artikel lengkap |
Rektorat Universitas Negeri Bangka Belitung, Jl. Merdeka No. 4 Pangkalpinang Kep. Bangka Belitung Indonesia
Telp. +62 717 422145 Fax +62 717 421303 Email : info@ubb.ac.id
 


Berikut kami sampaikan bahwa Tes Kompetensi Dasar CPNS di lingkungan Universitas Bangka Belitung akan dilaksanakan mulai tanggal 7 Oktober 2014 berdasarkan nomor sesi masing-masing peserta, di Tempat Uji Kompetensi (TUK) yang telah ditentukan. Berdasarkan zona tes yang telah dipilih, nama-nama peserta, tempat dan waktu/sesi pelaksanaan TKD ditetapkan sebagaimana tabel terlampir.Peserta dapat mengikuti TKD hanya di tempat dan waktu/sesi yang telah ditetapkan tersebut.
 
  Menu utama website Universitas Bangka Belitung
 
 
 
Artikel & Opini Universitas Bangka Belitung

Bangka, Dont Forget Agriculture!


Jumlah penduduk Indonesia kian bertambah bahkan kini telah mencapai 235 juta jiwa sedangkan jumlah ketersediaan pangan kita berkurang dan lahan pertanian di Indonesia semakin menyusut setiap harinya. Sempitnya lahan pertanian ini kontradiktif dengan peningkatan kebutuhan pangan. Badan Ketahanan Pangan Departemen Pertanian (Deptan) memperkirakan, jumlah penduduk Indonesia tahun 2030 sebanyak 286 juta orang. Percepatan pertambahan penduduk luar biasa tersebut akan menimbulkan sejumlah masalah seperti kelaparan dan kekurangan gizi. Hal ini merupakan tantangan tersendiri di bidang pertanian kita masa depan. Kemampuan pemerintah dalam menyediakan pangan masih kalah kebutuhan (pertambahan penduduk)

Pentingnya Pertanian dan Perkebunan bagi Kehidupan


Pertanian adalah suatu kegiatan bercocok tanam dengan menggunakan tanah sebagai media tumbuh. Pertanian dapat mensejahterakan rakyat, memenuhi kebutuhan bahan pangan, obat (dalam rangka mempertahankan kesehatan masyarakat) dan lain-lainnya. Sektor pertanian juga merupakan suatu kegiatan ekonomi yang tangguh yang dapat dapat digunakan untuk menggerakkan roda perekonomian negara kita. Pada negara-negara maju seperti Amerika Serikat, Eropa Barat, jepang dan kanada tampak dengan jelas bahwa pijakan pertama pembangunannya diawali dengan sektor pertanian, hingga mencapai ketangguhan. Setelah itu baru melanjutkan ke sektor industri. Hingga saat ini, negara-negara tersebut tidak meninggalkan sektor pertaniannya tetapi semakin memperkuat daya saingnya di dunia Internasional.

Tanaman untuk Obat


Tanaman dikenal sebagai salah satu sumber daya yang sangat penting dalam upaya pengobatan, pemenuhan kebutuhan pokok dan upaya mempertahankan kesehatan masyarakat. Keanekaragaman hayati yang ada di bumi ini tak hanya digunakan sebagai bahan pangan ataupun untuk dinikmati keindahanannya saja, tetapi juga bermanfaat sebagai bahan untuk mengobati berbagai penyakit. Tanaman obat juga dapat dijadikan alternatif berobat yang lebih aman dan alami.

Selain itu, tanaman obat juga baik untuk menjaga kecantikan dan kesehatan kulit dan tubuh. Bahkan sampai saat ini pun menurut perkiraan organisasi kesehatan dunia, World Health Organization (WHO), 80% penduduk dunia masih menggantungkan dirinya pada pengobatan tradisional termasuk penggunaan obat yang berasal dari tanaman.

Indonesia yang dikenal sebagai salah satu dari 7 negara yang keanekaragaman hayatinya terbesar kedua setelah Brazil, tentu sangat potensial dalam mengembangkan obat herbal berbasis tanaman obat tanah air kita sendiri. Lebih dari 1000 spesies tumbuhan dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku obat. Tanaman yang ada, terutama yang tumbuh di Indonesia dikenal sebagai bahan yang ampuh untuk obat dan digunakan sebagai bahan baku industri obat di Indonesia selain juga sebagai obat-obatan tradisional.

