+62 (0717) 422145 Senin-Jumat: 07.30 - 16.00 WIB
Link Penting UBB

Artikel UBB

Universitas Bangka Belitung's Article
06 Juni 2022 | 14:11:35 WIB


PEREMPUAN DI SEKTOR PERTAMBANGAN TIMAH (Refleksi atas Peringatan Hari Kartini 21 April 2022)


Ditulis Oleh : Dr. Fitri Ramdhani Harahap, M.Si

Peran perempuan di sektor pertambangan tidak lepas dari konsep maskulin dan feminin. Hal ini berkonsekuensi pada peran dan identitas gender yang dilekatkan terhadap aktivitas di sektor pertambangan. Pembagian kerja yang ketat merupakan contoh bagaimana identitas gender mendarah daging di sektor pertambangan ini dari waktu ke waktu. 


Pertambangan dicirikan sebagai pekerjaan-pekerjaan yang maskulin, sehingga pekerjaan ini menuntut kekuatan, keberanian, dan kemampuan bertahan hidup yang diasumsikan hanya dimiliki oleh laki-laki. 


Aktivitas di sektor pertambangan kemudian dikemas dalam citra “hipermaskulinitas”, dimana laki-laki mendominasi jumlah yang bekerja di pertambangan. Sementara itu, perempuan yang bekerja di sektor pertambangan dianggap tidak wajar bahkan ditakuti oleh sebagian orang.


Tidak jarang, kehadiran perempuan di wilayah pertambangan dilekatkan pada cerita dan mitos bahwa kehadiran perempuan menjadi penyebab kecelakaan. Sehingga konsepsi ini kemudian menjadi tradisi dan prasangka yang akhirnya menormalkan pengucilan perempuan di sektor pertambangan. Normalisasi tradisi dan prasangka terhadap perempuan tersebut akhirnya membuat perempuan di sektor pertambangan tidak terlihat, tidak dianggap, dan kurang penting. 


Perusahaan pertambangan tembaga di Chili pada tahun 2006 misalnya, menerapkan konsep tenaga kerja laki-laki yang stabil dan handal. Peran gender dibedakan berdasarkan tugas laki-laki menjadi pencari nafkah dan tugas perempuan adalah mengurus rumah tangga. 


Sementara itu, budaya pertambangan di Afrika pada tahun 2017 menunjukkan bahwa seluruh pekerja tambang bawah tanah adalah laki-laki, sementara peran perempuan dibatasi pada pekerjaan administrasi dan klinik kesehatan.

Bagaimana dengan peran perempuan di sektor pertambangan timah?


Sektor pertambangan timah di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, sebagaimana pertambangan yang ada di dunia dibedakan menjadi pertambangan rakyat atau Tambang Inkonvesional (TI) atau artisanal and small scale mining dan pertambangan yang diusahakan oleh perusahaan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dan mitra atau large scale mining.


Dua bentuk usaha di sektor pertambangan timah ini juga manggambarkan adanya konsep hipermaskulinitas. Laki-laki dan perempuan memiliki peran dan tanggung jawab yang berbeda. 


Pertama, pekerja atau buruh di pertambangan rakyat atau TI misalnya, didominasi oleh laki-laki. Tidak terlihat ada perempuan yang bekerja sebagai buruh di TI. 


Peluang perempuan untuk bekerja sebagai buruh tereliminasi karena konsep maskulin yang melekat pada sektor pertambangan. Laki-laki bekerja secara formal sebagai buruh untuk menghasilkan nafkah keluarga, sementara perempuan bekerja secara informal yaitu menjadi bagian dari kelompok tenaga kerja keluarga yang bertugas membantu atau menopang pekerjaan utama laki-laki atau kepala keluarga. Seperti menyiapkan makanan untuk suami atau anggota keluarga yang menjadi buruh TI.


Ngereman adalah salah satu bentuk pekerjaan informal yang sering dilakukan oleh perempuan di sekitar kawasan penambangan TI. Ngereman ini merupakan aktivitas yang dilakukan perempuan dengan meminta secanting pasir timah kepada kelompok penambang yang kemudian akan dijual untuk mendapatkan uang.


Selain itu, pekerjaan yang dilakukan perempuan secara informal di sekitar kawasan penambangan TI adalah ngelimbang timah, yaitu mencari timah dari sisa-sisa pasir penambang atau tailing yang jatuh dari sakan. Berbekal satu wajan atau piring dan ember, perempuan-perempuan dan terkadang juga terdapat anak-anak mengambil pasir sisa pencucian, kemudian dicuci dikarpet plastik yang dibentang.


