+62 (0717) 422145 Senin-Jumat: 07.30 - 16.00 WIB
Link Penting UBB

Artikel UBB

Universitas Bangka Belitung's Article
01 Maret 2023 | 22:09:51 WIB


Menelusuri Krisis Literasi Paradigma dan Problematik di Bumi Bangka Belitung


Ditulis Oleh : Kresnawati

 

Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Bangka Belitung

Bangka belitung merupakan daerah kepulauan yang terdiri dari dua pulau Bangka dan pulau Belitung. Dengan kekayaan alam yang masih terjaga tentu saja menjadikan Bangka Belitung sebagai tempat untuk bersinggah dikalah Lelah. Bangka Belitung dapat dijadikan tujuan wisata pada saat akhir pekan hingga libur tahunan. Dengan sejuta keindahan alam yang ditawarkan tentu saja didalamnya tidak terlepas dari dukungan Sumber Daya Manusia yang berkualitas dan berintegritas. 

Terlepas dari semua keindahan yang di tawarkan oleh Kepulauan Bangka Belitung, tentu saja didalamnya tidak terlepas dari problematik yang senantia mendampinginya. Untuk mengatasi berbagai fenomena-fenomena realistis di dalamnya dibutuhkan pembentukan Sumber Daya Manusia yang berkualitas tentu aja Masyarakat menjadi peran utama. dengan adanya partisipasi masyarakat tentu saja hal ini akan mendukungan pembangunan yang berkelanjutan secara optimal. Salah satu faktor pendukung pembangunan berkelanjutakan tentu saja melalui Pendidikan. Pendidikan dapat dijadikan pilar utama  dalam pengembangan Sumber Daya Manusia.

Dewasa ini, Minimnya literasi di tengah masyarakat menjadi hal yang seharusnya perlu di perhatian, apalagi sebagian modal persiapan menuju Indonesia emas 2045. Budaya membaca merupakan salah satu hal yang penting dalam membangun peradaban bangsa, akan tetapi sangat disayangkan sekali masyarakat khusus remaja saat ini lebih tertarik dengan gadget ketimbang membaca buku. Padahal buku merupakan salah satu gudang ilmu.

Padahal jika kita mengikuti era perkembangan teknologi informasi, tentu saja berbagai kecanggihan Teknologi yang terus berkembang. Salah satu perkembangan teknologi yang dapat kita lihat saat ini  adanya buku yang berbasis eletronik atau yang dikenal e-book. Membaca tidak harus dari buku, akan tetapi bisa melalui gawai. Tentu saja jika kita perhatian membawa buku secara langsung dengan membaca melaui gawai akan menghasilkan esensi yang berbeda.

Tak hanya minimnya literasi, rasa ingin tahu tentang budaya juga semakin turun di kalangan masyarakat. Padahal para anak muda mempunyai peran yang sangat penting dalam meneruskan generasi bangsa. Tidak jarang para anak muda tidak mengetahui budaya leluhur yang ada di daerahnya sendiri. Para anak muda beranggapan cukup yang tua-tua saja yang paham akan tradisi dan budaya, lalu siapa yang akan meneruskan warisan yang ditinggalkan nantinya?

Dengan nimimnya minat literasi dan rasa mengenali budaya dikhawatirkan nantinya nilai-nilai estetika yang ada pada budaya leluhur akan luntur. Padahal rasa nasionalisme kebudayaan harus tetap terjaga agar tidak digeser oleh budaya asing. Menurut penulis, untuk menjaga keutuhan itu semua diperlukan partisipasi bersama, yang artinya tidak bisa jika hanya digerakan oleh satu kelompok saja apalagi oleh individu. Kita memerlukan kerja sama dalam menentukan nasib Bangka Belitung kedepannya mau seperti apa.

Untuk mencapai tujuan pembangunan berkelanjutkan, Pendidikan dapat dijadikan sebagai tiang sekaligus wadah untuk mencapainya. Melalui Pendidikan tentu saja hal membangun sinergi baru yang ada di masyarakat. Dengan adanya Literasi berkelanjutan hal ini dapat membaiki cara berpikir setiap individu di masyarakat. Individu yang menghabiskan waktunya untuk membaca dan menemukan ide-ide yang baru tentu saja berbeda dengan individu yang kerjaannya hanya rebahan atau hanya menikmati secangkir kopi di kafe-kafe dengan layar HP horizontal. Dengan membaca tentu saja akan meningkat keterampilan seseorang dan dapat memperdalam ilmu pengetahuan.

