+62 (0717) 422145 Senin-Jumat: 07.30 - 16.00 WIB
Link Penting UBB

Artikel UBB

Universitas Bangka Belitung's Article
17 Mei 2013 | 14:44:03 WIB


Memproduksi Kejahatan


Ditulis Oleh : Dwi Haryadi

Kita semua tentu menginginkan dunia ini aman-aman saja tanpa kejahatan, para penjahat pensiun dan mungkin kita tidak lagi membutuhkan pengacara, polisi, jaksa, hakim, sipir dan semua penjara ditutup. Termasuk Fakultas Hukum mungkin juga ditutup. Namun apakah itu semua mungkin terjadi? Karena faktanya kejahatan terus terjadi, terus bermetamorfosa sesuai perkembangan masyarakat dan teknologi. Munculnya berbagai hitechcrime dan transnationalcrime misalnya, menjadi tantangan berat bagi aparat penegak hukum. Pelakunya pun tidak hanya orang perorang dengan perangai dan penampilan jahat, tetapi kini yang berdasi, bergelar dan duduk berkuasa pun turut berpartisipasi menjadi penjahat dengan caranya. Tidak hanya orang, korporasi juga banyak terlibat kejahatan. Korbannya tidak satu dua orang lagi, tetapi puluhan bahkan ribuan. Dengan demikian, kapan kejahatan akan berakhir?

Tiada hari tanpa kejahatan. Itu kiranya ilustrasi yang tepat untuk menggambarkan kondisi saat ini yang tidak pernah sepi dari aksi kriminal. Seolah kita ini sedang memproduksi kejahatan di dalam sebuah pabrik yang disebut masyarakat. Meminjam makna demokrasi yang sering dipakai, ternyata kejahatan juga dari, oleh dan untuk rakyat. Berbagai teori kriminologi menunjukkan korelasi yang kuat antara causa kejahatan dengan masyarakat, baik itu karena perilaku negatifnya, adanya konflik, labeling, kemiskinan, lemahnya kontrol sosial sampai dengan penyalahgunaan kekuasaan.

Menurut POLRI, sepanjang tahun 2012 setiap 91 detik terjadi 1 kejahatan. Sehingga tidak heran di media massa, media elektronik dan media online setiap hari selalu memberitakan berbagai perilaku kriminal, mulai dari kejahatan ringan, sedang sampai berat. Akibatnya pun beragam, ada kerugian materi, non materi atau keduanya sekaligus. Kerugian materi disebabkan karena pencurian, pencopetan, perampokan, kerusakan akibat kecelakaan dan lain-lain. Kemudian akibat non materi, baik dampak fisik maupun psikologis, seperti korban penganiayaan, KDRT, perkosaan, pembunuhan, dan lain-lain.

Lebih luas lagi, pada kejahatan tertentu korbannya tidak hanya individu per individu tetapi masyarakat luas, generasi muda, bahkan lingkungan. Praktik-praktik korup telah menghambat pembangunan, dan memperbanyak kemiskinan. Maraknya peredaran pornografi, pornoaksi, minuman keras dan narkoba telah membawa generasi muda pada pergaulan bebas dan masa depan yang suram. Illegal mining, illegal logging dan illegal fishing yang berlangsung terus menerus telah merusak lingkungan dan cepat atau lambat kita akan menikmati hasilnya, berupa banjir, longsor, minim air bersih, dan polusi.

Lalu apa yang harus kita lakukan untuk menekan angka kriminalitas? Ketika kita sedikit pesimis untuk menghilangkannya sama sekali. Saya kira perubahan pola pikir tentang tanggung jawab penanggulangan kejahatan harus menjadi langkah awal. Ketika kejahatan merupakan produk masyarakat, maka penanggulangannya jelas tidak bisa hanya dibebankan kepada aparat penegak hukum. Ketika marak terjadi pencurian atau pencopetan misalnya, kita menyimpulkan bahwa daerah ini sudah tidak aman akibat buruknya kinerja kepolisian. Kita jarang sekali untuk mengoreksi diri dan lingkungan sekitar, jangan-jangan kita juga teledor terhadap keamanan rumah/lingkungan sehingga memberi kesempatan pencuri masuk. Begitupula dengan membawa/meletakkan dompet ditempat terbuka yang memancing niat pencopet untuk beraksi. Disini saya ingin mengatakan bahwa penanggulangan kejahatan tidak hanya tugas polisi, tapi tugas kita bersama. Maka jadilah polisi untuk diri kita sendiri. Artinya jagalah diri anda, keluarga dan harta benda yang dimiliki dari potensi aksi kejahatan. Waspadalah, waspadalah !!! Demikian kira-kira pesan Bang Napi.

Sama halnya dengan dunia kesehatan, mencegah lebih baik daripada mengobati. Dalam penanggulangan kejahatan juga demikian, disamping pendekatan represif, pendekatan pencegahan/preventif harus dilakukan dan menjadi prioritas. Upaya preventif akan lebih efektif karena terdiri dari langkah-langkah untuk menghapus sebab-sebab yang menumbuhsuburkan kejahatan.