Ada beberapa tanaman Indonesia yang terbukti ampuh mengatasi berbagai penyakit yang lebih berat. Beberapa bahkan dipercaya dapat mengatasi penyakit mematikan seperti AIDS, kanker dan sebagainya. Tumbuhan tersebut menghasilkan metabolit sekunder dengan struktur molekul dan aktivitas biologik yang beraneka ragam, memiliki potensi yang sangat baik untuk dikembangkan menjadi obat berbagai penyakit.

Sampai saat ini seperempat dari obat-obat modern yang beredar di dunia berasal dari bahan aktif yang diisolasi dan dikembangkan dari tanaman. Sebagai contoh misalnya aspirin adalah analgesik yang paling popular yang diisolasi dari tanaman Salix dan Spiraea, demikian pula paclitaxel dan vinblastine merupakan obat antikanker yang sangat potensial yang berasal dari tanaman.

Lahan Pertanian dan Perkebunan Semakin Sempit


Jumlah penduduk Indonesia kian bertambah bahkan kini telah mencapai 235 juta jiwa sedangkan jumlah ketersediaan pangan kita berkurang dan lahan pertanian di Indonesia semakin menyusut setiap harinya. Sempitnya lahan pertanian ini kontradiktif dengan peningkatan kebutuhan pangan. Badan Ketahanan Pangan Departemen Pertanian (Deptan) memperkirakan, jumlah penduduk Indonesia tahun 2030 sebanyak 286 juta orang. Percepatan pertambahan penduduk luar biasa tersebut akan menimbulkan sejumlah masalah seperti kelaparan dan kekurangan gizi. Hal ini merupakan tantangan tersendiri di bidang pertanian kita masa depan. Kemampuan pemerintah dalam menyediakan pangan masih kalah kebutuhan (pertambahan penduduk).

Penyebab utama pengurangan lahan pertanian adalah semakin gencarnya pembangunan industri, lahan komersial, proyek infrastruktur, permukiman, pariwisata, perumahan, jalan, pertokoan terutama di Pulau Bangka.

Kandungan mineral timah di Pulau Belitung dan Pulau Bangka, telah diketahui sejak abad 18. Sampai saat ini potensi pertambangan masih cukup potensial. Namun yang dibutuhkan saat ini adalah sistem penambangan yang ramah lingkungan dan sesuai dengan tata ruang yang ada. Serta adanya kesadaran bahwa mineral tambang adalah sumberdaya yang tidak dapat diperbaharui (non renewable) dan tidak kekal serta suatu saat mineral tersebut akan habis.

Kondisi saat ini hampir di seluruh wilayah provinsi ini banyak terdapat ratusan bahkan ribuan hektar tanah rusak/kolong-kolong akibat penambangan yang tidak terkendali, terutama yang dilakukan oleh masyarakat atau sering disebut dengan istilah Tambang Inkonvensional (TI). TI cenderung beroperasi tanpa memperhatikan konsep tata ruang yang ditetapkan dan tidak ada proses rehabilitasi lahan bekas pertambangan. Akibatnya telah terjadi perusakan, pergeseran fungsi lahan yang sangat memprihatinkan dan ironisnya pertanian jadi terlupakan bahkan terabaikan. Lahan-lahan tersebut tidak dapat kembali lagi menjadi lahan pertanian.

Rancangan Undang-Undang tentang Perlindungan Lahan Pertanian Berkelanjutan


Laju konversi lahan pertanian ke non pertanian ini berangsung sangat cepat dan sudah memasuki taraf mengkhawatirkan. Untuk mengantisipasi pengalihan lahan pertanian secara besar-besaran, sangat dianjurkan untuk dilakukan Raperda Lahan Pertanian Abadi. Adanya Perda Lahan Pertanian Abadi ini, diharapkan berdampak keseluruhan bagi produksi beras. Selain itu, juga adanya peraturan ini akan mampu memberdayakan masyarakat desa sebagai petani.

