Kabar UBB
Universitas Bangka Belitung
Kabar UBB
Universitas Bangka Belitung
21 Oktober 2026 | 13:16:01 WIB
Melalui Skema RKT Unggul, Dosen UBB Ungkap Peran Kearifan Lokal dalam Menjaga Harmoni Etnis di Bangka

Bangka, UBB — Tim dosen Universitas Bangka Belitung (UBB) mengkaji strategi resiliensi dan pembentukan identitas keberagamaan etnis Tionghoa di tengah masyarakat mayoritas Muslim di Kabupaten Bangka. Penelitian melalui skema Riset Kompetisi Terbatas (RKT) Unggul ini menyoroti peran kearifan lokal dan modal sosial dalam memperkuat hubungan antaretnis serta menjaga keharmonisan kehidupan masyarakat.
Informasi mengenai penelitian tersebut disampaikan oleh ketua tim peneliti, Dr. Sujadmi, S.Sos., M.A., dalam wawancara yang berlangsung pada Selasa, 20 Oktober 2026, di Kabupaten Bangka. Penelitian ini berada dalam bidang unggulan Pendidikan dan Sosial Humaniora, dengan anggota tim Dr. Sigit Nugroho, S.H., M.H., dan Irwan, M.Sos.
Kajian tersebut berfokus pada pola adaptasi kultural, relasi sosial, serta upaya masyarakat Tionghoa mempertahankan identitas keberagamaan sekaligus membangun hubungan yang inklusif dengan masyarakat di sekitarnya. Dalam pemaparan penelitian, nilai budaya Fan Ngin Tong Ngin, yang dimaknai sebagai Melayu dan Tionghoa sama saja, serta kearifan lokal Bangka Sepintu Sedulang menjadi bagian penting dalam memahami hubungan sosial masyarakat Bangka. Nilai kebersamaan, saling menghormati, dan gotong royong menjadi landasan interaksi antarkelompok dalam kehidupan bermasyarakat.
Ketua tim peneliti, Dr. Sujadmi, menjelaskan bahwa keharmonisan hubungan mayoritas dan minoritas tidak terbentuk secara pasif, melainkan melalui proses negosiasi identitas yang dinamis dalam kehidupan sehari-hari.
“Kehidupan berdampingan di Bangka bertumpu pada kapasitas resiliensi minoritas yang mampu merawat identitas keberagamaannya secara konsisten, sekaligus membuka ruang negosiasi sosial yang inklusif bersama masyarakat mayoritas,” ujar Sujadmi.
Anggota tim peneliti, Irwan, menambahkan bahwa hubungan antara kelompok minoritas dan mayoritas di Bangka telah terjalin dalam waktu yang panjang. Menurutnya, kehidupan masyarakat yang harmonis tercermin dalam interaksi sosial dan hubungan antarkelompok yang berlangsung secara baik. “Seperti kita ketahui, hampir tidak ada sejarah di Bangka yang berkaitan dengan konflik minoritas dan mayoritas ini. Bahkan, perubahan masyarakat dari setiap periode semuanya terjalin dengan cukup baik dan harmonis,” paparnya.

Gambaran hubungan sosial tersebut juga disampaikan oleh Kepala Dusun Air Duyung, Leonardi (43). Ia mengatakan bahwa dalam kehidupan sehari-hari, warga dari berbagai latar belakang etnis dan agama berinteraksi tanpa membedakan satu sama lain. Semangat saling membantu juga terlihat dalam pelaksanaan kegiatan kemasyarakatan dan keagamaan.
“Sejauh ini tidak ada perbedaan, baik antara Tionghoa maupun Melayu dan yang lainnya, termasuk dalam pengurusan administrasi maupun izin kegiatan keagamaan warga Tionghoa. Semuanya berjalan dengan aman dan kondusif. Justru saya rasa di sini sangat unik karena sesama warga saling membantu dan tolong-menolong dalam setiap kegiatan keagamaan,” ujar Leonardi.
Dari perspektif masyarakat Tionghoa, seorang warga berinisial AJ (73) mengungkapkan bahwa tradisi dan ajaran leluhur tetap menjadi bagian penting dalam kehidupannya. Ia juga merasakan hubungan yang baik dengan warga di lingkungan tempat tinggalnya.
“Sejak lahir kami dibesarkan dalam ajaran dan tradisi leluhur, sehingga keyakinan ini tetap kami pegang teguh. Meskipun menjadi minoritas, kami tidak merasa ada masalah dengan warga, tetangga, maupun masyarakat sekitar. Syukurnya, di Bangka ini semuanya baik dan saya rasa tidak ada masalah minoritas ataupun mayoritas,” tuturnya.
Keharmonisan juga dirasakan dalam lingkungan kerja. Yenni (36), seorang pegawai negeri sipil keturunan Tionghoa, menyampaikan bahwa lingkungan profesional memberikan kesempatan kepada setiap individu untuk berkontribusi tanpa membedakan latar belakang etnis maupun agama.
“Sebagai PNS, saya merasakan tidak ada sekat ataupun perlakuan yang membedakan di lingkungan kerja. Kesempatan berkontribusi bagi masyarakat terbuka luas bagi siapa saja yang mengedepankan profesionalitas dan nilai kejujuran, karena jujur itu penting,” ungkap Yenni.
