+62 (0717) 422145 Senin-Jumat: 07.30 - 16.00 WIB
Link Penting UBB

Kabar UBB

Universitas Bangka Belitung
09 Juni 2024 | 19:12:05 WIB


Dosen UBB Dorong Realisasi Good Agricultural Practices (GAP) bagi Pekebun Sawit di Tiang Tara


Foto Bersama Tim Pengabdian UBB dengan Masyarakat Desa Tiang Tara (Dok: Herza)

Dosen Universitas Bangka Belitung (UBB) yang terdiri dari Novyandra Ilham Bahtera, S.E., M.Sc. (Ketua), Yulia, S.Pt., M.Si. (Anggota), dan Herza, M.A. (Anggota) melakukan kegiatan pengabdian kepada masyarakat di Desa Tiang Tara, Kecamatan Bakam, Kabupaten Bangka (kegiatan sudah dimulai pada pertengahan bulan Mei yang lalu). Kegiatan pengabdian dengan mengusung judul “IbM Desa Tiang Tara Good Agricultural Practice (GAP) Menuju Peningkatan Kapasitas dan Kesejahteraan Petani Kelapa Sawit” merupakan realisasi dari program Pengabdian Masyarakat Tingkat Universitas (PMTU) dari UBB tahun 2024. 


Tujuannya adalah untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan petani atau pekebun kecil dalam menerapkan GAP kelapa sawit. Selain itu, pengabdian ini bertujuan untuk memperkuat kelembagaan setempat (Gapoktan dan Poktan), meningkatkan koordinasi antar petani, dan pemberian pemahaman agar pekebun sawit di Desa Tiang Tara bisa meningkatkan produktivitas hasil perkebunannya secara signifikan. Oleh karenanya, kegiatan akan dilangsungkan dalam beberapa tahapan dan dalam waktu yang cukup panjang, yakni mulai dari bulan Mei hingga akhir tahun 2024.


Ketika ditanya apa pentingnya melakukan pengabdian dengan tema GAP kelapa sawit di Desa Tiang Tara, Kabupaten Bangka, Novyandara selaku ketua tim pengabdi mengungkapkan bahwa, sebanyak 90% petani sawit di Desa Tiang Tara berusia di atas 40 tahun, yang menunjukkan rendahnya keterlibatan generasi muda dalam sektor ini. Menurutnya, hal ini mengkhawatirkan karena penerapan teknologi pertanian sangat diperlukan untuk meningkatkan produktivitas dan efisiensi.


“Riset menunjukkan bahwa adopsi teknologi pertanian cenderung rendah di kalangan petani berusia di atas 40 tahun. Lebih dari separuh petani sawit di Desa Tiang Tara hanya memiliki pendidikan formal hingga tingkat sekolah dasar. Kondisi ini menjadi hambatan dalam memahami dan menerapkan praktik pertanian yang baik (Good Agricultural Practices/GAP), yang sangat penting untuk meningkatkan hasil produksi,” ucap Novyandara.


“Namun, mayoritas petani sawit di desa ini memiliki pengalaman lebih dari 10 tahun dalam budidaya kelapa sawit, yang merupakan modal dasar yang berharga untuk program pemberdayaan masyarakat. Mayoritas petani juga memiliki lahan di atas 2 hektar, yang menurut riset mampu memberikan profit optimal jika dikelola dengan baik.” tambahnya.

Tahap-tahap Program Pengabdian 


Program pengabdian ini terdiri dari beberapa tahap. Pertama, sosialisasi GAP kelapa sawit kepada petani dan pemangku kepentingan. Kedua, pelatihan intensif tentang teknik-teknik GAP dan praktik terbaik dalam budidaya kelapa sawit kepada pekebun. Ketiga, pelaksanaan kegiatan penguatan kelembagaan terhadap Poktan dan Gapoktan, seperti pelatihan manajemen organisasi, pengembangan sumber daya manusia, dan dorongan agar para petani mampu berkolaborasi serta menerapkan komunikasi yang efektif antar sesama mereka.


