artikel lengkap |
Rektorat Universitas Negeri Bangka Belitung, Jl. Merdeka No. 4 Pangkalpinang Kep. Bangka Belitung Indonesia
Telp. +62 717 422145 Fax +62 717 421303 Email : info@ubb.ac.id
 



Berikut kami sampaikan Pengumuman Penerimaan CPNS Baru di lingkungan UBB tahun 2014 :

Berikut kami sampaikan contoh form isian KP4 untuk CPNS UBB : Download Contoh Form Isian KP4 CPNS UBB

 
  Menu utama website Universitas Bangka Belitung
 
 
 
Artikel & Opini Universitas Bangka Belitung

GANYANG OKNUM!


Perjalanan panjang bangsa Indonesia penuh dengan warna dan dinamika kejadian. Sosok-sosok pahlawan dan toko perubahan pun muncul mewarnai dinamika perjalanan bangsa. Namun entah mengapa berabad-abad perjalanan bangsa ini kondisi yang terjadi tidak lebih baik. Kemiskinan masih terus ada dan tersebar diseluruh wilayah Indonesia. Ketidak adilan terus terjadi. Kebobrokan moral yang semakin menjadi-jadi. Satu yang pasti penyebabnya adalah ada sesuatu yang salah. Dagelan politik yang ditunjukkan oleh para pejabat dan politisi hampir setiap hari menghiasi media. Banyak ide-ide cerdas dan konsep-konsep brilian yang telah digagas dan coba diterapkan oleh para penguasa namun tidak berkorelasi positif bagi kesejahteraan rakyat. Sekali lagi kesimpulannya adalah ada yang salah dalam proses pembangunan bangsa ini.

Bila ditelaah lebih dalam kroniknya permasalahan yang mendera bangsa ini disebabkan oleh banyak hal. Hizbut Tahrir Indonesia berpandangan bahwa semua itu terjadi karena kesalahan sistem yang dianut oleh Negara Indonesia. Indonesia masih menganut sistem kufur bukan sistem syariah yang bernaung dibawah daulah khilafah islamiah. Kaum Sosialis berpandangan karena kesalahannya ada pada penguasa yang selalu memperkaya diri sendiri dan mementingkan kaum pemodal tanpa memikirkan kesejahteraan rakyat. Ada juga yang berpendapat bahwa permasalahan bangsa ini disebabkan oleh korupsi yang secara sistematik dan bergelombang menjadi tsunami yang melanda bangsa tak henti-hentinya. Pendapat yang lain mengatakan masalah bangsa diakibatkan karena moral dan akhlaq bangsa yang terdegradasi akibat mentalitas masyarakat Indonesia yang rapuh akibat jauh dari nilai-nilai agama.

Diantara penyebab masalah-masalah bangsa ini, ada salahsatu masalah yang menjadi sebab tergerusnya bangsa secara perlahan-lahan menuju ke gerbang keterbelakangan yakni keberadaan oknum yang selalu ada pada setiap denyut nadi bergeraknya roda kehidupan bangsa Indonesia.

Istilah oknum merupakan istilah yang tidak asing lagi ditelinga masyarakat Indonesia. Oknum adalah sebutan bagi seorang atau sekelompok orang pelaku yang melakukan perbuatan melanggar hukum, aturan dan norma-norma dalam kehidupan masyarakat. Oknum terdapat dimana-mana dan biasanya memiliki profesi atau jabatan dan titel. Ada yang berprofesi sebagai jaksa, hakim, polisi, PNS, kepala daerah, anggota dewan dan profesi-profesi publik lainnya. Kata oknum digunakan agar tidak ada justifikasi bahwa semua orang yang berprofesi sama dengan oknum tersebut adalah jelek. Bahwa institusi yang dihuni oleh oknum tersebut juga jelek. Yang jelas kemunculan Oknum ini sedikit banyak seringkali menyebabkan tercorengnya institusi yang dihuni oleh oknum tersebut.

