pada putri tunggalnya. Ketika itu, sang putri telah menikah dengan Sultan Palembang, Abdurrahman (1659-1707 M). Karena adanya hubungan perkawinan tersebut, kemudian Bangka digabungkan dengan Kesultanan Palembang dan menjadi bagian dari kesultanan tersebut. Ketika Sultan Abdurrahman wafat, putranya, Ratu Muhammad Mansyur (1707-1715 M) naik menggatikannya. Pada saat itu, Bangka Belitung masih tetap berada di bawah kekuasaan Palembang.

Ratu Muhammad Mansyur memiliki putera bernama Mahmud Badaruddin. Ketika Ratu meninggal, puteranya, Mahmud Badarudin tidak berhasil menggantikannya, sebab, adik Ratu Muhammad (atau paman Mahmud Badarudin) ternyata berambisi menjadi sultan dan merebutnya dari tangan Mahmud, keponakannya sendiri. Mahmud Badarudin kemudian menyingkir ke Johor dan Siantan untuk meminta bantuan Johor. Pada tahun 1724 M, dengan bantuan angkatan perang Johor, Mahmud berhasil merebut kembali tahta Kesultanan Palembang dari pamannya.

Ketika Mahmud Badarudin berkuasa di Palembang, kekuasaan atas Bangka ia serahkan pada Wan Akup. Saat itu, Wan Akup telah pindah ke Bangka bersama dua orang adiknya: Wan Abdul Jabbar dan Wan Serin.


B. Bangka Belitung dan Penjajah Eropa.

Sekitar tahun 1709 M, ditemukan timah di pulau Bangka. Pada awalnya, penambangan timah dilakukan oleh orang-orang Johor di Sungai Olin, Toboali. Selanjutnya, pada tahun 1710 M, Bangka sudah menjadi sumber timah yang terkenal ke seluruh dunia. Para pedagang dan penambang timah banyak yang berdatangan ke Bangka. Bahkan dikabarkan, Sultan Palembang yang masih memiliki klaim teritorial atas Bangka Belitung mengirimkan utusan ke Cina mencari tenaga ahli penambangan yang sangat dibutuhkan.

Pada tahun 1717 M, mulai diadakan perhubungan dagang dengan VOC untuk penjualan timah. Pada saat itu juga, Sultan Palembang meminta bantuan VOC untuk membasmi bajak laut dan mencegah penyelundupan timah.

Sebagai tindak lanjut berikutnya, pemerintah kolonial Belanda mengirimkan misi dagang ke Palembang, dipimpin oleh Van Haak. Salah satu tujuan pengiriman misi dagang ini adalah untuk meninjau hasil timah dan lada di Bangka. Sekitar tahun 1722 M, VOC mengadakan perjanjian yang mengikat dengan Sultan Palembang, Ratu Anum Kamaruddin untuk memonopoli perdagangan timah. Menurut Van Haak, isi perjanjian adalah:


Sultan Palembang hanya boleh menjual timah pada kompeni(VOC)
Kompeni boleh membeli timah sesuai dengan jumlah yang mereka perlukan.


Akibat perjanjian yang hanya menguntungkan Belanda ini, banyak yang menyelundupkan hasil timahnya ke negeri lain, demi mendapatkan keuntungan yang lebih tinggi. Dalam upaya untuk mengeksploitasi Bangka lebih jauh, pemerintah Belanda mengirimkan misi lagi pada tahun 1803 M, dipimpin oleh V.D. Bogarts dan Kapten Lombart.

Dalam perkembangannya, terjadi perubahan penguasa di Bangka Belitung, dari Belanda ke Inggris. Perubahan ini diawali dengan penandatangan Perjanjian Tuntang pada 18 September 1811 M. Berdasarkan perjanjian ini, Belanda harus menyerahkan daerah-daerah taklukannya kepada pihak Inggris, meliputi Jawa, Timor, Makasar, Palembang dan daerah taklukan lainnya.

