artikel lengkap |
Rektorat Universitas Negeri Bangka Belitung, Jl. Merdeka No. 4 Pangkalpinang Kep. Bangka Belitung Indonesia
Telp. +62 717 422145 Fax +62 717 421303 Email : info@ubb.ac.id
 

Berikut kami sampaikan pengumuman Seleksi Tahap II Tes Kompetensi Bidang (TKB), CPNS UBB tahun 2014 dan beberapa file-file pendukung lainnya.
 
  Menu utama website Universitas Bangka Belitung
 
 
 
Artikel & Opini Universitas Bangka Belitung

TIMAH PENCABUT NYAWA


"Inilah tempat timah terkaya yang tidak ada bandingannya di dunia, Seluruh pulaunya akan menjadi tambang timah terbesar”. Demikian pernyataan Sir Thomas Stamford Raffles. Pulau Bangka dan Belitung adalah sedikit dari beberapa wilayah di Indonesia, bahkan di dunia yang dianugerahi Tuhan dengan kekayaan timah. Tidak hanya di darat, dilaut pun ada kandungan timahnya. Meskipun sudah dikeruk dari ratusan tahun lalu, sampai sekarang timah seolah tidak pernah habis. Namun sayangnya, komoditas ini disamping berdampak positif bagi perekonomian Babel, juga mengandung banyak masalah bahkan malapetaka. Mulai dari kerusakan lingkungan, seperti rusaknya hutan lindung dan terumbu karang, sampai jatuhnya korban para pekerja tambang.

Deretan Kasus


Penulis mencoba menelusuri berbagai berita diharian ini selama 3 tahun terakhir terkait kecelakaan kerja diareal tambang timah. Pada tahun 2010, paling tidak tercatat oleh media ada 6 kecelakaan tambang dengan 6 korban meninggal dunia. Lalu pada tahun 2011, berdasarkan data Polda Kepulauan Babel tercatat ada 18 kasus kecelakaan tambang dengan korban 32 orang meninggal dunia dan 2 orang luka berat. Lokasi kecelakaan terbanyak di Bangka Barat sebanyak 9 kejadian, Bangka Tengah dan Bangka masing-masing 3 kasus, kabupaten lain masing-masing 1 kasus, sedangkan Pangkalpinang tidak ada. Jumlah korban paling banyak terjadi di Bangka Barat 12 orang, Bangka 11 orang, Basel 4 orang, Bateng 3 orang, Belitung dan Belitung Timur masing-masing satu orang. Kecelakaan tambang belum juga berakhir, pada Januari-April 2012 telah terjadi 7 kasus dengan korban 11 orang meninggal dunia. Data-data ini tentu hanya yang tercatat oleh aparat dan terekspos oleh media. Mungkin masih ada banyak kasus lain dipelosok provinsi ini yang tidak dilaporkan dan diketahui oleh media.

Safety First


Adanya peningkatan jumlah kasus kecelakaan pekerja tambang dari tahun ke tahun menuntut ada upaya yang serius oleh semua pihak terkait untuk dapat mencegah terjadinya kembali kecelakaan kerja dan jatuhnya korban. Aktivitas diareal tambang memang memiliki resiko tinggi untuk terjadi kecelakaan kerja. Terlebih pada sektor tambang informal, yang kegiatan tambangnya tidak berizin dan tidak dilengkapi dengan sarana dan prasarana keselamatan kerja. Resiko semakin besar ketika kegiatan penambang tidak disertai dengan pengetahuan dalam menambang, seperti kapan waktu dan lokasi yang aman untuk menambang. Tidak sedikit pekerja tambang yang meninggal dunia karena tertimbun lonsor diareal tambang atau tenggelam saat menyelam di TI Apung.

Safety first, harus menjadi prinsip utama dalam setiap kegiatan penambangan, baik yang dikerjakan secara legal maupun illegal. Permasalahan kecelakaan kerja tambang memang sering terjadi pada sektor tambang informal yang tidak berizin. Akibatnya tidak ada pengawasan dan pembinaan yang dilakukan oleh instansi terkait. Dengan demikian sulit pula dilakukan pendataan dan perlindungan terhadap pekerjanya. Akhirnya standar Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3) jelas tidak akan pernah dilakukan.

