+62 (0717) 422145 Senin-Jumat: 07.30 - 16.00 WIB
Link Penting UBB

Artikel UBB

Universitas Bangka Belitung's Article
04 Desember 2023 | 15:12:34 WIB


Stereotipe Pendidikan Feminis


Ditulis Oleh : Izcha Pricispa


Mahasiswa Sosiologi Universitas Bangka Belitung
 

Hingga saat ini tidak sedikit kaum perempuan yang masih aktif menggaungkan perjuangan atas persamaan hak dengan laki-laki atau biasa kita kenal dengan istilah kesetaraan gender. Menurut Oakley (1972) dalam Sex, Gender, and Society, Gender itu diartikan sebagai suatu perbedaan yang bukan berdasarkan kodrat tuhan dan biologis. Sebutan untuk perjuangan perempuan sendiri dikenal dengan istilah feminisme. 


Feminisme merupakan suatu bentuk perlawanan perempuan atas ketidakadilan yang dimana laki-laki dianggap sebagai superior sedangkan perempuan dianggap sebagai inferior. Pada dasarnya perempuan mempunyai peran dan hak yang sama dengan laki-laki sehingga pada akhirnya akan menciptakan kebabasan perempuan untuk setara dengan laki-laki. 


Feminisme sosialis merupakan perjuangan untuk menghapus sebuah sistem kepemilikan. Selaras dengan ide Marx yaitu masyarakat harus setara tanpa adanya kelas, pembedaan gender atau lain sebagainya. 


Hemat penulis, pendidikan sejatinya harus didapatkan oleh semua orang tanpa memandang status gender ataupun kelas. Meskipun negara telah menjamin hak yang sama atas pendidikan baik itu untuk laki-laki maupun perempuan, realitas yang ada ternyata masih banyak stereotype negatif masyarakat terkait dengan "setinggi apapun pendidikan perempuan maka ia tetap akan turun ke dapur" hal inilah yang kemudian menghambat perempuan untuk berkarier. 


Dalam hal ini sudah terlihat sangat jelas bahwa ada pembeda antara laki-laki dan perempuan. Perempuan seolah-olah tidak mempunyai ruang atau bahkan hak yang sama dengan laki-laki dalam konteks Pendidikan. Stereotipe masyarakat yang seperti ini juga seakan-akan menjadi sebuah kodrat bagi seorang perempuan sehingga menyebabkan terbelenggunya kebebasan serta hak-hak bagi perempuan, padahal kodrat perempuan hanya 3 diantaranya: hamil, melahirkan dan menyusui. 


Feminisme sebagai Tonggak Kesetaraan Gender


Gerakan feminisme sebagai tonggak kesetaraan gender bertujuan untuk mendekonstruksi stereotipe negatif terhadap pendidikan perempuan. Negara juga sudah menjamin kesetaraan hak dalam pendidikan baik itu untuk laki-laki maupun perempuan seperti yang telah tercantum dalam UUD Negara Republik Indonesia Rumusan Pasal 31 Ayat (1) yang menyatakan bahwa “setiap warga negara berhak mendapat Pendidikan” Tidak hanya itu, hak perempuan dalam memperoleh pendidikan juga dimuat dalam UU Nomor 39 Tahun 1999 terkait dengan Hak Asasi Manusia pada pasal 48 menyatakan bahwa “Wanita berhak memperoleh Pendidikan dan pengajaran dalam pekerjaan, jabatan, dan profesi sesuai dengan persyaratan yang telah ditentukan”. Oleh karena itu, perempuan dan laki-laki mempunyai hak yang sama dalam mendapatkan akses pendidikan. 


Selanjutnya, stereotipe negatif terhadap perempuan secara gamblang menunjukkan superioritas laki-laki kepada perempuan dalam masyarakat yang bersumber pada ideologi patriarki. Stereotipe negatif masyarakat inilah yang kemudian harus didekonstruksi. Gerakan Feminisme merupakan tonggak dalam upaya untuk meruntuhkan sistem patriaki yang dianggap mengganggu perempuan sehingga dapat memicu konflik antar kelas gender. 


Diskrimniasi perempuan dalam sistem pendidikan tentu saja berpotensi untuk mengancam keseteraan gender serta menyebabkan kesenjangan hak asasi bagi perempuan dalam bidang pendidikan.


