artikel lengkap |
Rektorat Universitas Negeri Bangka Belitung, Jl. Merdeka No. 4 Pangkalpinang Kep. Bangka Belitung Indonesia
Telp. +62 717 422145 Fax +62 717 421303 Email : info@ubb.ac.id
 

Berikut kami sampaikan pengumuman Seleksi Tahap II Tes Kompetensi Bidang (TKB), CPNS UBB tahun 2014 dan beberapa file-file pendukung lainnya.
 
  Menu utama website Universitas Bangka Belitung
 
 
 
Artikel & Opini Universitas Bangka Belitung

Makna Kemerdekaan dan Bulan Ramadhan


Sudah bukan menjadi rahasia umum lagi, dari anak kecil sampai orang tua mengetahui bahwa 17 Agustus merupakan Dirgahayu Kemerdekaan Republik Indonesia dan Bulan Suci Ramadhan merupakan Bulan puasa dimana umat muslim diwajibkan untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah SWT. Sebuah moment yang pas untuk mengabdikan diri kepada Negara dengan cara memeriahkannya dengan kegiatan-kegiatan seperti Upacara pengibaran bendera, Pawai, Karnaval sampai acara makan kerupuk dan lain sebagainya sedangkan dalam bulan Ramadhan diisi dengan berpuasa, ceramah keagamaan, shalat tarawih, dean sahur. Adapun persamaannya adalah sama-sama dilaksanakan setahun sekali dan perbedaannya Hari kemerdekaaan bisa dilakukan oleh siapa saja yang berkewarganegaraan Indonesia baik muslim maupun non muslim sedangkan bulan suci Ramadhan hanya dilakukan oleh umat yang mengaku sebagai "muslim dan beragama islam". Mudah-mudahan bukan menjadi seremonial tahunan saja.

Sekilas penggalan di atas mungkin akan sedikit membuka pintu hati kita akan pentingnya kedua momentum ini. Ada pertanyaan disekitar kita sekarang-sekarang ini, dimana kedua momentum tersebut apakah dilakukan selalu seremonial saja ataukah lebih kemoralitas?. Sebuah realita bahwa dimasyarakat setiap 17 Agustus-an sibuk dengan pernak pernik kemerdekaan baik dari pemerintah Pusat sampai dengan RT/RW tetapi kurang memahami arti kemerdekaan itu sendiri, kenapa kita bisa merdeka dan begaimana mengisi kemerdekaan untuk sekarang ini. Sedangkan dalam bulan Ramadhan merupakan bulan suci dimana seluruh umat muslim berlomba-lomba untuk mendapatkan pahala dengan berpuasa dari rasa lapar, haus dan hawa nafsu.

Sungguh ironis sekali, banyak warga Negara Indonesia dan umat muslim kurang memahami makna kemerdekaan dan makna Bulan suci Ramadhan yang sebenarnya. Kita ambil contoh-contoh kecil seperti di bulan puasa, banyaknya para artis selaku public figure yang sebelumnya seringkali berpenampilan sexy dan condong berperilaku negatif tetapi karena bulan Ramadhan sibuk memakai jilbab bahkan menyiapkan album realigi seakan-akan hanya seremonial saja atau banyaknya himbauan dari pemimpin-pemimpin di daerah yang menghimbau agar tempat hiburan dan rumah makan ditutup sementara hanya untuk menghormati bulan suci ramadhan. Dan contoh lainnya banyaknya orang yang mengaku muslim tetapi makan dan minum secara terbuka ditempat-tempat umum seperti pasar dan tempat lainnya bahkan masih adanya kejahatan atau tindak pidana yang timbul di Bulan suci Ramadhan. Mungkinkah himbauan ini hanya untuk menghormati bulan Ramadhan saja? Dan dimanakah “sakralnya” bulan Ramadhan tersebut?. Padahal Bangsa dan Negara Indonesia ini penduduknya adalah Mayoritas muslim dan bukan minoritas.

Sudah bukan menjadi peristiwa baru apabila setiap menjelang bulan suci Ramadhan, para pemilik tempat-tempat hiburan di seantero Nusantara dibuat was-was dan ketakutan. Bukan oleh adanya peraturan daerah yang melarang dibukanya tempat hiburan tersebut atau pembatasan jam operasionalnya, namun tidak lebih pada maraknya tindakan penertiban tempat hiburan oleh sebuah organisasi masyarakat berbasis keagamaan, seperti Forum Pembela Islam (FPI) atau lembaga islam lainnya. Puasa, bukan sekedar kewajiban tahunan, dengan menahan lapar dan berbuka, kemudian setelah itu hampir tidak berbekas dalam jiwa ataupun dalam perilaku dalam bersosialisasi di masyarakat, namun puasa lebih kepada kewajiban yang mampu menggugah moral, akhlak, dan kepedulian kepada hal sosial kemasyarakatan. Puasa merupakan kewajiban yang universal, dan sebagai orang yang beragama Islam, maka perlu diyakini bahwa puasa merupakan kewajiban yang disyariatkan untuk setiap muslim/mukmin, seperti layaknya sebagai umat dari Nabi Muhammad SAW.

Puasa, merupakan satu cara untuk mendidik individu dan masyarakat untuk tetap mengontrol keinginan dan kesenangan dalam dirinya walaupun diperbolehkan. Dengan berpuasa seseorang dengan sadar akan meninggalkan makan dan minum sehingga lebih dapat menahan segala nafsu dan lebih bersabar untuk menahan emosi, walaupun mungkin terasa berat melakukannya. Puasa menurut Islam lebih universal, dan bukan hanya sekedar menahan diri dari makan dan minum, namun juga menahan diri dari semua hal yang dilarang oleh Allah, seperti contoh bertahan dari godaan maksiat dan menjauhi perbuatan keji, juga menjauhi perbuatan yang tidak terpuji lahir dan batin. Puasa di bulan Ramadhan, merupakan bulan untuk perenungan dan instropeksi mengenai perilaku diri, dan sekaligus mengakui kelebihan dari orang lain.