Dalam proses pelaksanaan kegiatan pengabdian ini, tim pengabdi berkolaborasi dengan penyuluh pertanian dan pihak pemerintahan Desa Tiang Tara. Penyuluh pertanian dilibatkan sebagai narasumber ketika sosialisasi dan diseminasi yang sudah selesai dilaksanakan tim pengabdi (pada pertengahan bulan Mei yang lalu), dan diikutsertakan pada aktivitas pendampingan pada para petani di Desa Tiang Tara ketika mempraktikkan simulasi GAP kelapa sawit.

  
“Kegiatan sosialisasi dan diseminasi pengetahuan tentang Good Agricultural Practice sudah tim kami laksanakan pada pertengahan bulan Mei kemarin bersama penyuluh pertanian, yakni Pak Gunawan, S.P., M.Si. dari Dinas Pertanian Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, serta Pak Imam Wahyudi yang merupakan penyuluh yang bertugas di Desa Tiang Tara,” ucap Novyandra.


Pada kegiatan sosialisasi dan diseminasi berkenaan dengan GAP kelapa sawit yang dimaksud, para petani di Desa Tiang Tara sangat antusias, apalagi ketika disampaikan bahwa kegiatan pengabdian ini akan berlanjut kepada simulasi dan pendampingan praktik GAP Kelapa Sawit secara bersama-sama. 


“Pada kegiatan sosialisasi dan diseminasi kemarin saya berfokus pada penyampaian data bahwa di banyak tempat di Bangka Belitung, termasuk di Desa Tiang Tara, para petani sawit belum menerapkan GAP kelapa sawit sehingga menyebabkan rendahnya produksi tandan buah segara (TBS). Pada saat itu saya menekankan agar GAP sudah diterapkan sejak pembukaan lahan perkebunan hingga tahap pemasaran,” terang Novyandra.


Tidak hanya itu, Novyandra juga menegaskan kalau GAP sebagaimana yang disosialisasikannya kepada para petani kemarin, ketika bisa diterapkan dengan hanya modal kebun seluas 2 hektar, maka penghasilannya akan lebih dari 2 ton per bulan. 


Ibu Yulia, M.Si. salah satu dosen pengabdi menambahkan bahwa integrasi sapi-sawit dapat menjadi strategi untuk meningkatkan profitabilitas dan keberlanjutan pertanian kelapa sawit di Desa Tiang Tara. Beliau fokus menjelaskan bagaimana konsep ideal integrasi sapi-sawit dan juga bagaimana teknis pelaksanaannya di lapangan. Sementara itu, Herza, M.A. selaku dosen Sosiologi UBB yang menjadi bagian dari tim pengabdi fokus menyampaikan urgensitas penguatan kelembagaan petani sesuai dengan PERMENTAN No. 67 Tahun 2016, sekaligus mengutarakan contoh-contoh rill di Bangka Belitung yang menunjukkan hasil positif didapatkan para petani ketika Gapoktan eksis di desa mereka.


Saat ini kegiatan pengabdian Novyandara dan tim di Desa Tiang Tara sudah memasuki tahap pendampingan. Pada Jumat tanggal 07 Juni yang lalu tahap awal kegiatan pendampingan sudah berjalan, yang dilaksanakan di kebun sawit milik Ketua Gapoktan di Desa Tiang Tara, yakni Bapak Satria. Kegiatan diikuti sekitar 15 pekebun sawit yang tergabung di dalam Gapoktan Bina Karya Desa Tiang Tara. 


“Tim pendamping yang hadir di kegiatan tanggal 07 Juni kemarin adalah PPL dan asisten lapangan. Selanjutnya, tim pengabdi dari pihak dosen UBB sendiri akan hadir pada kegiatan tahap pendampingan penerapan GAP kelapa sawit ini pada tanggal 21 juni mendatang,” tambah Novyandra.  (Herza/Dosen UBB)

 



UBB Perspectives

Carbon Offset : Blue Ocean dan Carbon Credit

Hari Lingkungan Hidup: Akankah Lingkungan “Bisa” Hidup Kembali?