Untuk mencapai puncak pada Indonesia Emas 2045, tentu saja kita harus mempersiapkan segala upaya sebagai proses perbaruan. Membangun edukasi merupakan salah satu hal yang utama. Literasi digital dapat dijadikan sebagai media alternatif untuk menggerakkan semangat literasi. Setelah didukung oleh infrastuktur yang memadai tentu saja harus didampingi kesiapan mental. Dengan adannya kesiapan mental tentu saja akan membawah kita lebih bersinergi dalam menghadapu problematika yang akan terjadi nantinya. 

Dengan membaca buku tentu saja akan membuahkan hasil yang positif baik secara intelektual maupun secara spiritual. Apalagi membaca merupakan salah satu pengembangan Pendidikan yang lebih maju. Dengan adanya budaya literasi tentu saja akan membangun nilai-nilai  yang ada dimasyarakat, seperti moral, kejujuran, dan budi pekerti luhur, tentu saja jika nilai ini sudah tertanam di dalam masyarakat itu, nantinya Diharapan mampu membangun peradaban bangsa. 

Budaya literasi harusnya sudah ditanamkan sejak anak usia dini. Dengan bekal yang sudah disiapkan secara optimal tentu saja hal ini dapat dijadikan sebagai tonggak awal persiapan kita dalam menghadapi persaingan yang kian mendunia. Dengan pondasi literasi kebudayaan yang kokoh hal ini tentu saja hal ini juga dapat meningkatkan mental dan moral yang lebih seimbang. Hal ini juga dapat dijadikan sebagai topangan nilai ekonomi yang lebih stabil.

Tidak hanya mengandalkan Pendidikan formal untuk mewujudkan keberhasilan pembangunan berkelanjutan. Kita juga perlu mencari lebih dalam lagi dari berbagai sumber media untuk pemenuhan nilai dan norma yang dibutuhkan.  Untuk membangun literasi yang baik tentunya dibutuhkan komitmen dan kesadaran  yang kontekstual baik secara Sumber Daya Manusia, Sosial, Ekonomi, dan Budaya. Hal ini nantinya akan membangun pola pikir yang lebih kritis.

Tidak sedikit anak muda di Bangka Belitung memiliki minat literasi yang sangat rendah. Tentu saja hal ini menyita perhatian kita bersama. Kita harus lebih sigap dalam menanggapi hal ini. Tentu saja dengan adannya dukungan pemerintah daerah kita dapat mencari penyebab dan solusi rendahnya minat literasi anak muda. Anak muda mempunyai sumbangsih sebagai roda penggerak pembangunan berkelanjutan. Tentu saja jika hal ini terus dibiarkan akan akan menimbulkan akibat yang fatal ke depannya.

Dengan hadir FLP (Forum Lingkar Pena) di Bangka  Belitung, merupakan salah satu pelopor yang perlu di apresiasi, Forum Lingkar Pena (FLP) yang di bentuk di Bangka Belitung pada 28 Oktober 2021 lalu, terbilang masih berusia yang cukup dini. Tentu saja Forum Lingkar Pena (FLP)  ini nantinya diharapkan akan memberikan dampak yang positif Bangka Belitung. Forum Lingkar Pena (FLP) dapat dijadikan sebagai wadah bagi anak muda dibangka belitung untuk mengembangkan soft skill anak muda, apalagi yang ingin mempunyai basic seorang penulis. Akan tetapi sayang sekali minat anak muda untuk bergabung di Forum Lingkar Pena (FLP) masih bisa dihitung pakai jari. Penulis berharap, kedepannya lebih tinggi lagi minat anak  muda khususnya di Bangka Belitung terkait literasi dan budaya.

Menurut penulis, menulis harus diseimbangi dengan membaca. Tentu saja seorang penulis harus mempunyai minat literasi yang tinggi. apalagi literasi yang masih berkaitan dengan budaya, dengan demikian hal ini akan mendorong pembangunan yang berkelanjutan. Seorang penulis tentu saja membutuhkan ide-ide terbaru untuk dituangkan dalam tulisannya, hal ini bisa didapatkan dari membaca. 