Aktivitas ngereman dan ngelimbang yang dilakukan perempuan secara informal di kawasan penambangan ini menjadi pekerjaan rutin dan dirasa cukup membantu perekonomian keluarga. 


Kedua, berbeda dengan pertambangan rakyat atau TI, pertambangan yang diusahakan oleh perusahaan Badan Usaha Milik Negara (BUMN)/mitra atau Large scale mining cenderung selektif terhadap pekerja atau buruh perempuan.


Perusahaan mendorong dan mempromosikan kesetaraan gender dengan membuat kebijakan yang reponsif gender. Kebijakan ini membantu perempuan mempromosikan pekerjaan dan peluang bisnis yang setara bagi perempuan dengan menerapkan praktik ketenagakerjaan yang seimbang antara laki-laki dan perempuan.


Perusahaan menyediakan kondisi kerja yang lebih baik, standar pekerjaan yang layak, promosi pekerjaan yang sama antara laki-laki dan perempuan, jaminan kesejahteraan sosial yang merata, dan kesempatan memimpin yang juga sama. 


Berdasarkan data dalam Laporan Tahunan PT Timah tahun 2020, perbandingan jumlah seluruh karyawan berdasarkan jenis kelamin yaitu laki-laki 4.219 orang dan perempuan 292 orang, yang artinya karyawan laki-laki sebanyak 93,4% sementara karyawan perempuan sebanyak 6,6%. 


Perbandingan jumlah laki-laki dan perempuan berdasarkan posisi di level organisasi yaitu: 1] direktur anak perusahaan terdapat 9 laki-laki (81,8%) dan 2 perempuan (18,2%); 2] senior vice president terdapat 3 laki-laki (75%) dan 1 perempuan (25%); 3] vice president terdapat 33 laki-laki (91,7%) dan 3 perempuan (8,3%); 4] assistant vice president terdapat 157 laki-laki (90,8%) dan 16 perempuan (9,3%); 5] manager terdapat 488 laki-laki (86,5%) dan 76 perempuan (13,5%); 6] assistant manager terdapat 760 laki-laki (87,4%) dan 110 perempuan (12,6%); 7] assistant terdapat 1.793 laki-laki (96,3%) dan 68 perempuan (3,7%); 7) officer terdapat 886 laki-laki (98,2%) dan 16 perempuan (1,8%).


Perbandingan data di atas menunjukkan bahwa dibeberapa kondisi masih ditemukan kelemahan-kelamahan dalam penerapannya, sehingga peluang perempuan bekerja di sektor pertambangan timah cenderung lebih kecil dibanding laki-laki.

Hambatan perempuan saat berperan di sektor pertambangan


Menurut survei yang dilakukan oleh International Labour Organization (ILO) pada tahun 2013, kasus-kasus di beberapa negara mencerminkan bahwa selain streotipe yang mengakar, terdapat sejumlah hambatan struktural terkait kepemimpinan perempuan di dunia kerja. Hambatan ini menyebabkan perempuan terpinggirkan dari mendapatkan kesempatan bekerja di sektor pertambangan, tidak terkecuali di pertambangan timah.


Adapun penghambat yang paling signifikan adalah: 1] perempuan memiliki tanggung jawab lebih banyak dari laki-laki; 2] perbedaan peran yang diberikan kepada laki-laki dan perempuan; 3] budaya perusahaan yang maskulin; 4] pengalaman manajemen perempuan yang kurang memadai; 5] panutan bagi perempuan sedikit; 6] laki-laki tidak dianjurkan mengambil cuti karena tanggung jawab pada keluarga; 7] kurangnya kebijakan dan program kesetaraan perusahaan; 8] stereotip terhadap perempuan yang bekerja; 9] kurangnya pelatihan kepemimpinan kepada perempuan; 10] kurangnya solusi kerja yang lebih fleksibel; 11] tidak ada strategi untuk mempertahankan wanita terampil; 12] bias gender yang melekat dalam proses rekrutmen; 13] manajemn dipandang sebagai pekerjaan laki-laki; 14] kebijakan kesetaraan gender sudah ada tetapi tidak dilaksanakan; dan 15] UU ketenagakerjaan dan non-diskriminasi yang belum memadai.


