+62 (0717) 422145 Senin-Jumat: 07.30 - 16.00 WIB
Link Penting UBB

Artikel UBB

Universitas Bangka Belitung's Article
22 Desember 2021 | 11:33:35 WIB


TI RAJUK SIJUK, DIANTARA KESEMPATAN YANG TERSEDIA


Ditulis Oleh : Dwi Haryadi (Dosen Fakultas Hukum UBB)

Seolah adegan film perang dimasa lalu ada ratusan armada laut yang bersusun lengkap dengan pasukan dan bombardir yang jangkauan tembakannya bisa meluluhlantakan pulau yang menjadi target. Bedanya, yang terjadi dilaut Munsang Sijuk, Belitung, ada puluhan ponton TI Rajuk yang mengganggu kejernihan birunya laut, jadi ancaman bagi pesona terumbukarang, terganggunya zona tangkapan nelayan, potensi melebar kekawasan wisata, pemicu konflik horisontal antara nelayan, penambang dan pelaku wisata. 

Mengutip Teori Kriminologi Routine Activity milik Felson dan Cohen, bahwasanya kriminalitas itu normal dan dan bergantung pada kesempatan-kesempatan yang tersedia. Teori ini berdiri di atas tiga argumentasi, yakni motivated offenders, suitable targets and the absence of capable guardians. Mari cerna satu persatu tiga argumentasi di atas terhadap yang terjadi dipesisir Munsang. 

Pertama, motivasi pelaku. Bicara motivasi tentu alasan ekonomi, perut, minim lapangan pekerjaan dan kawan-kawannya selalu muncul dibelakang tambang ilegal. Ekonomi jadi kambing hitam klasik tetapi tetap hadir sebagai penyebab kejahatan diabad digital. Bahkan oleh beberapa pihak ada yang coba membenarkannya sebagai rational choice atau pilihan rasional hari ini dan bawa-bawa dampak pandemi. Jangan-jangan pembenaran itu hanya jalan pintas, jalur pragmatisme ditengah pemimpin belum optimal menggenjot sumberdaya lain yang ada dan jadi sumber ekonomi warganya. Tapikan timah juga anugerah yang Kuasa untuk kita. Betul, tetapi syarat dan ketentuan berlaku. Menambang sesuai zonanya, berizin, terapkan K3, bayar pajak/royalty dengan sungguh-sungguh, lakukan serius reklamasi  dan harus mensejahterakan semuanya. Jangan segelintir saja. Disaat laut Belitung sudah dicatat dengan tinta emas sebagai zero tambang, artinya jadi komitmen bersama. Semuanya, tidak boleh ada satu mahklukpun yang mengganggunya. Jika ada, maka harus siap berhadapan dengan suara-suara kritis yang tidak akan pernah diam. Komitmen kuat ini harus terus terjaga demi lestarinya laut kita.

Kembali keurusan perut tadi, motivasi pelaku menurut Felson dan Cohen sebenarnya tidak lagi berbasis pada kemiskinan, pengangguran dan lain-lain yang selama ini sering kita bicarakan. Tetapi lebih kepada melihat kesempatan yang ada di depan mata seperti laut yang membentang dengan timah didalamnya, wilayah yang jauh dari jangkauan publik, imbalan yang seimbang, sarana prasarana yang tersedia, BBM yang mudah, dan lain sebagainya. Kemudian, yang harus kita sadari juga, urusan perut akar rumput yang selalu digambar gemborkan itu sesungguhnya hanya kamuflase guna kepentingan ekonomi elit/pemodal. Kenapa demikian, karena tidak mungkin hasil TI Rajuk langsung diekspor oleh saudara-saudara kita penambang, tetapi ia berlanjut ke tangan demi tangan berikutnya sehingga sampailah ia kenegri orang dengan harga yang berlipat-lipat. Jadi bicara motivasi pelaku, jangan putus dilevel penambang tetapi juga motivasi yang menjadi penampung dan seterusnya dihilir.

Kedua, target yang tepat. Selalu ada rasionalisasi bahwa yang ada diperut bumi ini bisa kita eksploitasi semuanya. Akibatnya timah yang melimpah dilaut karena sudah habis didarat menjadi target yang tepat. Dimanapun, kapanpun, digali dan digali, termasuk dikawasan Hutan Lindung Pantai di Munsang ini. Kawasan reklamasi pun tidak luput digali lagi. Dengan pembenaran tersebut, ditambah sebagai penganut antroposentris dimana kepentingan manusia lebih utama dari sekitarnya termasuk lingkungan, maka sah-sah saja eksploitasi dilakukan dengan mengabaikan lingkungan. Target yang tepat juga terjadi karena harga timah yang melambung dan lokasinya jauh dari perhatian publik. Padahal diera dunia maya, apa yang terjadi dilubang semut pun kita bisa dengan cepat viral. Oleh karenanya, kontrol publik sangat penting. Karena lengah sedikit menjadi pembuka kesempatan melakukan pelanggaran/kejahatan.