Apalagi, penulis yang berasal dari Kepulauan Bangka Belitung terbilang masih sedikit, tentu saja dengan adanya adanya Forum Lingkar Pena (FLP)  nantinya akan melahirkan para penulis muda yang berasal dari kepulauan bangka Belitung, apalagi Forum Lingkar Pena (FLP) ini merupakan salah satu wadah yang dapat dijadikan sebagai ajang dakwah ditambahkan lagi Forum Lingkar Pena (FLP)  ini berbasis keislaman dengan berpedoman pada Al-Quran dan hadist. Dikutip dari databoks 89,99 % penduduk di Bangka Belitung mayoritas beragama Islam pada Juni 2021. Tentu saja, hal ini menjadi nilai plus Forum Lingkar Pena (FLP) sebagai  salah satu produktivitas dalam proses pembanguan Sumber Daya Manusia.

Apa lagi Forum Lingkar Pena (FLP)  ini tidak hanya lingkup nasional, tetapi juga Forum Lingkar Pena (FLP)  sudah ada di lingkup internasional, Forum Lingkar Pena (FLP)  yang berada di lingkup internasional sendiri di bangun oleh anak-anak muda Indonesia yang sedang menempuh pendidikan di luar negeri, tentu saja dengan hadirnya FLP ini mempunyai dampak yang positif bagi anak muda di Indonesia, dan sangat disayangkan sekali jika kesempatan ini disia-siakan. Jika bukan kita lalu siapa lagi yang akan melajutkan  nilai-nilai norma dan budaya yang telah dibangun oleh para leluhur.

BIODATA SINGKAT

Nama   : Kresnawati
TTl   : Tumbak, 26 Desember 2003
Agama  : Islam
Alamat  : Balunijuk
No HP  : 085378643531
Intagram  : @krsnawtiii
Moto Hidup  : Lihatlah kedepan karena disana ada mimpi dan harapan
Riwayat Pendidikan
1. SDN 3 Jebus
2. SMPN 2 Jebus
3. SMAN 1 Jebus Jurusan Ilmu Bahasan dan Budaya
4. Universitas Bangka Belitung Jurusan Hukum Fakultas Hukum
 



UBB Perspectives

Untuk Periode Berikut

Stereotipe Pendidikan Feminis

Urgensi Perlindungan Hukum Dan Peran Pemerintah Dalam Menangani Pekerja Anak Di Sektor Pertambangan Timah

Isolasi dan Karakterisasi Bakteri Asam Laktat Asal Ikan Mujair (Oreochromis mossambicus) yang Berpotensi Sebagai Probiotik

Pemanfaatan Biomikri dalam Perlindungan Lingkungan: Mengambil Inspirasi dari Alam Untuk Solusi Berkelanjutan

FAKTOR POLA ASUH DALAM TUMBUH KEMBANG ANAK

MEMANFAATKAN POTENSI NUKLIR THORIUM DI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG : PELUANG DAN DAMPAK LINGKUNGAN

Pengaruh Sifat Fisika, Kimia Tambang Timah Terhadap Tingkat Kesuburan Tanah di Bangka Belitung

Akuntan dan Jurnalis: Berkolaborasi Dalam Optimalisasi Transparan dan Pertanggungjawaban

Sustainable Tourism Wisata Danau Pading Untuk Generasi Z dan Alpa

Perlunya Revitalisasi Budaya Lokal Nganggung di Bangka Belitung

Semangat PANDAWARA Group: Dari Sungai Kotor hingga Eksis di Media Sosial

Pengaruh Pembangunan Produksi Nuklir pada Wilayah Beriklim Panas

Pendidikan dan Literasi: Mulailah Merubah Dunia Dari Tindakan Sederhana

Mengapa APK Perguruan Tinggi di Babel Rendah ?

Dekonstruksi Cara Pikir Oposisi Biner: Mengapa Perlu?

PENINGKATAN KUALITAS PELAYANAN PUBLIK DENGAN ASAS GOOD GOVERNANCE

UMP Bangka Belitung Naik, Payung Hukum Kesejahteraan Pekerja atau Fatamorgana Belaka?

Membangun Kepercayaan dan Kesadaran Masyarakat Dalam Membayar Pajak Melalui Peningkatan Kualitas Pelayanan Serta Transparansi Alokasi Pajak

Peran Generasi Z di Pemilu 2024

Pemilu Serentak 2024 : Ajang Selebrasi Demokrasi Calon Insan Berdasi

Peran Pemerintah Terhadap Pemenuhan Kebutuhan Protein Hewani Melalui Pemanfaatan Probiotik dalam Sistem Integrasi Sapi dan Kelapa Sawit (Siska)

TIMAH “BERPERI”

Jasa Sewa Pacar: Betulkah Menjadi sebuah Solusi?