ILO bekerjasama dengan Gallup pada tahun 2016 menghasilkan suatu kesimpulan bahwa persoalan yang dihadapi perempuan di dunia kerja adalah: 1] isu keseimbangan antara pekerjaan dan keluarga; 2] kurangnya perawatan dan pengasuhan yang terjangkau untuk anak-anak dan kerabat; 3] terdapat ketidak adilan di tempat kerja; 4] pelecehan; 5] diskriminasi; dan 6] kurangnya transportasi yang aman.
Partisipasi perempuan di sektor pertambangan disebabkan oleh faktor kunci secara struktural dalam masyarakat yaitu stereotip gender yang secara tradisional berlaku, budaya industri yang memiliki intensitas waktu kerja panjang, lokasi pertambangan yang terpencil, sehingga semakin membebani tugas pengasuhan perempuan di rumah.

Langkah-langkah untuk mendorong kesempatan kerja perempuan di sektor pertambangan


Implementasi strategis dan inisiatif kesetaraan gender yang terintegrasi menjadi budaya perusahaan dilakukan dengan membangun kerangka akuntabilitas dalam operasional pertambangan dan terlibat secara luas dalam komunitas.


Langkah-langkah yang dapat diambil adalah: 1] mengantisipas tren masa depan, kebutuhan, ketrampilan, dan peluang bagi perempuan di pertambangan; 2] meningktakan kebijakan keberagaman dengan target yang jelas untuk penyertaan dab pelaporan hasil; 3] memperluas perspektif tentang latar belakang pendidikan; 4] mengimplementasikan jaringan inklusif gender, pengembangan karir dan program pendampingan; 5] merevisi dan memperbarui sistem keselamatan dan kesehatan kerja, dan penilaian risiko; 6] memberikan kesempatan kerja yang sama; dan 7] mengembangkan kebijakan promosi dan retensi yang adil bagi karyawan.


Semakin banyak wanita telah menemukan pekerjaan di dewan dan sebagai manajer, insinyur, pengemudi, mekanik, pembersih, katering dan pemasok. Rio Tinto, Anglo American, BHP dan perusahaan pertambangan besar lainnya telah menetapkan target ambisius untuk meningkatkan pangsa perempuan dalam angkatan kerja. 


Pada tahun 2020 International Women in Mining (IWiM), organisasi global nirlaba terkemuka mengejar kesetaraan gender dan mempromosikan suara perempuan, akses ke peluang dan kepemimpinan di sektor pertambangan. 


Hubungan kerja yang baik dan dialog sosial yang efektif berkontribusi pada tata kelola yang baik di tempat kerja, pekerjaan yang layak, pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan demokrasi bagi perempuan dan laki-laki. 


Dialog sosial tetap vital untuk menjawab tantangan dan peluang yang dihadapi oleh industri pertambangan, baik saat ini dan di masa depan. Dari kehilangan pekerjaan hingga pelatihan keterampilan, dan dari mengatasi diskriminasi hingga berubah persyaratan keselamatan dan kesehatan kerja, dialog sosial dapat membantu pemerintah, pengusaha dan pekerja menemukan solusi dan memfasilitasi promosi pekerjaan yang layak dan berkelanjutan.

Artikel ini dimuat juga di Bangkapos, edisi 28 April 2022.



UBB Perspectives

Pemblokiran PSE, Pembatasan Kebebasan Berinternet?

Jalan Ketiga bagi Sarjana

Pentingnya Pemahaman Moderasi Beragama Pada Mahasiswa di Perguruan Tinggi Umum

SOCIAL MAPPING SEBAGAI SOLUSI TATA KELOLA SUMBER DAYA ALAM

Bisnis Digital dan Transformasi Ekonomi

Merebut Hati Gen Z

Masyarakat Tontonan dan Risiko Jenis Baru

Penelitian MBKM Mahasiswa Biologi

Kiat-kiat Menjadi “Warga Negara Digital” yang Baik di Bulan Ramadhan

PERANG RUSIA VS UKRAINA, NETIZEN INDONESIA HARUS BIJAKSANA

Kunci Utama Memutus Mata Rantai Korupsi

Xerosere* Bangka dan UBB

Pengelolaan Sumber Daya Air yang Berkelanjutan

SI VIS PACEM PARABELLUM, INDONESIA SUDAH SIAP ATAU BELUM?

