+62 (0717) 422145 Senin-Jumat: 07.30 - 16.00 WIB
Link Penting UBB

Artikel UBB

Universitas Bangka Belitung's Article
19 Desember 2022 | 17:01:52 WIB


TIMAH “BERPERI”


Ditulis Oleh : Hera Safitri

Mahasiswi Sosiologi UBB

Bangka Belitung merupakan wilayah pertambangan timah terbesar di Indonesia. Tak hanya itu, Bangka Belitung juga merupakan penghasil timah terbanyak ke 2 di dunia setelah China. Pertambangan timah di Bangka Belitung ini telah dilakukan sejak ratusan tahun lalu, yaitu sejak tahun 1711 (bappeda.babelprov.go.id , 2015). Sampai saat ini pertambangan timah atau yang sering disebut dengan Tambang Inkonvensional (TI) masih ada dan tetap berjalan. Sebanyak 24,37 % masyarakat Bangka Belitung berkerja sebagai penambang timah (disnaker.babelprov.go, 2022). PDRB [Produk Domestik Regional Bruto] timah menyumbang 40% dari total PAD [Pendapatan Asli Daerah] Provinsi Babel. Menurut Suci Lestari (dalam Mongabay.co.id, 2020) dalam kondisi wabah COVID-19 saat ini, sektor perkebunan dan pariwisata mengalami penurunan drastis. Sektor pertambangan, khususnya timah juga mengalami sedikit penurunan namun tidak sebagaimana pariwisata. 


Ketika berbicara realitas pertambangan timah di Bangka Belitung, ada satu kearifan lokal yang menarik untuk diulas. Apalagi, menurut penulis belum banyak orang yang mengangkat isu soal kearifan lokal tersebut menjadi sebuah tulisan. Kearifan lokal yang dimaksud di sini adalah kepercayaan masyarakat penambang di Bangka Belitung mengenai “Timah Berperi”. Salah satu wilayah di Babel yang penambangnya meyakini soal “Timah Berperi” ini adalah masyarakat tambang di Desa Jebus, Bangka Barat. 


Timah Berperi adalah proses perjalanan pembentukan timah yang semulanya kopong (tidak berisi) menjadi berisi dan bernilai jual.  Proses pembentukan timah yang semuanya kopong atau tidak berisi dan menjadi nilai jual dapat dilakukan dengan cara ritual taber menggunakan beras yang dihaluskan dan ditambah dengan minyak duyung, kemudia dibaca ayat-ayat suci Al Quran, lalu dipercikkan ke mesin-mesin dan ponton ( sakan ) tambang timah tersebut. Berhasil atau tidaknya itu, para penambang percaya bahwa semuanya atas izin Tuhan. Kemudian,setelah melakukan ritual taber, para penambang tidak diperbolehkan untuk menambang selama satu hari. Para penambang timah ini percaya bahwa setelah mereka melakukan ritual taber tadi, peri-peri timah akan mendekatkan ponton (sakan) yang telah mereka taber dan tidak boleh diganggu. Peri-peri akan melakukan pemberatan atau pengisian timah yang kopong menjadi berisi dan bernilai jual.


Berdasarkan info dari salah satu kepala desa di Kecamatan Jebus, bahwa mayoritas penambang di sana percaya adanya timah berperi. Kepercayaan timah berperi ini sudah ada sejak zaman nenek moyang terdahulu, dan sampai sekarang masyarakat tambang timah masih mempertahankan kepercayaan timah berperi. Menurut tokoh-tokoh masyarakat dan juru kunci di jebus, timah berperi benar-benar memiliki peri. Mereka menganggap bahwa semua timah di Bangka Belitung ini memiliki peri timah. Jika tidak memiliki peri timah, maka timah tersebut akan kopong dan tak berisi. 


Peri timah ini berjumlah 7 peri antara lain yaitu Peri Seling Angin, Peri Pasir, Peri Lecah, Peri Lompor, Peri Lukong, Peri Kung Lumot, dan Peri Triangin. Peri Seling Angin ini adalah peri yang paling jahat dalam pembentukan timah. Menurut Kepala Suku Adat Unar (Jebus, Bangka Barat), Peri Seling Angin inilah yang membuat timah tidak bernilai jual atau kopong. Sementara peri pasir merupakan pemimpin atau ketua peri timah yang paling kuat dan peri yang paling baik.