Peran Sosial dan Politis Dukun Kampong

Mahasiswa dan Masalah Kesehatan Mental

Analogue Switch-off era baru Industri pertelevisian Indonesia

Di Era Society 50 Mahasiswa Perlu Kompetensi SUYAK

HUT ke-77 Kemerdekaan Republik Indonesia, sudah merdekakah kita?

Pemblokiran PSE, Pembatasan Kebebasan Berinternet?

Jalan Ketiga bagi Sarjana

Pentingnya Pemahaman Moderasi Beragama Pada Mahasiswa di Perguruan Tinggi Umum

SOCIAL MAPPING SEBAGAI SOLUSI TATA KELOLA SUMBER DAYA ALAM

Bisnis Digital dan Transformasi Ekonomi

Merebut Hati Gen Z

Masyarakat Tontonan dan Risiko Jenis Baru

Penelitian MBKM Mahasiswa Biologi

PEREMPUAN DI SEKTOR PERTAMBANGAN TIMAH (Refleksi atas Peringatan Hari Kartini 21 April 2022)

Kiat-kiat Menjadi “Warga Negara Digital” yang Baik di Bulan Ramadhan

PERANG RUSIA VS UKRAINA, NETIZEN INDONESIA HARUS BIJAKSANA

Kunci Utama Memutus Mata Rantai Korupsi

Xerosere* Bangka dan UBB

Pengelolaan Sumber Daya Air yang Berkelanjutan

SI VIS PACEM PARABELLUM, INDONESIA SUDAH SIAP ATAU BELUM?

RELASI MAHA ESA DAN MAHASISWA (Refleksi terhadap Pengantar Mata Kuliah Pendidikan Agama Islam di Perguruan Tinggi Umum)

KONKRETISASI BELA NEGARA SEBAGAI LANGKAH PREVENTIF MENGHADAPI PERANG DUNIA

Memaknai Sikap OPOSISI ORMAWA terhadap Birokrasi Kampus

Timah, Kebimbangan yang Tak akan Usai

Paradigma yang Salah tentang IPK dan Keaktifan Berorganisasi

Hybrid Learning dan Skenario Terbaik

NEGARA HARUS HADIR DALAM PERLINDUNGAN EKOLOGI LINGKUNGAN

Mental, Moral dan Intelektual: Menakar Muatan Visi UBB dalam Perspektif Filsafat Pierre Bourdieu

PEMBELAJARAN TATAP MUKA DAN KESIAPAN

Edukasi Kepemimpinan Milenial versus Disintegrasi

Membangun Kepemimpinan Pendidikan di Bangka Belitung Berbasis 9 Elemen Kewarganegaraan Digital

Menuju Kampus Cerdas, Ini yang Perlu Disiapkan UBB

TI RAJUK SIJUK, DIANTARA KESEMPATAN YANG TERSEDIA

TATAP MUKA

Mengimajinasikan Dunia Setelah Pandemi Usai

MENJAGA(L) LINGKUNGAN HIDUP

STOP KORUPSI !

ILLEGAL MINING TIMAH (DARI HULU SAMPAI HILIR)

KARAKTER SEPERADIK

SELAMAT BEKERJA !!!

ILLEGAL MINING

Pers dan Pesta Demokrasi

PERTAMBANGAN BERWAWASAN LINGKUNGAN

GENERASI (ANTI) KORUPSI

KUDETA HUKUM

Inflasi Menerkam Masyarakat Miskin Semakin Terjepit

NETRALITAS DAN INTEGRITAS PENYELENGGARA PEMILU

Siapa Penjarah dan Perampok Timah ???

Memproduksi Kejahatan

Potret Ekonomi Babel

Dorong Kriminogen

Prinsip Pengelolaan SDA

Prostitusi Online

Menjaga Idealisme dan Kemandirian Pers

JUAL BELI BERITA

POLITIK RAKYAT DAN TANGGUNG JAWAB PEMIMPIN

Penelitian Rumpon Cumi Berhasil di Perairan Tuing, Pulau Bangka

Budidaya Ikan Hias Laut

Gratifikasi, Hati-Hatilah Menerima Sesuatu

KEPUASAN HUKUM

JANGAN SETOR KE APARAT

JAKSA TIPIKOR SEMANGAT TINGGI

Perairan Tuing, Benteng Sumberdaya Perikanan Laut di Kabupaten Bangka

GRAND DESIGN KEPENDUDUKAN (Refleksi Hari Penduduk Dunia)

Berebut Kursi Walikota

Kenalkan Bangka Belitung dengan Foto !

Demokrasi yang Tersandera