artikel lengkap |
Rektorat Universitas Negeri Bangka Belitung, Jl. Merdeka No. 4 Pangkalpinang Kep. Bangka Belitung Indonesia
Telp. +62 717 422145 Fax +62 717 421303 Email : info@ubb.ac.id
 

Berikut kami sampaikan pengumuman Seleksi Tahap II Tes Kompetensi Bidang (TKB), CPNS UBB tahun 2014 dan beberapa file-file pendukung lainnya.
 
  Menu utama website Universitas Bangka Belitung
 
 
 
Artikel & Opini Universitas Bangka Belitung

MENUMBING, ICON KOTA MENTOK


Sejarah : Aset Budaya Nasional


Sejarah merupakan penghubung kehidupan masa lalu, masa kini dan masa depan. Sejarah memiliki banyak objek, mulai dari pelaku sejarah sendiri, sampai dengan berbagai benda yang ada disekitarnya, seperti bangunan, mobil, lukisan, termasuk pula gelas dan piring yang pernah digunakan oleh sang tokoh sejarah.
Dibeberapa negara di dunia, sejarah tidak hanya menjadi kutipan dalam buku sejarah atau sekedar menjadi catatan anak sekolah, tetapi lebih dari itu. Cerita sejarah yang terlihat abstrak dapat didiskripsikan menjadi hidup, sehingga kita dapat terbawa keratusan tahun yang lalu. Begitu pula dengan objek sejarah berupa bangunan kuno, tentu lebih mudah menghidupkan dimensi masa lalunya

Icon Kota Mentok


Tidak lebih dari setengah bulan lagi kita akan memasuki tahun 2010. Apa yang istimewa dari tahun ini bagi Propinsi Kepulauan Bangka Belitung ? Istimewanya adalah akhirnya Babel akan memasuki era wisata sebagaimana yang sudah diprogramkan oleh pemerintah daerah, yaitu Visit Babel Archi 2010. Harapan kita terhadap program ini tentunya sama, yaitu meningkatnya kunjungan wisatawan, baik dalam negeri maupun mancanegara dan akan memberikan dampak positif bagi kesejahteraan masyarakat Bangka Belitung.

Sudah siapkah kita ?


Jawabannya relatif tergantung sudut pandang masing-masing. Penulis disini sekedar memberikan beberapa catatan, khususnya dalam pelestarian benda cagar budaya yang merupakan aset wisata yang dapat diandalkan.

Bangka Belitung memiliki beberapa bangunan kuno yang tidak hanya sebagai jejak sejarah, namun dapat pula dimanfaatkan untuk kepentingan sosial, ilmu pengetahuan dan teknologi, penggalian nilai-nilai budaya dan pariwisata yang menunjang proses pembangunan nasional. Salahsatunya adalah Kompleks Giri Sasana Menumbing yang berada di Mentok, Bangka Barat yang memiliki nilai sejarah yang tinggi karena sebagai tempat pengasingan beberapa tokoh nasional, seperti Soekarno, M, Hatta, Pringgodigdo, Agus Salim dan Moh Roem.

Kenapa bangunan yang diperkirakan didirikan pada tahun 1927 ini sampai dengan sekarang tidak begitu “booming atau ngetop” atau bisa dikatakan kurang begitu menarik, bahkan oleh kalangan wisatawan lokal sendiri ? Ada beberapa faktor yang menjadi penghambat dalam pelestarian bangunan kuno/sejarah, termasuk wisma Menumbing sebagai aset sejarah sekaligus aset wisata.

Pertama, faktor alam dan faktor manusia. Kerusakan karena faktor alam dapat disebabkan karena iklim dan bencana alam. Sementara kerusakan karena ulah manusia seperti pencurian, pencemaran dan vandalisme, yaitu kegiatan manusia yang merusak candi, gedung, tumbuhan, karang, tebing gunung dan jalan dalam bentuk mencorat-coret atau memetik atau mematahkan, untuk menunjukkan bahwa oknum telah mengunjungi tempat tertentu. Ini merupakan kebiasaan salah dan melanggar hukum.

Hal ini juga bisa terjadi pada wisma Menumbing dan tentunya harus segera di atasi. Pengumuman larangan vandalisme di beberapa tempat sekitar dan dalam wisma diharapkan dapat menumbuhkan kesadaran pengunjung. Namun itu saja tidak cukup, harus ada pengawasan ekstra dengan CCTV. Memang terlihat mahal. Namun kemahalan itu akan terbayar dengan kelestarian aset sejarah, kebiasaan vandalisme akan mulai luntur. Tidak hanya untuk pengawasan, tetapi memunculkan eksklusifitas dan pentingnya wisma dan benda-benda didalamnya. Namun demikian sanksi yang tegas bagi vandalisme tetap diperlukan guna “penjeraan” dan upaya prenventif bagi yang lain.