Menurut masyarakat tambang khususnya di daerah Jebus, TI merupakan bagian terpenting dalam kehidupan mereka karena dapat memberikan dampak positif yang dirasakan oleh masyarakat. Dengan adanya sumber daya timah, masyarakat merasa perekonomian mereka  menjadi meningkat secara drastis. Kemudian mereka sangat percaya bahwasannya timah itu tidak akan ada habisnya. Kepercayaan ini bukan tidak berdasar, sebab para penambang melihat fakta lapangannya secara langsung bahwa timah di area tambang yang ada di jebus tidak pernah mengalami kelangkaan. Walaupun kolong-kolong sebelumnya yang sudah pernah ditambang dan diambil timah nya, tetap saja masih ada dan tak akan habis selagi peri timah itu masih ada. 


Secara pengetahuan umum, timah adalah sumber daya alam yang tidak bisa diperbarui. Dan tidak mengenal istilah timah peri yang identic dengan hal-hal gaib. Sedangkan pengetahuan masyarakat lokal yang kita sebut sebagai kearifan lokal, timah merupakan sumber daya alam yang tidak akan ada habisnya karena timah tersebut memiliki peri yang dapat membantu perbaikan timah yang semulanya hanya pasir. Pengetahuan yang dimiliki oleh sains atau ilmu pengetahuan tentang timah itu memberikan semacam implikasi positif untuk lingkungan sekitar tambang. Apalagi ilmu pengetahuan saat ini sedang berkembang dan dipercayai banyak orang. Namun hal ini bukan berarti pengetahuan lokal itu akan kita lupakan atau kita singkirkan dan kita anggap suatu hal yang primitif. Itu sangat tidak bijak. Oleh karena itu, masyarakat lokal harus mendapatkan semacam pengetahuan alternatif dari ilmu pengetahuan tentang timah, bahwasannya timah itu akan habis, tidak dapat diperbaharui, dan kalau ditambang terus-menerus dapat merusak lingkungan.
 



UBB Perspectives

Peran Pemerintah Terhadap Pemenuhan Kebutuhan Protein Hewani Melalui Pemanfaatan Probiotik dalam Sistem Integrasi Sapi dan Kelapa Sawit (Siska)

Jasa Sewa Pacar: Betulkah Menjadi sebuah Solusi?

Peran Sosial dan Politis Dukun Kampong

Mahasiswa dan Masalah Kesehatan Mental

Analogue Switch-off era baru Industri pertelevisian Indonesia

Di Era Society 50 Mahasiswa Perlu Kompetensi SUYAK

HUT ke-77 Kemerdekaan Republik Indonesia, sudah merdekakah kita?

Pemblokiran PSE, Pembatasan Kebebasan Berinternet?

Jalan Ketiga bagi Sarjana

Pentingnya Pemahaman Moderasi Beragama Pada Mahasiswa di Perguruan Tinggi Umum

SOCIAL MAPPING SEBAGAI SOLUSI TATA KELOLA SUMBER DAYA ALAM

Bisnis Digital dan Transformasi Ekonomi

Merebut Hati Gen Z

Masyarakat Tontonan dan Risiko Jenis Baru

Penelitian MBKM Mahasiswa Biologi

PEREMPUAN DI SEKTOR PERTAMBANGAN TIMAH (Refleksi atas Peringatan Hari Kartini 21 April 2022)

Kiat-kiat Menjadi “Warga Negara Digital” yang Baik di Bulan Ramadhan

PERANG RUSIA VS UKRAINA, NETIZEN INDONESIA HARUS BIJAKSANA

Kunci Utama Memutus Mata Rantai Korupsi

Xerosere* Bangka dan UBB

Pengelolaan Sumber Daya Air yang Berkelanjutan

SI VIS PACEM PARABELLUM, INDONESIA SUDAH SIAP ATAU BELUM?