Sebagai tindak lanjut perjanjian itu, Gubernur Jenderal Inggris, Raffles mengirimkan utusan ke Palembang untuk mengambil alih Loji Belanda di Sungai Aur dan tambang timah di pulau Bangka dan Belitung. Namun, usaha Inggris untuk mengambil alih Palembang dan Bangka Belitung ditentang oleh Sultan Palembang, Sultan Mahmud Badarudin II.

Pada tanggal 20 Maret 1812 M, Raffles kembali mengirimkan ekspedisi ke Palembang, dipimpin oleh Mayor Jendral Roobert Rollo Gillespie. Namun, kedatangan Gillespie ditolak oleh Sultan Palembang. Setelah dua kali mengalami kegagalan, Inggris mulai melaksanakan politik divide et impera, dengan cara mengangkat Pangeran Adipati sebagai Sultan Palembang pada tahun 1812 M, bergelar Sultan Ahmad Najamuddin II.

Sebagai imbalan atas pengangkatan ini, Bangka Belitung kemudian diserahkan kepada Inggris. Dalam perjalanan pulang dari Palembang ke Batavia, Gillespie melewati Mentok (Bangka). Pada saat itu juga (20 Mei 1812 M), ia meresmikan Bangka Belitung menjadi daerah jajahan Inggris dengan nama Duke of Island. Namun Bangka Belitung hanya dua tahun berada di bawah kekuasaan Inggris.

Pada taggal 13 Agustus 1814 M, Belanda dan Inggris menandatangani Perjanjian London. Berdasarkan perjanjian tersebut, Inggris harus menyerahkan kembali wilayah di nusantara pada Belanda, termasuk Bangka Belitung. Serah terima Bangka Belitung dari Inggris ke Belanda berlangsung di Mentok pada tanggal 10 Desember 1816 M. Pihak Belanda diwakili oleh K. Heynes, sementara Inggris diwakili oleh M.H. Court.

Selama berada di bawah kekuasaan dua negara kolonial kelas satu dunia ini, nasib Bangka Belitung sangat memprihatinkan. Timah digali secara besar-besaran tanpa mempertimbangkan nasib kaum pribumi dan lingkungan. Kecurangan, pemerasan dan eksploitasi yang melampaui batas telah menimbulkan kebencian di hati penduduk pribumi, sehingga muncul perlawanan terhadap Belanda. Selama bertahun-tahun, di bawah pimpinan Depati Merawang, Depati Amir, Depati Bahrin dan Tikal, rakyat Bangka Belitung mengangkat senjata untuk mengusir Belanda dari daerahnya. Namun, perlawanan rakyat Bangka Belitung ternyata tidak mampu mengalahkan Belanda, hingga Belanda tetap bercokol dan menguasai pulau ini.

Ketika terjadi Perang Dunia II, Bangka Belitung dikuasai oleh pasukan Jepang, terhitung sejak tahun 1942 hingga 1945. pada tahun 1949, kepulauan ini menjadi bagian dari negara kesatuan Republik Indonesia.

Demikianlah, Bangka Belitung dikuasai oleh berbagai kerajaan besar, mulai dari Sriwijaya, Majapahit, Malaka, Johor, Banten, Kesultanan Palembang, Inggris, Belanda, Jepang, dan terakhir menjadi bagian dari Negara Kesatuan Republik Indonesia.


2. Silsilah para Penguasa di Bangka Belitung

Berdasarkan catatan sejarah, di Bangka Belitung tidak terdapat satu kerajaan yang berdiri sendiri, karena itu, agak rumit untuk menjelaskan silsilah para penguasanya. Para penguasa yang pernah berkuasa hanyalah perwakilan dari kerajaan induk, seperti Sriwijaya, Majapahit, Johor, Banten dan sebagainya.