Juga Untuk Periode Berikut

Untuk Periode Berikut

Stereotipe Pendidikan Feminis

Urgensi Perlindungan Hukum Dan Peran Pemerintah Dalam Menangani Pekerja Anak Di Sektor Pertambangan Timah

Isolasi dan Karakterisasi Bakteri Asam Laktat Asal Ikan Mujair (Oreochromis mossambicus) yang Berpotensi Sebagai Probiotik

Pemanfaatan Biomikri dalam Perlindungan Lingkungan: Mengambil Inspirasi dari Alam Untuk Solusi Berkelanjutan

FAKTOR POLA ASUH DALAM TUMBUH KEMBANG ANAK

MEMANFAATKAN POTENSI NUKLIR THORIUM DI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG : PELUANG DAN DAMPAK LINGKUNGAN

Pengaruh Sifat Fisika, Kimia Tambang Timah Terhadap Tingkat Kesuburan Tanah di Bangka Belitung

Akuntan dan Jurnalis: Berkolaborasi Dalam Optimalisasi Transparan dan Pertanggungjawaban

Sustainable Tourism Wisata Danau Pading Untuk Generasi Z dan Alpa

Perlunya Revitalisasi Budaya Lokal Nganggung di Bangka Belitung

Semangat PANDAWARA Group: Dari Sungai Kotor hingga Eksis di Media Sosial

Pengaruh Pembangunan Produksi Nuklir pada Wilayah Beriklim Panas

Pendidikan dan Literasi: Mulailah Merubah Dunia Dari Tindakan Sederhana

Mengapa APK Perguruan Tinggi di Babel Rendah ?

Dekonstruksi Cara Pikir Oposisi Biner: Mengapa Perlu?

PENINGKATAN KUALITAS PELAYANAN PUBLIK DENGAN ASAS GOOD GOVERNANCE

UMP Bangka Belitung Naik, Payung Hukum Kesejahteraan Pekerja atau Fatamorgana Belaka?

Membangun Kepercayaan dan Kesadaran Masyarakat Dalam Membayar Pajak Melalui Peningkatan Kualitas Pelayanan Serta Transparansi Alokasi Pajak

Peran Generasi Z di Pemilu 2024

Pemilu Serentak 2024 : Ajang Selebrasi Demokrasi Calon Insan Berdasi

Menelusuri Krisis Literasi Paradigma dan Problematik di Bumi Bangka Belitung

Peran Pemerintah Terhadap Pemenuhan Kebutuhan Protein Hewani Melalui Pemanfaatan Probiotik dalam Sistem Integrasi Sapi dan Kelapa Sawit (Siska)

TIMAH “BERPERI”

Jasa Sewa Pacar: Betulkah Menjadi sebuah Solusi?

Peran Sosial dan Politis Dukun Kampong

Mahasiswa dan Masalah Kesehatan Mental

Analogue Switch-off era baru Industri pertelevisian Indonesia

Di Era Society 50 Mahasiswa Perlu Kompetensi SUYAK

HUT ke-77 Kemerdekaan Republik Indonesia, sudah merdekakah kita?

Pemblokiran PSE, Pembatasan Kebebasan Berinternet?

Jalan Ketiga bagi Sarjana

Pentingnya Pemahaman Moderasi Beragama Pada Mahasiswa di Perguruan Tinggi Umum

SOCIAL MAPPING SEBAGAI SOLUSI TATA KELOLA SUMBER DAYA ALAM

Bisnis Digital dan Transformasi Ekonomi

Merebut Hati Gen Z

Masyarakat Tontonan dan Risiko Jenis Baru

Penelitian MBKM Mahasiswa Biologi

PEREMPUAN DI SEKTOR PERTAMBANGAN TIMAH (Refleksi atas Peringatan Hari Kartini 21 April 2022)

Kiat-kiat Menjadi “Warga Negara Digital” yang Baik di Bulan Ramadhan

PERANG RUSIA VS UKRAINA, NETIZEN INDONESIA HARUS BIJAKSANA

Kunci Utama Memutus Mata Rantai Korupsi

Xerosere* Bangka dan UBB

Pengelolaan Sumber Daya Air yang Berkelanjutan

SI VIS PACEM PARABELLUM, INDONESIA SUDAH SIAP ATAU BELUM?

RELASI MAHA ESA DAN MAHASISWA (Refleksi terhadap Pengantar Mata Kuliah Pendidikan Agama Islam di Perguruan Tinggi Umum)

KONKRETISASI BELA NEGARA SEBAGAI LANGKAH PREVENTIF MENGHADAPI PERANG DUNIA

Memaknai Sikap OPOSISI ORMAWA terhadap Birokrasi Kampus