Ketiga, ketidakhadiran atau lemahnya pengawasan dan penegakan hukum dari pihak yang berwenang. Lemahnya aspek ini akan menjadi pemicu yang luar biasa kriminalitas dan bisa mengarah kepada masyarakat tanpa norma. Disaat tidak ada penegakan hukum terhadap kriminalitas sekecil apapun maka sama saja membiasakan yang salah menjadi benar. Hari ini di Munsang dan besok bisa dimana-mana. Syukurnya ada respon cepat dari tim gabungan yang langsung datang kelokasi meskipun hanya menemukan beberapa mesin dan areal bekas tambang yang merusak kawasan hutan bakau tanpa ada satupun pelaku yang ditangkap. Kita apresiasi, namun tentu tidak cukup sampai disitu. Kiranya tidak sulit ya pagi penegak hukum dan kita sangat percaya dengan kemampuannya untuk menemukan penambang termasuk menyentuh aktor-aktor dibelakangnya. Komitmen pemerintah daerah dan penegak hukum penting agar hal serupa tidak terulang, sehingga kasus Munsang jadi yang pertama dan terakhir di laut Belitung. Jikapun kedua faktor diatas, motivasi pelaku dan target yang tepat selalu muncul sesuai dinamika sosial masyarakat, namun dengan komitmen pemerintah daerah, penegakan hukum dan konstrol sosial dari publik yang kuat maka faktor pemicu yang ketiga sudah tidak ada dan kasus Munsang-Munsang berikutnya tidak berani lagi menunjukan batang hidungnya.



UBB Perspectives

Carbon Offset : Blue Ocean dan Carbon Credit

Hari Lingkungan Hidup: Akankah Lingkungan “Bisa” Hidup Kembali?

Juga Untuk Periode Berikut

Untuk Periode Berikut

Stereotipe Pendidikan Feminis

Urgensi Perlindungan Hukum Dan Peran Pemerintah Dalam Menangani Pekerja Anak Di Sektor Pertambangan Timah

Isolasi dan Karakterisasi Bakteri Asam Laktat Asal Ikan Mujair (Oreochromis mossambicus) yang Berpotensi Sebagai Probiotik

Pemanfaatan Biomikri dalam Perlindungan Lingkungan: Mengambil Inspirasi dari Alam Untuk Solusi Berkelanjutan

FAKTOR POLA ASUH DALAM TUMBUH KEMBANG ANAK

MEMANFAATKAN POTENSI NUKLIR THORIUM DI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG : PELUANG DAN DAMPAK LINGKUNGAN

Pengaruh Sifat Fisika, Kimia Tambang Timah Terhadap Tingkat Kesuburan Tanah di Bangka Belitung

Akuntan dan Jurnalis: Berkolaborasi Dalam Optimalisasi Transparan dan Pertanggungjawaban

Sustainable Tourism Wisata Danau Pading Untuk Generasi Z dan Alpa

Perlunya Revitalisasi Budaya Lokal Nganggung di Bangka Belitung

Semangat PANDAWARA Group: Dari Sungai Kotor hingga Eksis di Media Sosial

Pengaruh Pembangunan Produksi Nuklir pada Wilayah Beriklim Panas

Pendidikan dan Literasi: Mulailah Merubah Dunia Dari Tindakan Sederhana

Mengapa APK Perguruan Tinggi di Babel Rendah ?

Dekonstruksi Cara Pikir Oposisi Biner: Mengapa Perlu?

PENINGKATAN KUALITAS PELAYANAN PUBLIK DENGAN ASAS GOOD GOVERNANCE

UMP Bangka Belitung Naik, Payung Hukum Kesejahteraan Pekerja atau Fatamorgana Belaka?

Membangun Kepercayaan dan Kesadaran Masyarakat Dalam Membayar Pajak Melalui Peningkatan Kualitas Pelayanan Serta Transparansi Alokasi Pajak

Peran Generasi Z di Pemilu 2024

Pemilu Serentak 2024 : Ajang Selebrasi Demokrasi Calon Insan Berdasi

Menelusuri Krisis Literasi Paradigma dan Problematik di Bumi Bangka Belitung

Peran Pemerintah Terhadap Pemenuhan Kebutuhan Protein Hewani Melalui Pemanfaatan Probiotik dalam Sistem Integrasi Sapi dan Kelapa Sawit (Siska)

TIMAH “BERPERI”

Jasa Sewa Pacar: Betulkah Menjadi sebuah Solusi?