Sementara itu, Jonathan (20), mahasiswa keturunan Tionghoa, menjelaskan bahwa upaya menjaga keharmonisan diwujudkan melalui interaksi sosial dan partisipasi dalam kegiatan kemasyarakatan. Ia mencontohkan sikap saling menghormati ketika masyarakat menjalankan kegiatan keagamaan. “Kami selalu berupaya hadir apabila diundang dalam kegiatan keagamaan tetangga Muslim, seperti acara Maulid atau tahlilan. Sebaliknya, saat ritual Tionghoa dilaksanakan, kami juga menyesuaikan diri, misalnya menahan diri untuk tidak membunyikan petasan saat azan berkumandang demi menjaga rasa saling menghargai,” kata Jonathan.
Nilai kebersamaan tersebut juga dirasakan oleh generasi muda. Eleonora (15), siswi SMA keturunan Tionghoa, menuturkan bahwa hubungan pertemanan di sekolah terjalin dengan akrab tanpa menjadikan perbedaan etnis maupun agama sebagai penghalang. “Di sekolah, hubungan dengan teman-teman Muslim sangat dekat. Kami belajar dan beraktivitas bersama tanpa pernah memandang perbedaan suku atau agama sebagai penghalang,” tutur Eleonora.
Penelitian ini menyoroti pentingnya kearifan lokal dan interaksi sosial dalam memahami resiliensi kelompok minoritas serta dinamika hubungan antaretnis di Bangka. Pengalaman masyarakat yang dihimpun dalam penelitian tersebut menjadi bagian penting untuk melihat bagaimana nilai kebersamaan dan penghormatan terhadap perbedaan hadir dalam kehidupan sehari-hari.
Melalui skema RKT Unggul, kajian dosen UBB ini diharapkan dapat memperkaya pengembangan ilmu sosial humaniora, khususnya terkait relasi antaretnis, identitas keberagamaan, dan harmoni sosial. Hasil penelitian juga dapat menjadi bahan refleksi dalam memperkuat nilai toleransi dan kehidupan masyarakat yang inklusif. (Humas UBB)
UBB Perspectives
Satu Visi, Banyak Budaya: Mengapa Integrasi SDM Global Tidak Semudah yang Dibayangkan
Menjaga Ekosistem: Investasi untuk Masa Depan Bumi
Antara Jaring dan Buku Pilihan Hidup Anak Remaja Putus Sekolah di Kepulauan Pongok
Validitas Peringkat UBB: Membongkar Anomali Webometrics
Meski Ilegal, Mengapa Bisnis Thrifting Terus Menjamur?
Tantangan Pemimpin Baru dan Ekonomi Bangka Belitung
Sastra, Kreativitas Intelektual, dan Manfaatnya Secara Ekonomi
Lindungi Anak Kita, Lindungi Masa Depan Bangsa
Akankah Pilkada Kita Berkualitas?
Hulu Hilir Menekan Overcrowded
Penguatan Gakkumdu untuk Mengawal Pesta Demokrasi Berkualitas
Carbon Offset : Blue Ocean dan Carbon Credit
Hari Lingkungan Hidup: Akankah Lingkungan “Bisa” Hidup Kembali?
FAKTOR POLA ASUH DALAM TUMBUH KEMBANG ANAK
MEMANFAATKAN POTENSI NUKLIR THORIUM DI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG : PELUANG DAN DAMPAK LINGKUNGAN
Pengaruh Sifat Fisika, Kimia Tambang Timah Terhadap Tingkat Kesuburan Tanah di Bangka Belitung
Akuntan dan Jurnalis: Berkolaborasi Dalam Optimalisasi Transparan dan Pertanggungjawaban
Sustainable Tourism Wisata Danau Pading Untuk Generasi Z dan Alpa
Perlunya Revitalisasi Budaya Lokal Nganggung di Bangka Belitung
Semangat PANDAWARA Group: Dari Sungai Kotor hingga Eksis di Media Sosial
Pengaruh Pembangunan Produksi Nuklir pada Wilayah Beriklim Panas
Pendidikan dan Literasi: Mulailah Merubah Dunia Dari Tindakan Sederhana
Mengapa APK Perguruan Tinggi di Babel Rendah ?
Dekonstruksi Cara Pikir Oposisi Biner: Mengapa Perlu?
PENINGKATAN KUALITAS PELAYANAN PUBLIK DENGAN ASAS GOOD GOVERNANCE
UMP Bangka Belitung Naik, Payung Hukum Kesejahteraan Pekerja atau Fatamorgana Belaka?
Peran Generasi Z di Pemilu 2024
Pemilu Serentak 2024 : Ajang Selebrasi Demokrasi Calon Insan Berdasi
Menelusuri Krisis Literasi Paradigma dan Problematik di Bumi Bangka Belitung
Jasa Sewa Pacar: Betulkah Menjadi sebuah Solusi?
Peran Sosial dan Politis Dukun Kampong
Mahasiswa dan Masalah Kesehatan Mental
Analogue Switch-off era baru Industri pertelevisian Indonesia
Di Era Society 50 Mahasiswa Perlu Kompetensi SUYAK
HUT ke-77 Kemerdekaan Republik Indonesia, sudah merdekakah kita?
Pemblokiran PSE, Pembatasan Kebebasan Berinternet?
Pentingnya Pemahaman Moderasi Beragama Pada Mahasiswa di Perguruan Tinggi Umum
SOCIAL MAPPING SEBAGAI SOLUSI TATA KELOLA SUMBER DAYA ALAM