Dalam Kongres ke-8 PBB tahun 1990 di Havana, Cuba, diidentifikasikan faktor-faktor kondusif penyebab terjadinya kejahatan (khususnya dalam masalah "urban crime"). Pertama, Kemiskinan, pengangguran, kebutahurufan (kebodohan), ketiadaan/kekurangan perumahan yang layak dan sistem pendidikan serta latihan yang tidak cocok/serasi; Kedua, meningkatnya jumlah penduduk yang tidak mempunyai prospek (harapan) karena proses integrasi sosial, juga karena memburuknya ketimpangan-ketimpangan sosial; Ketiga, mengendurnya ikatan sosial dan keluarga; Keempat, keadaan-keadaan/kondisi yang menyulitkan bagi orang-orang yang beremigrasi ke kota-kota/ke negara-negara lain; Kelima, rusaknya/hancurnya identitas budaya asli, yang bersamaan dengan adanya rasisme dan diskriminasi menyebabkan kerugian/kelemahan dibidang sosial, kesejahteraan clan lingkungan pekerjaan; Keenam, menurun/mundurnya (kualitas) lingkungan perkotaan yang mendorong peningkatan kejahatan dan berkurangnya pelayanan bagi tempat-tempat fasilitas lingkungan/bertetangga; Ketujuh, kesulitan-kesulitan bagi orang-orang dalam masyarakat modern untuk berintegrasi sebagaimana mestinya didalam lingkungan masyarakatnya, keluarganya, tempat kerjanya atau lingkungan sekolahnya; Kedelapan, penyalahgunaan alkohol, obat bius dll yang pemakaiannya juga diperlukan karena faktor-faktor yang disebut diatas; Kesembilan, meluasnya aktivitas kejahatan terorganisasi, khususnya perdagangan obat bius dan penadahan barang-barang curian; Kesepuluh, dorongan-dorongan (khususnya oleh mass media) mengenai ide-ide dan sikap sikap yang mengarah pada tindakan kekerasan, ketidaksamaan (hak) atau sikap-sikap tidak toleransi. Selama kesepuluhnya masih ada, maka kita akan terus memproduksi kejahatan. Oleh karenanya, dibutuhkan kerjasama semua institusi terkait plus partisipasi masyarakat untuk mengatasinya, bukan hanya tugas aparat penegak hukum. Mari bersama mencegah kejahatan.

Opini Bangkapos, 15 Mei 2013







Penulis : Dwi Haryadi
Dosen FH UBB dan Aktif di Ilalang Institute






UBB Perspectives

Hulu Hilir Menekan Overcrowded

Penguatan Gakkumdu untuk Mengawal Pesta Demokrasi Berkualitas

Carbon Offset : Blue Ocean dan Carbon Credit

Hari Lingkungan Hidup: Akankah Lingkungan “Bisa” Hidup Kembali?

Juga Untuk Periode Berikut

Untuk Periode Berikut

Stereotipe Pendidikan Feminis

Urgensi Perlindungan Hukum Dan Peran Pemerintah Dalam Menangani Pekerja Anak Di Sektor Pertambangan Timah

Isolasi dan Karakterisasi Bakteri Asam Laktat Asal Ikan Mujair (Oreochromis mossambicus) yang Berpotensi Sebagai Probiotik

Pemanfaatan Biomikri dalam Perlindungan Lingkungan: Mengambil Inspirasi dari Alam Untuk Solusi Berkelanjutan

FAKTOR POLA ASUH DALAM TUMBUH KEMBANG ANAK

MEMANFAATKAN POTENSI NUKLIR THORIUM DI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG : PELUANG DAN DAMPAK LINGKUNGAN

Pengaruh Sifat Fisika, Kimia Tambang Timah Terhadap Tingkat Kesuburan Tanah di Bangka Belitung

Akuntan dan Jurnalis: Berkolaborasi Dalam Optimalisasi Transparan dan Pertanggungjawaban

Sustainable Tourism Wisata Danau Pading Untuk Generasi Z dan Alpa

Perlunya Revitalisasi Budaya Lokal Nganggung di Bangka Belitung

Semangat PANDAWARA Group: Dari Sungai Kotor hingga Eksis di Media Sosial

Pengaruh Pembangunan Produksi Nuklir pada Wilayah Beriklim Panas

Pendidikan dan Literasi: Mulailah Merubah Dunia Dari Tindakan Sederhana

Mengapa APK Perguruan Tinggi di Babel Rendah ?

Dekonstruksi Cara Pikir Oposisi Biner: Mengapa Perlu?

PENINGKATAN KUALITAS PELAYANAN PUBLIK DENGAN ASAS GOOD GOVERNANCE

UMP Bangka Belitung Naik, Payung Hukum Kesejahteraan Pekerja atau Fatamorgana Belaka?