Peran Sosial dan Politis Dukun Kampong

Mahasiswa dan Masalah Kesehatan Mental

Analogue Switch-off era baru Industri pertelevisian Indonesia

Di Era Society 50 Mahasiswa Perlu Kompetensi SUYAK

HUT ke-77 Kemerdekaan Republik Indonesia, sudah merdekakah kita?

Pemblokiran PSE, Pembatasan Kebebasan Berinternet?

Jalan Ketiga bagi Sarjana

Pentingnya Pemahaman Moderasi Beragama Pada Mahasiswa di Perguruan Tinggi Umum

SOCIAL MAPPING SEBAGAI SOLUSI TATA KELOLA SUMBER DAYA ALAM

Bisnis Digital dan Transformasi Ekonomi

Merebut Hati Gen Z

Masyarakat Tontonan dan Risiko Jenis Baru

Penelitian MBKM Mahasiswa Biologi

PEREMPUAN DI SEKTOR PERTAMBANGAN TIMAH (Refleksi atas Peringatan Hari Kartini 21 April 2022)

Kiat-kiat Menjadi “Warga Negara Digital” yang Baik di Bulan Ramadhan

PERANG RUSIA VS UKRAINA, NETIZEN INDONESIA HARUS BIJAKSANA

Kunci Utama Memutus Mata Rantai Korupsi

Xerosere* Bangka dan UBB

Pengelolaan Sumber Daya Air yang Berkelanjutan

SI VIS PACEM PARABELLUM, INDONESIA SUDAH SIAP ATAU BELUM?

RELASI MAHA ESA DAN MAHASISWA (Refleksi terhadap Pengantar Mata Kuliah Pendidikan Agama Islam di Perguruan Tinggi Umum)

KONKRETISASI BELA NEGARA SEBAGAI LANGKAH PREVENTIF MENGHADAPI PERANG DUNIA

Memaknai Sikap OPOSISI ORMAWA terhadap Birokrasi Kampus

Timah, Kebimbangan yang Tak akan Usai

Paradigma yang Salah tentang IPK dan Keaktifan Berorganisasi

Hybrid Learning dan Skenario Terbaik

NEGARA HARUS HADIR DALAM PERLINDUNGAN EKOLOGI LINGKUNGAN

Mental, Moral dan Intelektual: Menakar Muatan Visi UBB dalam Perspektif Filsafat Pierre Bourdieu

PEMBELAJARAN TATAP MUKA DAN KESIAPAN

Edukasi Kepemimpinan Milenial versus Disintegrasi

Membangun Kepemimpinan Pendidikan di Bangka Belitung Berbasis 9 Elemen Kewarganegaraan Digital

Menuju Kampus Cerdas, Ini yang Perlu Disiapkan UBB

TATAP MUKA

Mengimajinasikan Dunia Setelah Pandemi Usai

MENJAGA(L) LINGKUNGAN HIDUP

STOP KORUPSI !

ILLEGAL MINING TIMAH (DARI HULU SAMPAI HILIR)

KARAKTER SEPERADIK

SELAMAT BEKERJA !!!

ILLEGAL MINING

Pers dan Pesta Demokrasi

PERTAMBANGAN BERWAWASAN LINGKUNGAN

GENERASI (ANTI) KORUPSI

KUDETA HUKUM

Inflasi Menerkam Masyarakat Miskin Semakin Terjepit

NETRALITAS DAN INTEGRITAS PENYELENGGARA PEMILU

Siapa Penjarah dan Perampok Timah ???

Memproduksi Kejahatan

Potret Ekonomi Babel

Dorong Kriminogen

Prinsip Pengelolaan SDA

Prostitusi Online

Menjaga Idealisme dan Kemandirian Pers

JUAL BELI BERITA

POLITIK RAKYAT DAN TANGGUNG JAWAB PEMIMPIN

Penelitian Rumpon Cumi Berhasil di Perairan Tuing, Pulau Bangka

Budidaya Ikan Hias Laut

Gratifikasi, Hati-Hatilah Menerima Sesuatu

KEPUASAN HUKUM

JANGAN SETOR KE APARAT

JAKSA TIPIKOR SEMANGAT TINGGI

Perairan Tuing, Benteng Sumberdaya Perikanan Laut di Kabupaten Bangka

GRAND DESIGN KEPENDUDUKAN (Refleksi Hari Penduduk Dunia)