UBB Perspective
Universitas Bangka Belitung
Artikel UBB
Universitas Bangka Belitung's Article
09 Maret 2023 | 15:16:21 WIB
Pemilu Serentak 2024 : Ajang Selebrasi Demokrasi Calon Insan Berdasi
Ditulis Oleh : Umulya Islaha

Staff Supporting Perbendaharaan BPKKU UBB
Berdasarkan hasil keputusan Mahkamah Konstitusi (MK) Nomor 67/PUU-XIX/2021, desain pemilihan umum (pemilu) serentak secara nasional yang dipilih oleh pembentuk undang-undang pada 2024 mendatang adalah pemilu serentak dalam dua tahap. Tahap pertama yaitu pemilu serentak untuk memilih Anggota DPR, DPD, Presiden/Wakil Presiden, dan Anggota DPRD. Tahap kedua, pemilihan kepala daerah (pilkada) serentak secara nasional.
Pelaksanaan waktu penyelenggaraan pemungutan suara maupun pelantikan pasangan calon terpilih nantinya akan dilaksanakan serentak sehingga diharapkan terciptanya efektivitas dan efisiensi kebijakan pembangunan antara daerah dan pusat.
Pemilu serentak 2024 yang sudah di depan mata tentu semakin banyak persiapan yang terlihat dari berbagai partai politik serta mulai bermunculan tokoh-tokoh potensial yang mulai melakukan uji publik dengan mengukur elektabilitas dan popularitas calon pemimpin negeri melalui berbagai media dan lembaga survei guna menghadapi selebrasi demokrasi pemilu 2024.
Melihat maraknya informasi yang bermunculan terkait calon pemimpin yang dilihat masyarakat inilah kemudian memicu berbagai opini dari para tokoh bangsa, politisi, akademisi dan masyarakat di berbagai komunitas yang memberikan tanggapannya masing-masing terkait tokoh yang akan berpartisipasi dalam belantika politik kebangsaan.
Tidak hanya itu, kontestasi politik saat ini juga semakin banyak bermunculan tokoh-tokoh muda milenial yang ikut menyemarakkan selebrasi demokrasi pemilu serentak 2024 dan memanfaatkan momentum regenerasi pemimpin negeri.
Generasi milenial sebagai generasi yang akrab dengan informasi digital dan media sosial ini menjadi modal penting dalam pemilu serentak tahun 2024. Pasalnya, untuk memenangkan kontestasi Pemilu 2024 bukan perkara mudah, mengingat berdasarkan survei BPS mencatat usia muda produktif (15-64 tahun) pada tahun 2020 saja sudah mencapai 191,08 juta jiwa atau sekitar 70,72% dari total penduduk Indonesia yakni sebanyak 270,20 juta jiwa.
Sehingga dapat diketahui bahwasanya mayoritas pemilih dalam pemilu 2024 nanti akan didominasi oleh generasi milenial yang akrab dengan digitalisasi dan media sosial. Oleh karena itu, partai politik maupun masing-kandidat harus memiliki strategi jitu untuk menarik simpati generasi milenial sebagai pemilih yang sangat berpengaruh terhadap hasil pemilu.
Tidak hanya itu, berdasarkan data KPU pada Pemilu 2019 lalu, usia pemilih 21-30 tahun sebanyak 42.843.792 orang, dan usia 31-40 tahun sebanyak 43.407.156 orang. Apabila jumlah ini ditambah pemilih usia 17-20 tahun, maka pemilih muda yang terdiri dari generasi milenial (lahir tahun 1981-1999) dan generasi Z (lahir 1997-2012) mencapai 50% (Koran Sulindo, 28/10/2021).
Hal ini menunjukkan bahwa generasi milenial dapat dianggap menjadi penentu keberhasilan pemilu serentak nanti. Oleh karena itu, dapat dipastikan bahwa partai politik akan berlomba-lomba untuk merebut suara kaum milenial salah satunya melakukan pendekatan dan pengenalan calon melalui berbagai platform dan media sosial. Melalui berbagai platform, banyak generasi milenial tergerak aktif menyuarakan kepedulian mereka atas berbagai isu terutama terkait dalam konteks politik dan terkait kecurangan-kecurangan yang dapat terjadi dalam proses pemilu serentak 2024 nantinya.
Generasi milenial yang melek teknologi ini dapat memberikan hal positif terkait terlaksananya kelancaran dalam proses pemilu 2024 nanti. Hal ini dikarenakan generasi milenial dapat menggunakan teknologi sebagai solusi dalam mengatasi permasalahan pemilu seperti membuat instrumen teknologi elektronik untuk meminimalisir kemungkinan manipulasi dalam proses rekapitulasi pungutan suara.
Secara sosiologis, momentum pemilu serentak 2024 memberi pelajaran baik secara langsung maupun tidak langsung kepada masyarakat bahwasanya selebrasi demokrasi kali ini lebih ditekankan pada penguatan moral kebangsaan yang meminimalisir tindakan kecurangan serta menjadikan pemilu serentak 2024 yang adil dan beradab sehingga setiap insan memiliki hak yang sama untuk turut ikut dalam ajang kontestasi politik dan tidak menutup kemungkinan bahwasanya tokoh politik masa depan tidak hanya diisi oleh wajah-wajah lama saja, akan tetapi muncul wajah-wajah baru yang memiliki semangat kebaruan untuk perubahan bangsa ke arah yang lebih baik dan maju. (Umulya)
UBB Perspectives
Meski Ilegal, Mengapa Bisnis Thrifting Terus Menjamur?