Faktor ekonomi juga menjadi salah satu penguat stereotype negatif masyarakat terkait dengan "perempuan tidak perlu sekolah tinggi". Oleh karena itu, faktor ekonomi dapat menjadi hambatan bagi perempuan untuk mendapatkan pendidikan yang layak. 


Kemudian terdapat pula sistem patriarki, norma-norma dan sosial budaya yang membatasi kesempatan perempuan dalam pendidikan. Kedua hal ini perlu diubah agar terciptanya kesetaraan akses pendidikan bagi perempuan. 


Kapitalisme dan patriarki saling terkait dan saling memperkuat, sehingga perjuangan untuk kesetaraan gender tidak dapat di pisahkan dari kesetaraan ekonomi dan sosial. Feminisme sosialis menekankan pentingnya memberikan akses pendidikan yang setara bagi laki-laki dan perempuan, serta memerangi ketidakadilan ekonomi yang memengaruhi akses pendidikan perempuan. Feminisme sosialis juga menekankan pentingnya memerangi ketidaksetaraan ekonomi yang pada akhirnya memengaruhi akses pendidikan bagi perempuan. 


Artikel telah terbit di timesindonesia.co.id edisi 04/12/23



UBB Perspectives

Hulu Hilir Menekan Overcrowded

Penguatan Gakkumdu untuk Mengawal Pesta Demokrasi Berkualitas

Carbon Offset : Blue Ocean dan Carbon Credit

Hari Lingkungan Hidup: Akankah Lingkungan “Bisa” Hidup Kembali?

Juga Untuk Periode Berikut

Untuk Periode Berikut

Urgensi Perlindungan Hukum Dan Peran Pemerintah Dalam Menangani Pekerja Anak Di Sektor Pertambangan Timah

Isolasi dan Karakterisasi Bakteri Asam Laktat Asal Ikan Mujair (Oreochromis mossambicus) yang Berpotensi Sebagai Probiotik

Pemanfaatan Biomikri dalam Perlindungan Lingkungan: Mengambil Inspirasi dari Alam Untuk Solusi Berkelanjutan

FAKTOR POLA ASUH DALAM TUMBUH KEMBANG ANAK

MEMANFAATKAN POTENSI NUKLIR THORIUM DI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG : PELUANG DAN DAMPAK LINGKUNGAN

Pengaruh Sifat Fisika, Kimia Tambang Timah Terhadap Tingkat Kesuburan Tanah di Bangka Belitung

Akuntan dan Jurnalis: Berkolaborasi Dalam Optimalisasi Transparan dan Pertanggungjawaban

Sustainable Tourism Wisata Danau Pading Untuk Generasi Z dan Alpa

Perlunya Revitalisasi Budaya Lokal Nganggung di Bangka Belitung

Semangat PANDAWARA Group: Dari Sungai Kotor hingga Eksis di Media Sosial

Pengaruh Pembangunan Produksi Nuklir pada Wilayah Beriklim Panas

Pendidikan dan Literasi: Mulailah Merubah Dunia Dari Tindakan Sederhana

Mengapa APK Perguruan Tinggi di Babel Rendah ?

Dekonstruksi Cara Pikir Oposisi Biner: Mengapa Perlu?

PENINGKATAN KUALITAS PELAYANAN PUBLIK DENGAN ASAS GOOD GOVERNANCE

UMP Bangka Belitung Naik, Payung Hukum Kesejahteraan Pekerja atau Fatamorgana Belaka?

Membangun Kepercayaan dan Kesadaran Masyarakat Dalam Membayar Pajak Melalui Peningkatan Kualitas Pelayanan Serta Transparansi Alokasi Pajak

Peran Generasi Z di Pemilu 2024

Pemilu Serentak 2024 : Ajang Selebrasi Demokrasi Calon Insan Berdasi

Menelusuri Krisis Literasi Paradigma dan Problematik di Bumi Bangka Belitung

Peran Pemerintah Terhadap Pemenuhan Kebutuhan Protein Hewani Melalui Pemanfaatan Probiotik dalam Sistem Integrasi Sapi dan Kelapa Sawit (Siska)

TIMAH “BERPERI”

Jasa Sewa Pacar: Betulkah Menjadi sebuah Solusi?