Saat ini, DPR masih membahas Rancangan Undang-Undang tentang Perlindungan Lahan Pertanian Berkelanjutan. RUU itu merupakan sebuah terobosan positif untuk menyelamatkan lahan pertanian Indonesia. Nantinya RUU ini memiliki efek jangka panjang untuk mempertahankan sektor pertanian sebagai basis ekonomi Indonesia. Setelah RUU ini disahkan diharapkan dapat menjadi payung hukum bagi setiap daerah dalam pengaturan lahan. Karena setiap daerah pasti memiliki Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) yang berbentuk Perda, yang akan menjadi payung hukum bagi seluruh peraturan di bawahnya (termasuk lahan peertanian).

Turunnya produksi beras jadi hal yang mengkhawatirkan sebab tidak bisa dipungkiri bila lahan persawahan berkurang sudah barang tentu produksi beras berkurang. Sekarang mungkin saja produksi beras mampu surplus mencapai 2,3 juta ton. Lalu apakah tahun-tahun mendatang ada jaminan bisa surplus beras lagi, kalau konversi lahannya tidak dibatasi?.

Sentra Pertanian Babel


Khusus untuk provinsi Bangka Belitung (Babel), Sebagai daerah sentra pertanian di Babel, kualitas dan kuantitas produksi padi di Desa Rias masih perlu pembenahan. Seiring dengan meningkatnya pertumbuhan penduduk Babel tiga persen per tahun, produksi padi lokal hanya bisa mencukupi 9,36 persen, sedangkan sisanya harus diimpor dari luar daerah.

Dalam upaya ketahanan pangan, pengurangan angka kemiskinan, dan dengan melihat kondisi negara masing-masing, pertanian perlu mendapat perlindungan hukum karena bisa mengatasi masalah kemiskinan. Pembukaan pasar pertanian juga harus melihat kondisi masing-masing negara, tidak didekati dengan cara atau aturan yang seragam. Kesepakatan perdagangan produk pertanian pun tidak harus mengambil titik ekstrem seperti yang diberlakukan sama untuk semua negara.

Pertanian juga dapat meningkatkan kesejahteraan penduduk di pedesaan. Perlindungan sektor pertanian dilakukan karena tahapan produksi dan cadangan pangan domestik harus tercapai lebih dulu. Dalam hal ini negara wajib memberikan hukum perlindungan bagi sektor pertanian.

Mengenal lebih jauh tentang pertanian itu sangat penting, hal ini dapat dilihat dari fungsi utamanya dalam pemenuhan kebutuhan pangan dunia dan negara khususnya Indonesia. Pertanian dapat menjadi tulang punggung yang dapat menggerakkan roda perekonomian, memenuhi kebutuhan pokok (pangan), obat dan bahkan dapat membantu kesejahteraan masyarakat umumnya di Indonesia.

Pertanian harus selaras dengan pertumbuhan penduduk yang semakin meningkat, guna mencegah terjadinya kelaparan dan kekurangan gizi rakyat khususnya di Bangka Belitung terutama Pulau Bangka. ***




Penulis Budi Suryawan


Mahasiswa program studi Pertanian,
Fakultas Pertanian, Perikanan, dan Biologi
Universitas Negeri Bangka Belitung


Download Artikel Bangka, Dont Forget Agriculture!
Dikirim oleh Admin
Tanggal 2009-07-14
Jam 12:10:11



Baca Artikel Lainnya :


Baca Berita :


Baca Feature :


Lihat Foto :

 
 
       

 

 

 

 

 

 
:: Beberapa Grafik Menggunakan Format SWF, Untuk Tampilan Terbaik Aktifkan/install Active-x Plugin flash di Browser Anda
Tampilan Terbaik Dengan Resolusi Monitor 1024 x 768 Pixels ::

Rektorat Universitas Negeri Bangka Belitung Jl. Merdeka No. 4 Pangkalpinang Kep. Bangka Belitung Indonesia
Telp. +62 717 422145 Fax +62 717 421303 http://www.ubb.ac.id Email : info@ubb.ac.id
Copyright 2008 Universitas Bangka Belitung
Sitemap - Peta situs