Tantangan Pemimpin Baru dan Ekonomi Bangka Belitung
Sastra, Kreativitas Intelektual, dan Manfaatnya Secara Ekonomi
Lindungi Anak Kita, Lindungi Masa Depan Bangsa
Akankah Pilkada Kita Berkualitas?
Hulu Hilir Menekan Overcrowded
Penguatan Gakkumdu untuk Mengawal Pesta Demokrasi Berkualitas
Carbon Offset : Blue Ocean dan Carbon Credit
Hari Lingkungan Hidup: Akankah Lingkungan “Bisa” Hidup Kembali?
FAKTOR POLA ASUH DALAM TUMBUH KEMBANG ANAK
MEMANFAATKAN POTENSI NUKLIR THORIUM DI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG : PELUANG DAN DAMPAK LINGKUNGAN
Pengaruh Sifat Fisika, Kimia Tambang Timah Terhadap Tingkat Kesuburan Tanah di Bangka Belitung
Akuntan dan Jurnalis: Berkolaborasi Dalam Optimalisasi Transparan dan Pertanggungjawaban
Sustainable Tourism Wisata Danau Pading Untuk Generasi Z dan Alpa
Perlunya Revitalisasi Budaya Lokal Nganggung di Bangka Belitung
Semangat PANDAWARA Group: Dari Sungai Kotor hingga Eksis di Media Sosial
Pengaruh Pembangunan Produksi Nuklir pada Wilayah Beriklim Panas
Pendidikan dan Literasi: Mulailah Merubah Dunia Dari Tindakan Sederhana
Mengapa APK Perguruan Tinggi di Babel Rendah ?
Dekonstruksi Cara Pikir Oposisi Biner: Mengapa Perlu?
PENINGKATAN KUALITAS PELAYANAN PUBLIK DENGAN ASAS GOOD GOVERNANCE
UMP Bangka Belitung Naik, Payung Hukum Kesejahteraan Pekerja atau Fatamorgana Belaka?
Peran Generasi Z di Pemilu 2024
Menelusuri Krisis Literasi Paradigma dan Problematik di Bumi Bangka Belitung
Jasa Sewa Pacar: Betulkah Menjadi sebuah Solusi?
Peran Sosial dan Politis Dukun Kampong
Mahasiswa dan Masalah Kesehatan Mental
Analogue Switch-off era baru Industri pertelevisian Indonesia
Di Era Society 50 Mahasiswa Perlu Kompetensi SUYAK
HUT ke-77 Kemerdekaan Republik Indonesia, sudah merdekakah kita?
Pemblokiran PSE, Pembatasan Kebebasan Berinternet?
Pentingnya Pemahaman Moderasi Beragama Pada Mahasiswa di Perguruan Tinggi Umum
SOCIAL MAPPING SEBAGAI SOLUSI TATA KELOLA SUMBER DAYA ALAM
Bisnis Digital dan Transformasi Ekonomi
Masyarakat Tontonan dan Risiko Jenis Baru
Penelitian MBKM Mahasiswa Biologi
PEREMPUAN DI SEKTOR PERTAMBANGAN TIMAH (Refleksi atas Peringatan Hari Kartini 21 April 2022)
Kiat-kiat Menjadi “Warga Negara Digital” yang Baik di Bulan Ramadhan
PERANG RUSIA VS UKRAINA, NETIZEN INDONESIA HARUS BIJAKSANA
Kunci Utama Memutus Mata Rantai Korupsi
Pengelolaan Sumber Daya Air yang Berkelanjutan
SI VIS PACEM PARABELLUM, INDONESIA SUDAH SIAP ATAU BELUM?
KONKRETISASI BELA NEGARA SEBAGAI LANGKAH PREVENTIF MENGHADAPI PERANG DUNIA
Memaknai Sikap OPOSISI ORMAWA terhadap Birokrasi Kampus
Timah, Kebimbangan yang Tak akan Usai
Paradigma yang Salah tentang IPK dan Keaktifan Berorganisasi
Hybrid Learning dan Skenario Terbaik
NEGARA HARUS HADIR DALAM PERLINDUNGAN EKOLOGI LINGKUNGAN
Mental, Moral dan Intelektual: Menakar Muatan Visi UBB dalam Perspektif Filsafat Pierre Bourdieu
PEMBELAJARAN TATAP MUKA DAN KESIAPAN
Edukasi Kepemimpinan Milenial versus Disintegrasi
Membangun Kepemimpinan Pendidikan di Bangka Belitung Berbasis 9 Elemen Kewarganegaraan Digital
Menuju Kampus Cerdas, Ini yang Perlu Disiapkan UBB
TI RAJUK SIJUK, DIANTARA KESEMPATAN YANG TERSEDIA
Mengimajinasikan Dunia Setelah Pandemi Usai
ILLEGAL MINING TIMAH (DARI HULU SAMPAI HILIR)
PERTAMBANGAN BERWAWASAN LINGKUNGAN
Inflasi Menerkam Masyarakat Miskin Semakin Terjepit
NETRALITAS DAN INTEGRITAS PENYELENGGARA PEMILU
Siapa Penjarah dan Perampok Timah ???
Menjaga Idealisme dan Kemandirian Pers
POLITIK RAKYAT DAN TANGGUNG JAWAB PEMIMPIN
Penelitian Rumpon Cumi Berhasil di Perairan Tuing, Pulau Bangka