Peran Sosial dan Politis Dukun Kampong

Mahasiswa dan Masalah Kesehatan Mental

Analogue Switch-off era baru Industri pertelevisian Indonesia

Di Era Society 50 Mahasiswa Perlu Kompetensi SUYAK

HUT ke-77 Kemerdekaan Republik Indonesia, sudah merdekakah kita?

Pemblokiran PSE, Pembatasan Kebebasan Berinternet?

Jalan Ketiga bagi Sarjana

Pentingnya Pemahaman Moderasi Beragama Pada Mahasiswa di Perguruan Tinggi Umum

SOCIAL MAPPING SEBAGAI SOLUSI TATA KELOLA SUMBER DAYA ALAM

Bisnis Digital dan Transformasi Ekonomi

Merebut Hati Gen Z

Masyarakat Tontonan dan Risiko Jenis Baru

Penelitian MBKM Mahasiswa Biologi

PEREMPUAN DI SEKTOR PERTAMBANGAN TIMAH (Refleksi atas Peringatan Hari Kartini 21 April 2022)

Kiat-kiat Menjadi “Warga Negara Digital” yang Baik di Bulan Ramadhan

PERANG RUSIA VS UKRAINA, NETIZEN INDONESIA HARUS BIJAKSANA

Kunci Utama Memutus Mata Rantai Korupsi

Xerosere* Bangka dan UBB

Pengelolaan Sumber Daya Air yang Berkelanjutan

SI VIS PACEM PARABELLUM, INDONESIA SUDAH SIAP ATAU BELUM?

RELASI MAHA ESA DAN MAHASISWA (Refleksi terhadap Pengantar Mata Kuliah Pendidikan Agama Islam di Perguruan Tinggi Umum)

KONKRETISASI BELA NEGARA SEBAGAI LANGKAH PREVENTIF MENGHADAPI PERANG DUNIA

Memaknai Sikap OPOSISI ORMAWA terhadap Birokrasi Kampus

Timah, Kebimbangan yang Tak akan Usai

Paradigma yang Salah tentang IPK dan Keaktifan Berorganisasi

Hybrid Learning dan Skenario Terbaik

NEGARA HARUS HADIR DALAM PERLINDUNGAN EKOLOGI LINGKUNGAN

Mental, Moral dan Intelektual: Menakar Muatan Visi UBB dalam Perspektif Filsafat Pierre Bourdieu

PEMBELAJARAN TATAP MUKA DAN KESIAPAN

Edukasi Kepemimpinan Milenial versus Disintegrasi

Membangun Kepemimpinan Pendidikan di Bangka Belitung Berbasis 9 Elemen Kewarganegaraan Digital

Menuju Kampus Cerdas, Ini yang Perlu Disiapkan UBB

TI RAJUK SIJUK, DIANTARA KESEMPATAN YANG TERSEDIA

TATAP MUKA

Mengimajinasikan Dunia Setelah Pandemi Usai

MENJAGA(L) LINGKUNGAN HIDUP

STOP KORUPSI !

ILLEGAL MINING TIMAH (DARI HULU SAMPAI HILIR)

KARAKTER SEPERADIK

SELAMAT BEKERJA !!!

ILLEGAL MINING

Pers dan Pesta Demokrasi

PERTAMBANGAN BERWAWASAN LINGKUNGAN

GENERASI (ANTI) KORUPSI

KUDETA HUKUM

Inflasi Menerkam Masyarakat Miskin Semakin Terjepit

NETRALITAS DAN INTEGRITAS PENYELENGGARA PEMILU

Siapa Penjarah dan Perampok Timah ???

Memproduksi Kejahatan

Potret Ekonomi Babel

Dorong Kriminogen

Prinsip Pengelolaan SDA

Prostitusi Online

Menjaga Idealisme dan Kemandirian Pers

JUAL BELI BERITA

POLITIK RAKYAT DAN TANGGUNG JAWAB PEMIMPIN

Penelitian Rumpon Cumi Berhasil di Perairan Tuing, Pulau Bangka

Budidaya Ikan Hias Laut

Gratifikasi, Hati-Hatilah Menerima Sesuatu

KEPUASAN HUKUM

JANGAN SETOR KE APARAT

JAKSA TIPIKOR SEMANGAT TINGGI