Kabar UBB
Universitas Bangka Belitung
Kabar UBB
Universitas Bangka Belitung
04 Agustus 2025 | 21:55:05 WIB
Seminar AIPI: Momentum Perbaikan Demokrasi Lokal

Bangka, UBB-- Asosiasi Ilmu Politik Indonesia (AIPI) Cabang Bangka Belitung 2024-2028 menyelenggarakan Seminar Nasional dalam rangka menyongsong pelaksanaan Pilkada Ulang Pangkalpinang dan Bangka 2025 di Balai Besar Peradaban (BBP) Rektorat Universitas Bangka Belitung (UBB) pada Senin (4/8/2025) pukul 13.00 hingga 16.00 WIB. Kegiatan ini bertema "Pilkada ulang Pangkalpinang dan Bangka 2025 sebagai Momentum Perbaikan Demokrasi Lokal".
Acara dibuka dengan sambutan dari Ketua Panitia Seminar AIPI Dr. Novendra Hidayat, S.I.P., M.Si. Melalui sambutannya, ia mengapresiasi seluruh panitia yang terlibat dalam mensukseskan kegiatan dan seluruh peserta yang berpartisipasi. Ia berharap melalui kegiatan diskusi ini para peserta dapat menggunakan momentum Pilkada sebagai momen perbaikan demokrasi lokal melalui materi yang disampaikan oleh beberapa narasumber yang mumpuni.
Dalam kesempatan ini, rektor UBB, Prof. Dr.Ibrahim, M.Si sebagai Ketua AIPI Cabang Babel menekanan ketertarikannya pada momentum Pilkada ulang. Menurutnya, peta politik nasional yang terjadi saat ini sedang berada dalam satu fase yang krusial yakni menguatnya konsolidasi. Oleh karena itu, ia khawatir jika kekuatan hanya tersentralisasi pada elit politik saja, maka akan berpotensi menimbulkan bahaya karena akan menghasilkan lentingan balik.
“Produk demokrasi di negara modern banyak menghasilkan demokrasi menjadi rusak karena konsilidasi terlalu kuat. Jangan sampai negara kita sebagai negara yang baru belajar demokrasi melahirkan demokrasi yang cacat,” ujarnya.
Ia juga menggarisbawahi peran media massa yang dapat dioptimalkan untuk menjadi bahan bakar sehingga mampu menampilkan calon yang mumpuni dan melayani masyarakat.
Senada itu, Ketua Umum PP AIPI Dr. Alfitra Salamm, APU mengungkapkan bahwa produk Pilkada langsung yang nyata adalah koruptor. Ia berharap ada upaya perbaikan yang dapat mereduksi lahirnya koruptor. Sehubungan dengan pelaksanaan Pilkada, menurutnya situasi Pilkada Pangkalpinang dan Bangka adalah cerminan penolakan masyarakat yang mampu berpikir kritis terhadap kotak kosong.
“Kotak kosong adalah koreksi dari cerminan bahwa masyarakat tidak ingin ada oligarki, maka Pilkada ulang ini adalah momen untuk berubah,”ungkapnya.
Terkait itu, Sebagai narasumber pertama, KPU Kota Pangkalpinang Margarita, S.T.,M.M. mengungkapkan bahwa masyarakat yang lebih memilih kotak kosong sudah sangat paham konsekuensi dari pilihannya. Ia menilai bahwa tindakan tersebut merupakan wujud kritis masyarakat dalam mengungkapkan protes terhadap Partai Politik.
Perwakilan Divisi Sosdiklih, Parmas, dan SDM ini optimis bahwa KPU mampu meyakinkan kembali masyarakat untuk berpartisipasi dalam Pilkada ulang pada 27 Agustus mendatang.
"Bagi kami, menjaga kepercaaan publik itu penting dan menggandeng media adalah perwujudan KPU dalam menjaga transparansi," pungkas Margarita.
Narasumber selanjutnya, Perwakilan KPU Kab. Bangka pada divisi serupa, Corri Ihsan, S.AP.,S.H.,M.H menilai bahwa keberhasilan pemilihan terletak pada bagaimana partisipasi publik diimplementasikan. Menurutnya, keterlibatan publik ini akan sangat berpengaruh terhadap kualitas demokrasi. “Jika hak politik dapat terakomodir dengan baik, maka masyarakat akan dapat menggunakan haknya secara bertanggungjawab dan Pilkada hari ini merupakan bentuk tanggungjawab secara undang-undang melalui kami KPU dan diawasi oleh Bawaslu sebagai tanggungjawab bersama,”ujarnya.
Mewakili Akademisi, Ariandi A. Zulkarnanin, S.IP.,M.Si. menyoroti tentang representasi politik yang terjadi di Pangkapinang dan Bangka. Narasumber ketiga ini menegaskan bahwa demokrasi lokal tidak cukup hanya dengan penerapan prosedur elektoral. Pilkada, menurutnya bukan hanya tentang siapa yang dipilih tetapi bagaimana ide-ide politik dijalankan.