Selama ini Pemerintah Daerah melalui instansi terkait tentu sudah melakukan sosialisasi dan mewajibkan perusahaan-perusahaan tambang untuk menerapkan K3 dalam semua aktivitasnya. Hanya saja upaya ini sepertinya belum mampu mengurangi terjadinya kecelakaan kerja tambang di masyarakat. Saya rasa, meskipun korban-korban ini bekerja pada tambang illegal, namun mereka tetap warga negara yang harus dilindungi dan dijamin keselamatannya. Tidak mudah memang untuk melakukan hal ini. Namun korban akan terus bertambah jika kita selalu beralasan mereka tidak terdata, penambang illegal dan lain-lain. Jadi mari kita bersama-sama mengatasi masalah ini agar timah tidak lagi menjadi pencabut nyawa para pencarinya didarat maupun dilaut.

Sebagai langkah awal, memang semua tambang illegal harus ditertibkan. Apakah ini mungkin ? Ini memang tidak mudah, membutuhkan waktu, kerja keras, komitmen dan kerjasama antara aparat kepolisian, Satpol PP, dan SKPD terkait. Dan yang terpenting adalah kesadaran masyarakat yang membuka tambang illegal. Tanpa ini, upaya sidak, penertiban dan lain-lain yang selama ini dilakukan hanya akan bersifat sementara. Setelah penertiban dilakukan, semua penambangan harus legal dan dilakukan pendataan terhadap semua pekerjanya. Sehingga dapat dilakukan pembinaan, perlindungan dan mewajibkan perusahaan yang mempekerjakannya menerapkan K3. Kemudian para pekerja tambang juga harus dilengkapi dengan jaminan asuransi yang memadai.

Penegakan Hukum


Maraknya penambangan illegal dan kecelakaan kerja yang menyertainya tentu menjadi perhatian serius dari aparat penegak hukum. Penertiban harus terus dilakukan tanpa pandang bulu. Begitupula dengan kasus kecelakaan kerja. Pemilik tentu tidak hanya dapat dijerat karena tambang illegalnya, tetapi juga kelalaian karena menyebabkan pekerjanya meninggal dunia. Mereka tidak bisa lepas tanggung jawab bahwa ini adalah kecelakaan kerja dan karena ketidakhati-hatian pekerja. Karena prinsip terjadinya kecelakaan kerja adalah, setelah segala upaya untuk menekan resiko kecelakaan kerja telah dilakukan. Misalnya dengan tersedianya sarana prasarana kerja dan lingkungan kerja yang menjamin keselamatan pekerja. Jika itu tidak ada, berarti unsur kesengajaan lebih banyak dibandingkan kelalaian pemiliknya, karena resiko terjadinya kecelakaan kerja memang tinggi tanpa pencegahan yang maksimal.

Kekayaan timah kiranya lebih banyak memberikan dampak positif bagi provinsi ini dan bukan sebaliknya. Segala label negatif tentang timah terhadap provinsi ini, seperti Babel (Babak Belur), menuju Ghost City, pulau seribu kolong, dan lain-lain saya rasa sudah cukup untuk menyadarkan kita semua untuk berbuat sesuatu agar timah memang menjadi anugerah dan bukan petaka.

Bangkapos, 4 Mei 2012






Penulis : Dwi Haryadi
Dosen FH UBB dan Peneliti Ilalang Institute




Download Artikel TIMAH PENCABUT NYAWA
Dikirim oleh Dwi Haryadi
Tanggal 2012-05-22
Jam 15:57:57



Baca Artikel Lainnya :


Baca Berita :


Baca Feature :


Lihat Foto :

 
 
       

 

 

 

 

 

 
:: Beberapa Grafik Menggunakan Format SWF, Untuk Tampilan Terbaik Aktifkan/install Active-x Plugin flash di Browser Anda
Tampilan Terbaik Dengan Resolusi Monitor 1024 x 768 Pixels ::

Rektorat Universitas Negeri Bangka Belitung Jl. Merdeka No. 4 Pangkalpinang Kep. Bangka Belitung Indonesia
Telp. +62 717 422145 Fax +62 717 421303 http://www.ubb.ac.id Email : info@ubb.ac.id
Copyright 2008 Universitas Bangka Belitung
Sitemap - Peta situs