Oknum muncul dan bisa terjadi karena sebuah tuntutan. Tuntutan yang dimaksud adalah tuntutan untuk memperkaya diri, birahi untuk meraih kekuasaan dan keinginan rendah untuk memuaskan nafsu syahwat dengan cara-cara yang tidak halal. Dalam istilah ajaran Nabi Muhammad SAW dikenal dengan harta, tahta dan wanita. Oknum adalah pelaku dengan mentalitas murahan yang tidak dibingkai oleh keimanan dan ketakwaan. Orang yang bisa menjadi oknum adalah orang yang memiliki jabatan, wewenang, bargaining serta ada kemampuan, niat dan kesempatan. Pelanggaran hukum yang dilakukan oleh oknum pada suatu institusi lebih berbahaya ketimbang pelanggaran yang dilakukan oleh masyarakat biasa atau rakyat kecil Hal ini disebabkan para oknum melakukannya atas dasar kecerdasan dan pengetahuan. Dalam menjalankan operasinya oknum adalah pemain yang sangat licin dan lihai sebab mengetahui secara persis celah yang dapat digunakan untuk memuluskan langkahnya. Dengan kata lain oknum sangat menguasai ilmu dan strategi dalam menjalankan operasinya. Kehati-hatian dan penghalalan segala cara adalah menjadi sebuah mazhab utama. Bagi oknum yang kurang hati-hati dan apes, maka ia akan ketahuan perbuatannya, terekspos didepan publik serta terkena delik hukum. Namun tak sedikit pula oknum yang hari ini bermain cantik dan masih bercokol di institusi tempat kerjanya dan nyaman menikmati kerjanya tanpa tersentuh oleh hukum.

Akibat dari perilaku pelanggaran oknum yang terendus oleh hukum adalah munculnya kasus. Misalkan kasus korupsi, suap menyuap, pelecehan seksual, penghinaan dan kasus-kasus hukum lainnya. Bentuk-bentuk kasus oleh oknum yang berprofesi ada begitu banyak. Ada oknum yang berprofesi sebagai jaksa, polisi dan hakim yang menjelma menjadi makelar kasus hukum. Ada oknum kepala daerah yang melakukan korupsi dana APBD. Ada oknum anggota dewan yang terlibat dalam kasus kolusi. Ada oknum PNS yang melakukan pungutan tidak resmi bagi masyarakat yang mengurus perizinan atau oknum PNS yang minta jatah kepada pemborong proyek Pemda. Ada oknum kepala desa yang menjual hutan lindung dan tanah rakyat, Masih ratusan bahkan ribuan bentuk kasus-kasus lainnya yang dilakukan oleh para oknum diberbagai instansi dan institusi. Salahsatu kasus terbaru yang terkenal ke seluruh saentero Indonesia adalah oknum PNS pegawai pajak yang bernama Gayus Tambunan Halomoan.

Dibentuknya Satgas anti Mafia hukum oleh Presiden Yudhoyono adalah akibat bercokolnya oknum khususnya oknum penegak hukum yang melakukan praktek mafia dan makelar kasus. Sejarah telah mencatat bahwa berjuta oknum terlahir dari institusi-institusi yang ada di pemerintahan. Tak lekang dari ingatan kita tentang kasus Urip Tri Gunawan, oknum jaksa yang terlibat penyuapan kasus BLBI. Begitu pula dengan sederet kasus perzinahan, kolusi dan suap menyuap yang dilakukan oleh oknum anggota DPR RI periode 2004-2009 seperti : Yahya Zaini, Max Mouin, Bulyan Royan, Al Amin Nur Nasution, Abdul Hadi dan lain sebagainya. Atau kasus Gayus Tambunan yang menyeret oknum Hakim dan jenderal bintang dua polisi yang berkolusi dalam menangani kasus tersebut. Terlalu banyak contoh-contoh kasus yang terjadi di negeri ini yang apabila dideskripsikan memakan waktu yang begitu lama. Semakin hari bukan semakin menurun namun semakin meningkat dan dimana-dimana selalu ada, dari pusat sampai kedesa.

Mungkinkah Indonesia adalah negeri yang memiliki berjuta oknum. Bisa jadi iya. Ironis sungguh melihat keadilan, kebenaran dan keteraturan dalam tata kehidupan masyarakat menjadi tercabik-cabik. Banyak sudah akibat yang sudah diukir oleh oknum. Kerugian materi dan non materi yang diderita oleh Negara. Energi berharga bangsa yang selalu terkuras. Ketidak percayaan masyarakat kepada para penyelenggara Negara. Harus diakui bahwa secara langsung dan tidak langsung para oknum inilah yang mengabrasi kekayaan, kesejahteraan, keteraturan, keharmonisan dan reputasi bangsa ini.