3. Periode Pemerintahan Kerajaan di Bangka Belitung

Berdasarkan data sejarah yang ada, belum didapat keterangan yang jelas mengenai pemerintahan suatu dinasti atau keturunan orang tertentu di Bangka Belitung. Pemerintahan yang pernah ada hanyalah perwakilan dari kerajaan induk yang datang silih berganti, tergantung pada kerajaan yang menguasaimya.


4. Wilayah Kekuasaan Kerajaan di Bangka Belitung

Bangka Belitung adalah daerah yang dikuasai, bukan menguasai. Oleh sebab itu, menjelaskan wilayah kekuasaan Bangka Belitung tak lebih dari menjelaskan batas geografis pulau ini, yaitu: Selat Bangka di bagian barat; Selat Karimata di bagian timur; Laut Jawa di bagian selatan; dan Laut Cina Selatan (Laut Natuna) di bagian utara.


5. Struktur Kekuasaan Kerajaan di Bangka Belitung

Ketika dikuasai oleh kerajaan besar, Bangka Belitung dipimpin oleh perwakilan kerajaan-kerajaan tersebut. Contohnya, ketika Bangka Belitung dikuasai Banten, yang berkuasai adalah Bupati Nusantara, utusan Sultan Banten; ketika dikuasai Palembang, yang berkuasa adalah Wan Akup dan keturunannya. Bagaimana struktur pemerintahan di sini? Belum didapat informasi yang menjelaskan tentang itu semua.


6. Kehidupan Sosial Budaya Masyarakat di Bangka Belitung

Secara umum, bisa dijelaskan bahwa masyarakat setempat hidup dari sektor pertanian. Pada masa dulu, mereka banyak yang menanam rempah-rempah. Komoditas yang paling terkenal adalah lada. Ada sebuah alat pertanian khas Bangka yang sering digunakan untuk membersihkan rumput di kebun lada, namanya kedik. Alat ini biasanya digunakan oleh kaum perempuan, karena bentuknya yang ringan dan kecil.

Ketika timah ditemukan, masyarakat setempat banyak yang berprofesi sebagai penggali timah. Pulau ini pernah juga menjadi pusat bajak laut di perairan timur Sumatera. Namun, tidak ada penjelasan, dari mana asal para bajak laut tersebut.

Rumah orang-orang Bangka Belitung biasanya berbentuk panggung, terutama mereka yang bermukim di dataran rendah, seperti pantai dan rawa-rawa. Berkaitan dengan senjata, mereka memiliki senjata yang berbentuk seperti layar kapal, berat dan lebar. Oleh karena itu, senjata ini juga bisa digunakan untuk memotong kayu atau menebang pohon.

Selain itu semua, masyarakat Bangka juga memiliki jenis musik tersendiri yang disebut gambus. Dari namanya, tampak jelas bahwa musik ini berkembang setelah masyarakat setempat mendapat pengaruh kebudayaan Islam. Berkaitan dengan bahasa, masyarakat setempat menggunakan bahasa Melayu dialek khas Bangka.




source : http://melayuonline.com



Download Artikel Asal Usul, Sejarah, Kerajaan, Zaman Kolonialisme, dan Kehidupan Masyarakat di Negeri Bangka - Belitung
Dikirim oleh admin
Tanggal 2008-04-18
Jam 09:44:11



Baca Artikel Lainnya :


Baca Berita :


Baca Feature :


Lihat Foto :

 
 
       

 

 

 

 

 

 
:: Beberapa Grafik Menggunakan Format SWF, Untuk Tampilan Terbaik Aktifkan/install Active-x Plugin flash di Browser Anda
Tampilan Terbaik Dengan Resolusi Monitor 1024 x 768 Pixels ::

Rektorat Universitas Negeri Bangka Belitung Jl. Merdeka No. 4 Pangkalpinang Kep. Bangka Belitung Indonesia
Telp. +62 717 422145 Fax +62 717 421303 http://www.ubb.ac.id Email : info@ubb.ac.id
Copyright 2008 Universitas Bangka Belitung
Sitemap - Peta situs