Melalui forum diskusi, Dosen Politik UBB ini juga menyoroti gejala pemilihan kotak kosong yakni narasi anti elit, politik kemarahan dan munculnya kesadaran.
“Pertama ada narasi anti elit yang dibangun oleh kelompok populis sehingga ada sentimen antara rakyat dan elit. Kedua, ada politik kemarahan karena ada banyak elit yang tidak masuk gelanggang pada Pilkada 2024 lalu. Ketiga munculnya kesadaran, yang mana awalnya tidak terlalu peduli namun pada pemilu memutuskan memilih kotak kosong,”ujarnya.
Ia juga memberikan narasi tentang kerja awak media yang kerap menarasikan tentang segelintir elit. Olehkarena itu, demi terlaksananya Pilkada yang demokratis, maka menurutnya media dapat menarasikan keberimbangan yang memberikan potret dari segala sisi. Dengan demikian membuka ruang publik untuk publik yang mampu berdialektika.
"Siapapun kita, mari kita manfaatkan momen Pilkada ini untuk mampu menjadi mitra deliberatif yang menjadi bagian dari subjek pemilu, bukan objek pemilu semata,” pungkasnya. (Arta/ Dosen Ilmu Politik UBB)
UBB Perspectives
Satu Visi, Banyak Budaya: Mengapa Integrasi SDM Global Tidak Semudah yang Dibayangkan
Menjaga Ekosistem: Investasi untuk Masa Depan Bumi
Antara Jaring dan Buku Pilihan Hidup Anak Remaja Putus Sekolah di Kepulauan Pongok
Validitas Peringkat UBB: Membongkar Anomali Webometrics
Meski Ilegal, Mengapa Bisnis Thrifting Terus Menjamur?
Tantangan Pemimpin Baru dan Ekonomi Bangka Belitung
Sastra, Kreativitas Intelektual, dan Manfaatnya Secara Ekonomi
Lindungi Anak Kita, Lindungi Masa Depan Bangsa
Akankah Pilkada Kita Berkualitas?
Hulu Hilir Menekan Overcrowded
Penguatan Gakkumdu untuk Mengawal Pesta Demokrasi Berkualitas
Carbon Offset : Blue Ocean dan Carbon Credit
Hari Lingkungan Hidup: Akankah Lingkungan “Bisa” Hidup Kembali?
FAKTOR POLA ASUH DALAM TUMBUH KEMBANG ANAK
MEMANFAATKAN POTENSI NUKLIR THORIUM DI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG : PELUANG DAN DAMPAK LINGKUNGAN
Pengaruh Sifat Fisika, Kimia Tambang Timah Terhadap Tingkat Kesuburan Tanah di Bangka Belitung
Akuntan dan Jurnalis: Berkolaborasi Dalam Optimalisasi Transparan dan Pertanggungjawaban
Sustainable Tourism Wisata Danau Pading Untuk Generasi Z dan Alpa
Perlunya Revitalisasi Budaya Lokal Nganggung di Bangka Belitung
Semangat PANDAWARA Group: Dari Sungai Kotor hingga Eksis di Media Sosial
Pengaruh Pembangunan Produksi Nuklir pada Wilayah Beriklim Panas
Pendidikan dan Literasi: Mulailah Merubah Dunia Dari Tindakan Sederhana
Mengapa APK Perguruan Tinggi di Babel Rendah ?
Dekonstruksi Cara Pikir Oposisi Biner: Mengapa Perlu?
PENINGKATAN KUALITAS PELAYANAN PUBLIK DENGAN ASAS GOOD GOVERNANCE
UMP Bangka Belitung Naik, Payung Hukum Kesejahteraan Pekerja atau Fatamorgana Belaka?
Peran Generasi Z di Pemilu 2024
Pemilu Serentak 2024 : Ajang Selebrasi Demokrasi Calon Insan Berdasi
Menelusuri Krisis Literasi Paradigma dan Problematik di Bumi Bangka Belitung
Jasa Sewa Pacar: Betulkah Menjadi sebuah Solusi?
Peran Sosial dan Politis Dukun Kampong
Mahasiswa dan Masalah Kesehatan Mental
Analogue Switch-off era baru Industri pertelevisian Indonesia
Di Era Society 50 Mahasiswa Perlu Kompetensi SUYAK
HUT ke-77 Kemerdekaan Republik Indonesia, sudah merdekakah kita?
Pemblokiran PSE, Pembatasan Kebebasan Berinternet?
Pentingnya Pemahaman Moderasi Beragama Pada Mahasiswa di Perguruan Tinggi Umum
SOCIAL MAPPING SEBAGAI SOLUSI TATA KELOLA SUMBER DAYA ALAM