Di Provinsi Kep. Bangka Belitung, ada contoh rill karya oknum yang terukir. Miris rasanya jika melihat kondisi alam Bangka Belitung yang porak poranda akibat penambangan timah yang sporadis. Air sungai dan kolong yang keruh. Topografi alam yang korengan, hutan yang gundul, ekosistem laut dan terumbu karang yang rusak dan hancur. Bukankah ini ulah dari para oknum!oknum yang mana?Apakah oknum pejabat berwenang yang punya tendensi pribadi untuk menambah kekayaannya?Apakah oknum aparat penegak hukum (tidak perlu dideskripsikan aparat hukum mana saja) yang “bermain” secara kompak dan berjamaah?Jika itu ditanyakan kepada penulis maka jawaban penulis adalah saya tidak tahu. Tanyakan saja kepada kursi-kursi dan meja-meja serta dinding ruangan rapat.

Terderanya bangsa ini oleh jutaan oknum yang hipokrit tentu saja membutuhkan solusi untuk penyelesaian. Ada rasa pesimis bahwa masalah ini akan tuntas hingga ke akarnya. Telah banyak orang cerdas dan pakar hukum di negeri ini tapi tidak berkorelasi positif terhadap solusi konkrit atas permasalahan pelanggaran hukum yang sudah menghegemoni ini. Konsep pembuktian terbalik yang digadang-gadang bisa menjadi solusi tidak jelas kelanjutan dan realisasinya. Entah kenapa. Pun aparat penegak hukum yang seharusnya menjadi kstaria pemberantas pelanggaran oleh oknum, disusupi oknum pula didalamnya.

Partai-partai bersih, peduli dan profesional yang mencetak para kader pemimpin bangsa pun disusupi oleh para oknum yang memiliki tendensi pribadi yang rendah dan murahan. Apalagi institusi pemerintah, tak luput dari gurita oknum. Teriakan “ganyang oknum”pun tak pernah membuat para oknum menjadi trauma. Mungkinkah ini adalah kesalahan sistem?. Namun satu yang pasti semangat untuk terus mengganyang para oknum yang berkeliaran ini jangan sampai sirna dalam diri kita. Minimal para oknum itu merasa tidak nyaman hidupnya.

Harapan itu masih ada. Masih banyak orang-orang bersih yang tetap berpegang teguh untuk tidak melakukan praktek kecurangan. Masih banyak para aparat penegak hukum yang bersih dan lurus dalam menegakkan aturan hukum. Masih banyak pula kepala daerah dan pejabat-pejabat berwenang yang tetap istiqomah. Mereka adalah mutiara cantik yang akan membawa kilau indah bagi Negara Indonesia.

Banyak ikhtiar yang bisa kita lakukan untuk menjadi mutiara itu. Diantaranya adalah memproteksi diri untuk tidak menjadi oknum yang melakukan pelanggaran hukum. Kemudian berani melapor, mengumpulkan bukti dan mengekspos para oknum yang kita temui. Dan yang lain adalah terus memberikan dukungan kepada orang-orang yang berani berteriak lantang mengungkap para oknum, diantaranya adalah Komjen Susno Duadji.

Mudah-mudahan suatu saat bertebarannya oknum di negeri ini bisa sangat berkurang bahkan sirna sehingga Indonesia menjelma menjadi Negara yang baldatun, thoyibatun wa robbun ghofur. Semoga!






Written By : : Eva Prasetiyono, S.Pi
Dosen Universitas Bangka Belitung/
Mantan Presidium Pemuda Tani dan Nelayan Sejahtera Jawa Barat


Download Artikel GANYANG OKNUM!
Dikirim oleh Admin
Tanggal 2010-05-24
Jam 14:53:30



Baca Artikel Lainnya :


Baca Berita :


Baca Feature :


Lihat Foto :

 
 
       

 

 

 

 

 

 
:: Beberapa Grafik Menggunakan Format SWF, Untuk Tampilan Terbaik Aktifkan/install Active-x Plugin flash di Browser Anda
Tampilan Terbaik Dengan Resolusi Monitor 1024 x 768 Pixels ::

Rektorat Universitas Negeri Bangka Belitung Jl. Merdeka No. 4 Pangkalpinang Kep. Bangka Belitung Indonesia
Telp. +62 717 422145 Fax +62 717 421303 http://www.ubb.ac.id Email : info@ubb.ac.id
Copyright 2008 Universitas Bangka Belitung
Sitemap - Peta situs