Oleh karena sedang berpuasa, maka mulut akan terjaga dari kata-kata kotor, caci maki, mengumbar aib orang dan berusaha untuk tidak menyakiti perasaan orang lain. Puasa juga merupakan kewajiban yang konkret sebagai pembina suatu kebersamaan dan kasih sayang antar sesama. Sesama orang Islam akan merasakan lapar, haus, kenyang, dan sulitnya menahan emosi dan amarah diri. Puasa dalam satu bulan, seharusnya dapat membawa dampak positif berupa rasa solidaritas dan kepedulian antar saudara, rasa kemanusiaan yang mendalam atas penderitaan sesama manusia. Perasaan sama-sama lapar, haus, kesabaran yang lebih, dan kesucian pikiran juga kata-kata, mampu membuat manusia memiliki rasa kebersamaan dalam masyarakat, dan menghasilkan cinta kasih antar sesama tanpa memandang latar belakang, warna kulit, dan agama.

Umat Islam diwajibkan menjalani puasa (Q.S.Al-Baqarah:183) dengan penuh kesadaran dan ketulusan, karena bulan Ramadhan adalah bulan yang penuh berkah dari Allah. Setiap waktu luang yang ada selama menjalankan puasa, dapat diisi dengan pertobatan atas dosa dan kesalahan yang telah diperbuat, banyak berdoa dan berzikir juga bersedekah kepada fakir miskin, dan aktif dalam kegiatan keagamaan. Puasa sendiri merupakan suatu proses menjadi orang yang lebih bertakwa kepada Allah. Maka dari itu, tidaklah benar bila kesempatan berpuasa sekali dalam setahun harus lewat begitu saja, karena kesempatan di bulan ini sangat baik untuk memperkaya diri dengan mencari pahala sebanyak-banyaknya. Harus dipahami bahwa sistem hukum dan politik di Indonesia yang cenderung sekuler secara nyata telah membuat sebagian dari nilai-nilai ajaran Islam tidak terakomodasi dalam perangkat hukum negara. Bahwa seorang maling harus dihukum, telah sejalan dengan sebagian nilai-nilai ajaran Islam. Tapi bahwa prostitusi dan minum-minuman keras harus dilarang dapat terhadang oleh pasal-pasal hukum yang multi-persepsi. Dalam ruang yang kurang tersentuh pasal-pasal hukum inilah, FPI melakukan berbagai pendekatan solusi agar nilai-nilai ajaran Islam dapat diterapkan secara lebih komprehensif. Mungkin akan ada pertanyaan kita, kenapa hanya FPI atau lembaga keislaman lainnya yang intens untuk memerangi hal-hal tersebut, kenapa tidak pemerintah daerah atau aparat hukum yang lebih tegas untuk menyelesaikan hal tersebut?.

Keistimewaan Bulan Puasa


Bulan Ramadhan merupakan bulan yang istimewa, bulan penuh berkah, dan segala amal baik umat-Nya di dunia akan dibalas berlipat ganda oleh Tuhan. Semangat untuk menjalankan ibadah puasa, mampu membentuk karakter untuk memperbanyak amal kebajikan maupun amal ibadah spiritual dalam diri. Selain itu, bulan puasa merupakan bulan yang dapat digunakan untuk membuat mental menjadi tetap konsisten dan istiqamah dalam sebelas bulan berikutnya.

Namun, apapun yang diperbuat di bulan puasa ini, semuanya kembali kepada kesadaran diri masing-masing, untuk memahami makna puasa, dan makna-makna lain yang akan menentukan sikap dan perilaku diri ke depan setelah berlalunya bulan puasa. Oleh karena itu, apa yang sampai di mata dan telinga Allah, adalah niat, maka hati dan pikiran kita untuk menjalankan ibadah puasa, bukan penampilan lahiriah atau materi peribadatan yang dilakukan.

Sebuah harapan, mudah-mudahan kita semua lebih memahami hakikat serta urgensi dari kemerdekaan dan Bulan suci ramadhan itu sendiri dengan sebaik-baiknya. Semoga



Oleh : Rio Armanda Agustian, S.H., M.H.
Dosen, Kriminolog, Peneliti
Fakultas Hukum dan Ilmu Sosial Universitas Bangka Belitung

Download Artikel Makna Kemerdekaan dan Bulan Ramadhan
Dikirim oleh Rio Armanda Agustian, S.H., M.H.
Tanggal 2010-09-02
Jam 12:18:03



Baca Artikel Lainnya :


Baca Berita :


Baca Feature :


Lihat Foto :

 
 
       

 

 

 

 

 

 
:: Beberapa Grafik Menggunakan Format SWF, Untuk Tampilan Terbaik Aktifkan/install Active-x Plugin flash di Browser Anda
Tampilan Terbaik Dengan Resolusi Monitor 1024 x 768 Pixels ::

Rektorat Universitas Negeri Bangka Belitung Jl. Merdeka No. 4 Pangkalpinang Kep. Bangka Belitung Indonesia
Telp. +62 717 422145 Fax +62 717 421303 http://www.ubb.ac.id Email : info@ubb.ac.id
Copyright 2008 Universitas Bangka Belitung
Sitemap - Peta situs