RELASI MAHA ESA DAN MAHASISWA (Refleksi terhadap Pengantar Mata Kuliah Pendidikan Agama Islam di Perguruan Tinggi Umum)

KONKRETISASI BELA NEGARA SEBAGAI LANGKAH PREVENTIF MENGHADAPI PERANG DUNIA

Memaknai Sikap OPOSISI ORMAWA terhadap Birokrasi Kampus

Timah, Kebimbangan yang Tak akan Usai

Paradigma yang Salah tentang IPK dan Keaktifan Berorganisasi

Hybrid Learning dan Skenario Terbaik

NEGARA HARUS HADIR DALAM PERLINDUNGAN EKOLOGI LINGKUNGAN

Mental, Moral dan Intelektual: Menakar Muatan Visi UBB dalam Perspektif Filsafat Pierre Bourdieu

PEMBELAJARAN TATAP MUKA DAN KESIAPAN

Edukasi Kepemimpinan Milenial versus Disintegrasi

Membangun Kepemimpinan Pendidikan di Bangka Belitung Berbasis 9 Elemen Kewarganegaraan Digital

Menuju Kampus Cerdas, Ini yang Perlu Disiapkan UBB

TI RAJUK SIJUK, DIANTARA KESEMPATAN YANG TERSEDIA

TATAP MUKA

Mengimajinasikan Dunia Setelah Pandemi Usai

MENJAGA(L) LINGKUNGAN HIDUP

STOP KORUPSI !

ILLEGAL MINING TIMAH (DARI HULU SAMPAI HILIR)

KARAKTER SEPERADIK

SELAMAT BEKERJA !!!

ILLEGAL MINING

Pers dan Pesta Demokrasi

PERTAMBANGAN BERWAWASAN LINGKUNGAN

GENERASI (ANTI) KORUPSI

KUDETA HUKUM

Inflasi Menerkam Masyarakat Miskin Semakin Terjepit

NETRALITAS DAN INTEGRITAS PENYELENGGARA PEMILU

Siapa Penjarah dan Perampok Timah ???

Memproduksi Kejahatan

Potret Ekonomi Babel

Dorong Kriminogen

Prinsip Pengelolaan SDA

Prostitusi Online

Menjaga Idealisme dan Kemandirian Pers

JUAL BELI BERITA

POLITIK RAKYAT DAN TANGGUNG JAWAB PEMIMPIN

Penelitian Rumpon Cumi Berhasil di Perairan Tuing, Pulau Bangka

Budidaya Ikan Hias Laut

Gratifikasi, Hati-Hatilah Menerima Sesuatu

KEPUASAN HUKUM

JANGAN SETOR KE APARAT

JAKSA TIPIKOR SEMANGAT TINGGI

Perairan Tuing, Benteng Sumberdaya Perikanan Laut di Kabupaten Bangka

GRAND DESIGN KEPENDUDUKAN (Refleksi Hari Penduduk Dunia)

Berebut Kursi Walikota

Kenalkan Bangka Belitung dengan Foto !

Demokrasi yang Tersandera

Pamor Rajendra

DNSChanger dan Kiamat Kecil Internet

MARI DISIPLIN BERLALU LINTAS

Radiasi Perlu Diteliti

Kebablasan Otonomi Daerah : Obral Izin Pertambangan

TIMAH PENCABUT NYAWA

Labelling

Penegakan Perda Tambang Lemah

Gratifikasi = Suap

Bukan Berarti Sudah Sejahtera

Tips Menjadi Jurnalis Online Sejati

Ujian (Nasional) Kejujuran

Bukan Politis

Saatnya Mencontoh Sumber Energi Alternatif Brazil

LEGOWO DAN BERSATU MEMBANGUN BABEL

Aspek Hukum Hibah dan Bansos

Pengawasan Senjata Api

Gelatin Tulang Rawan Ikan Hiu

MERAMU PAKAN IKAN LELE

Tak Etis Sembako Naik

Berharap Gubernur Baru Babel Pro Perikanan

Aquaculture's Never Ending