RELASI MAHA ESA DAN MAHASISWA (Refleksi terhadap Pengantar Mata Kuliah Pendidikan Agama Islam di Perguruan Tinggi Umum)

KONKRETISASI BELA NEGARA SEBAGAI LANGKAH PREVENTIF MENGHADAPI PERANG DUNIA

Memaknai Sikap OPOSISI ORMAWA terhadap Birokrasi Kampus

Timah, Kebimbangan yang Tak akan Usai

Paradigma yang Salah tentang IPK dan Keaktifan Berorganisasi

Hybrid Learning dan Skenario Terbaik

NEGARA HARUS HADIR DALAM PERLINDUNGAN EKOLOGI LINGKUNGAN

Mental, Moral dan Intelektual: Menakar Muatan Visi UBB dalam Perspektif Filsafat Pierre Bourdieu

PEMBELAJARAN TATAP MUKA DAN KESIAPAN

Edukasi Kepemimpinan Milenial versus Disintegrasi

Membangun Kepemimpinan Pendidikan di Bangka Belitung Berbasis 9 Elemen Kewarganegaraan Digital

Menuju Kampus Cerdas, Ini yang Perlu Disiapkan UBB

TI RAJUK SIJUK, DIANTARA KESEMPATAN YANG TERSEDIA

TATAP MUKA

Mengimajinasikan Dunia Setelah Pandemi Usai

MENJAGA(L) LINGKUNGAN HIDUP

STOP KORUPSI !

ILLEGAL MINING TIMAH (DARI HULU SAMPAI HILIR)

KARAKTER SEPERADIK

SELAMAT BEKERJA !!!

ILLEGAL MINING

Pers dan Pesta Demokrasi

PERTAMBANGAN BERWAWASAN LINGKUNGAN

GENERASI (ANTI) KORUPSI

KUDETA HUKUM

Inflasi Menerkam Masyarakat Miskin Semakin Terjepit

NETRALITAS DAN INTEGRITAS PENYELENGGARA PEMILU

Siapa Penjarah dan Perampok Timah ???

Memproduksi Kejahatan

Potret Ekonomi Babel

Dorong Kriminogen

Prinsip Pengelolaan SDA

Prostitusi Online

Menjaga Idealisme dan Kemandirian Pers

JUAL BELI BERITA

POLITIK RAKYAT DAN TANGGUNG JAWAB PEMIMPIN

Penelitian Rumpon Cumi Berhasil di Perairan Tuing, Pulau Bangka

Budidaya Ikan Hias Laut

Gratifikasi, Hati-Hatilah Menerima Sesuatu

KEPUASAN HUKUM

JANGAN SETOR KE APARAT

JAKSA TIPIKOR SEMANGAT TINGGI

Perairan Tuing, Benteng Sumberdaya Perikanan Laut di Kabupaten Bangka

GRAND DESIGN KEPENDUDUKAN (Refleksi Hari Penduduk Dunia)

Berebut Kursi Walikota

Kenalkan Bangka Belitung dengan Foto !

Demokrasi yang Tersandera

Pamor Rajendra

DNSChanger dan Kiamat Kecil Internet

MARI DISIPLIN BERLALU LINTAS

Radiasi Perlu Diteliti

Kebablasan Otonomi Daerah : Obral Izin Pertambangan

TIMAH PENCABUT NYAWA

Labelling

Penegakan Perda Tambang Lemah

Gratifikasi = Suap

Bukan Berarti Sudah Sejahtera

Tips Menjadi Jurnalis Online Sejati

Ujian (Nasional) Kejujuran

Bukan Politis

Saatnya Mencontoh Sumber Energi Alternatif Brazil

LEGOWO DAN BERSATU MEMBANGUN BABEL

Aspek Hukum Hibah dan Bansos

Pengawasan Senjata Api

Gelatin Tulang Rawan Ikan Hiu

MERAMU PAKAN IKAN LELE

Tak Etis Sembako Naik

Berharap Gubernur Baru Babel Pro Perikanan

Aquaculture's Never Ending

AYO MENULIS, MENULIS DAN MENULIS (SILAHTURAHMI KEILMUAN-Bagian 5)

SIAP MENANG (TAK) SIAP KALAH?

Pendalaman Demokrasi Babel Menuju Demokrasi Substansial

PENJAHAT ONLINE

Akuakultur di Bangka Belitung

KEPEMIMPINAN NASIONAL ANTI KORUPSI DALAM MENEGAKKAN KEDAULATAN HUKUM

Waspada Aksi Pencurian

Perangkingan Webometrics pada Universitas Sedunia