Kedua, kelemahan aturan. Minimnya upaya pelestarian bangunan bersejarah seperti wisma Menumbing juga disebabkan kebijakan yang lemah. Dalam UU Benda Cagar Budaya, ada ketidakjelasan kewenangan dalam pelestarian benda cagar budaya dan minimnya partisipasi swasta dan masyarakat. Oleh karena itu harus ada Peraturan Daerah yang mengatur secara teknis tentang kualifikasi, konservasi dan tata cara pengelolaan bangunan bersejarah.

Ketiga, konsep pembangunan modernitas. Kepala daerah berorientasi pembangunan modern dengan indikator keberhasilan berdirinya gedung-gedung pencakar langit, mall-mall, supermarket disetiap sudut kota dan lain-lain. Ini merupakan orientasi pembangunan yang salah, karena terbukti dibeberapa negara seperti Belanda, Paris, Yordania, Singapura dan Mesir tetap mempertahankan dan melestarikan keberadaan bangunan kuno yang ada di kotanya. Jadi konsep pembangunan yang harus digunakan adalah “penyatuan peradaban masa lalu dengan dimasa kini, untuk masa depan”. Mentok sebagai kota jalur transportasi seharusnya mengoptimalkan pembangunan dengan mensinergikan antara potensi transportasi dengan potensi bangunan kuno seperti Menumbing, sehingga orang tidak hanya transit, tetapi ada kebutuhan untuk melihat kemegahan menumbing.

Keempat, mitos yang keliru. Menurut Eko Budiardjo ada lima mitos tentang pendaurulangan warisan budaya yang keliru, seperti mitos biaya daur ulang bangunan kuno yang lebih tinggi dibandingkan mendirikan bangunan baru, tata letak dan ketinggian yang tidak sesuai tuntutan mekanikal elektrikalnya, tingkat kekosongan (vacancy rate) untuk bangunan perdagangan dan kantor pada bangunan kuno lebih tinggi dibandingkan bangunan baru; bangunan kuno yang diremajakan akan memiliki umur lebih pendek ketimbang bangunan baru; dan traumatik generasi tua akan sejarah kelam masa lalu. Semua mitos tersebut tidak selamanya benar, karena beberapa studi kasus bangunan kuno dan hasil penelitian justru mematahkan semua mitos tersebut.

Upaya pelestarian wisma Menumbing dapat dilakukan dengan cara menumbuhkan kesadaran sejak dini akan pentingnya keberadaan benda cagar budaya sebagai warisan sejarah dan kekayaan bangsa, serta menggunakan konsep pelestarian yang tidak hanya berorientasi pada kepentingan budaya dan sejarah saja, tetapi juga memiliki nilai sosial ekonomi. Dengan demikian diharapkan wisma Menumbing tidak hanya dikenang sebagai tempat pengasingan sang Proklamator, tetapi dapat menjadi aset sejarah, aset budaya sekaligus aset wisata yang bernilai ekonomis sehingga dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat setempat. Disamping itu Wisma Menumbing diharapkan menjadi “icon” kota Mentok tidak hanya dalam rangka menyambut datangnya Visit Babel Archi 2010, tetapi menjadi Visit Babel Archi All Year. Semoga……….

(Opini Bangkapos, 9 Januari 2010)


Written By : Dwi Haryadi, SH. MH
Dosen Fakutas Hukum dan Ilmu Sosial
Universitas Bangka Belitung

Download Artikel MENUMBING, ICON KOTA MENTOK
Dikirim oleh Admin
Tanggal 2010-01-18
Jam 14:11:34



Baca Artikel Lainnya :


Baca Berita :


Baca Feature :


Lihat Foto :

 
 
       

 

 

 

 

 

 
:: Beberapa Grafik Menggunakan Format SWF, Untuk Tampilan Terbaik Aktifkan/install Active-x Plugin flash di Browser Anda
Tampilan Terbaik Dengan Resolusi Monitor 1024 x 768 Pixels ::

Rektorat Universitas Negeri Bangka Belitung Jl. Merdeka No. 4 Pangkalpinang Kep. Bangka Belitung Indonesia
Telp. +62 717 422145 Fax +62 717 421303 http://www.ubb.ac.id Email : info@ubb.ac.id
Copyright 2008 Universitas Bangka Belitung
Sitemap - Peta situs