Membangun Kepercayaan dan Kesadaran Masyarakat Dalam Membayar Pajak Melalui Peningkatan Kualitas Pelayanan Serta Transparansi Alokasi Pajak

Peran Generasi Z di Pemilu 2024

Pemilu Serentak 2024 : Ajang Selebrasi Demokrasi Calon Insan Berdasi

Menelusuri Krisis Literasi Paradigma dan Problematik di Bumi Bangka Belitung

Peran Pemerintah Terhadap Pemenuhan Kebutuhan Protein Hewani Melalui Pemanfaatan Probiotik dalam Sistem Integrasi Sapi dan Kelapa Sawit (Siska)

TIMAH “BERPERI”

Jasa Sewa Pacar: Betulkah Menjadi sebuah Solusi?

Peran Sosial dan Politis Dukun Kampong

Mahasiswa dan Masalah Kesehatan Mental

Analogue Switch-off era baru Industri pertelevisian Indonesia

Di Era Society 50 Mahasiswa Perlu Kompetensi SUYAK

HUT ke-77 Kemerdekaan Republik Indonesia, sudah merdekakah kita?

Pemblokiran PSE, Pembatasan Kebebasan Berinternet?

Jalan Ketiga bagi Sarjana

Pentingnya Pemahaman Moderasi Beragama Pada Mahasiswa di Perguruan Tinggi Umum

SOCIAL MAPPING SEBAGAI SOLUSI TATA KELOLA SUMBER DAYA ALAM

Bisnis Digital dan Transformasi Ekonomi

Merebut Hati Gen Z

Masyarakat Tontonan dan Risiko Jenis Baru

Penelitian MBKM Mahasiswa Biologi

PEREMPUAN DI SEKTOR PERTAMBANGAN TIMAH (Refleksi atas Peringatan Hari Kartini 21 April 2022)

Kiat-kiat Menjadi “Warga Negara Digital” yang Baik di Bulan Ramadhan

PERANG RUSIA VS UKRAINA, NETIZEN INDONESIA HARUS BIJAKSANA

Kunci Utama Memutus Mata Rantai Korupsi

Xerosere* Bangka dan UBB

Pengelolaan Sumber Daya Air yang Berkelanjutan

SI VIS PACEM PARABELLUM, INDONESIA SUDAH SIAP ATAU BELUM?

RELASI MAHA ESA DAN MAHASISWA (Refleksi terhadap Pengantar Mata Kuliah Pendidikan Agama Islam di Perguruan Tinggi Umum)

KONKRETISASI BELA NEGARA SEBAGAI LANGKAH PREVENTIF MENGHADAPI PERANG DUNIA

Memaknai Sikap OPOSISI ORMAWA terhadap Birokrasi Kampus

Timah, Kebimbangan yang Tak akan Usai

Paradigma yang Salah tentang IPK dan Keaktifan Berorganisasi

Hybrid Learning dan Skenario Terbaik

NEGARA HARUS HADIR DALAM PERLINDUNGAN EKOLOGI LINGKUNGAN

Mental, Moral dan Intelektual: Menakar Muatan Visi UBB dalam Perspektif Filsafat Pierre Bourdieu

PEMBELAJARAN TATAP MUKA DAN KESIAPAN

Edukasi Kepemimpinan Milenial versus Disintegrasi

Membangun Kepemimpinan Pendidikan di Bangka Belitung Berbasis 9 Elemen Kewarganegaraan Digital

Menuju Kampus Cerdas, Ini yang Perlu Disiapkan UBB

TI RAJUK SIJUK, DIANTARA KESEMPATAN YANG TERSEDIA

TATAP MUKA

Mengimajinasikan Dunia Setelah Pandemi Usai

MENJAGA(L) LINGKUNGAN HIDUP

STOP KORUPSI !

ILLEGAL MINING TIMAH (DARI HULU SAMPAI HILIR)

KARAKTER SEPERADIK

SELAMAT BEKERJA !!!

ILLEGAL MINING

Pers dan Pesta Demokrasi

PERTAMBANGAN BERWAWASAN LINGKUNGAN

GENERASI (ANTI) KORUPSI

KUDETA HUKUM

Inflasi Menerkam Masyarakat Miskin Semakin Terjepit

NETRALITAS DAN INTEGRITAS PENYELENGGARA PEMILU

Siapa Penjarah dan Perampok Timah ???

Potret Ekonomi Babel

Dorong Kriminogen

Prinsip Pengelolaan SDA

Prostitusi Online

Menjaga Idealisme dan Kemandirian Pers

JUAL BELI BERITA

POLITIK RAKYAT DAN TANGGUNG JAWAB PEMIMPIN

Penelitian Rumpon Cumi Berhasil di Perairan Tuing, Pulau Bangka

Budidaya Ikan Hias Laut

Gratifikasi, Hati-Hatilah Menerima Sesuatu

KEPUASAN HUKUM

JANGAN SETOR KE APARAT

JAKSA TIPIKOR SEMANGAT TINGGI