+62 (0717) 422145 Senin-Jumat: 07.30 - 16.00 WIB
Link Penting UBB

Artikel UBB

Universitas Bangka Belitung's Article
24 Juni 2022 | 16:46:18 WIB


Merebut Hati Gen Z


Ditulis Oleh : Ariandi A Zulkarnain, S.IP., M.Si.

Tahapan Pemilu 2024 sudah dimulai sejak 14 Juni 2022 dan pemilihan suara serentak disepakati tanggal 14 Februari 2024. Partai-partai politik sudah menanam sejumlah strategi untuk merebut suara.Termasuk suara Gen Z. Pemilu 2024 boleh dibilang menarik, karena ada gen Z yang masuk dalam daftar pemilih. Orang-orang generasi Z yang lahir pada 1996 hingga 2012, dikenal apolitis, gadget mania, dan melek medsos.

Merujuk pada data BPS (Hasil Data sensus) tahun 2020 menjelaskan bahwa populasi gen z mencapai 74,9 Juta atau 27,7 % dari total penduduk Indonesia yakni sekitar 270,20 juta Jiwa, dari data tersebut dapat diartikan bahwa kehadiran gen Z tidak hanya dianggap sebatas angka, melainkan memainkan peran potensial demi kebutuhan meraup dukungan konsituen politik pada kontestasi pemilu di tahun 2024. Dan bukan tidak mungkin jika kehiran gen Z mampu menjadi kunci kemenangan bagi kontestan yang akan berkompetisi pada kontestasi electoral mendatang.

Tentunya dengan adanya gen Z pola pendekatan dan komunikasi Politik menjadi sangat menarik untuk dinantikan, bagaimana peserta pemilu menggunakan berbagai stretegi dan komunikasi politik guna memaksimalkan menjadi pilihan dari kalangan Gen Z. Kehadiran Gen Z juga sudah seharusnya menjadi salah satu pertimbangan bagi kelompok berkepentingan dalam pemilu 2024, baik dari penyelenggara pemilu yakni Komisi Pemilihan Umum mampu menjangkau gen Z untuk menjadi pemilih yang partisipatif pada pemilu mendatang dengan program dan pendekatannya, kemudian dari peserta pemilu yakni partai politik dan para caleg mampu memetakan prilaku gen Z sehingga melahirkan dukungan yang positif bagi kebutuhan perolehan suara. Dan diharapkan tidak hanya sebatas dukungan politik pada pemilu 2024 saja, tetapi juga setelah itu gen z harapannya menjadi kelompok yang sadar dan aktif mengawal pembangunan dan kebijakan poltik secara partisipatif. 

Tentunya kehadiran gen z tidak hanya menjadi pelengkap dalam proses pemilihan umum, dengan rentang usia gen z hari ini pada usia 17-25 tahun, memiliki prilaku sosial yang khusus yang biasa disebut sebagai i-generation. Generasi ini diframe dengan proyeksi yang begitu optimistik, Satu hal yang menjadi ciri khas kuat dari generasi ini adalah karakternya yang digital native. Fase pertumbuhan yang berjalan beriringan dengan mapannya infrastruktur teknologi informasi global membuat mereka terpisah dengan memori dunia lama dan melihat dunia dengan cara yang baru melalui teknologi. Prilaku gen-z yang pada fase nya didampingi oleh teknologi tentu menjadi warna tersendiri bagi komunikasi politik yang membutuhkan kreatifitas dan inovasi penggunaan media digital dan media sosial yang menjadi sarana agar mudah dijangkau oleh gen-z hari ini. Variasi dan prilaku pemilih yang dimiliki gen-z menjadi sebuah arus baru bagi terselenggaranya pesta demokrasi yang menarik.

Di panggung politik, keterlibatan gen-z mencuri perhatian tersendiri hari ini. Intensifikasi terhadap akses informasi berkat penguasaan teknologi (media sosial) memungkinkan mereka dapat mengakses beragam isu secara luas dan cepat. Isu keberagaman, perubahan iklim, kesetaraan, hingga pemerintahan yang bersih menjadi perbincangan dikalangan gen-z. Ini membuat mereka kerap dikesankan memiliki langkah yang progresif dalam politik. Tentu dengan realitas tersebut sudah seharusnya partai politik harus berubah dengan narasi yang baru dan approach yang baru, demi merangkul gen z dan berbasis technologic driven. Maka partai politik harus mampu beradaptasi dan harus inovatif dengan alam berfikir gen-z terkini, maka politik harus menjadi daya tarik bagi gen-z.  

Penyesuaian yang perlu dilakukan tidak hanya secara komunikasi tapi juga dalam upaya melakukan konsolidasi internal partai politik dalam menentukan dan memilih para caleg dan calon presiden yang mampu mengakomodir keresahan dan gagasan dari gen-z. maka partai politik harus melakukan tranformasi baik dalam ideologi dan menyaring siapa saja calon yang mampu menjadi alternative dan menarik untuk dipilih oleh kaum generasi z. tentunya dengan kehadiran wajah wajah baru dalam panggung politik menjadi daya tarik bagi generasi–z karena generasi ini memiliki tingkat kritis lebih dibanding dengan generasi terdahulu, sehingga dengan arus informasi yang mudah diakses oleh generasi z membuat isu (konten) politik lebih menarik perhatian dibanding popularitas itu sendiri didalam politik.

Metode kampanye menjadi komunikasi penghubung antara peserta pemilu dengan pemilih pemilu itu sendiri termasuk didalamnya adalah gen-z. mayoritas partai politik yang hari ini masih menggunakan cara kampanye yang konvensional sehingga membuat narasi politik cenderung kaku dan tidak menarik bagi sebagian kalangan. Komunikasi itu pada kuncinya bagaimana pesan yang ingin disampaikan dapat disampaikan dengan media yang tepat dan tersampaikan dengan sesuai target. Dengan prilaku gen-z yang konsumtif terhadap teknologi dan sarana media modern maka sudah semestinya pertain politik harus mampu menjangkau keberadaan gen-z pada ruang tersebut. Sehingga cara-cara konvensional tidak lagi dianggap efektif untuk mampu beradaptasi dengan pendekatan yang diinginkan oleh gen-z. 

Penggunaan narasi yang yang ringan, santai dan fun tentu menjadi salah satu cara pendekatan yang lebih mudah untuk dicerna bagi kaum generasi-z. sehingga topik politik menjadi bahasan yang menarik untuk dibincangkan. Media sosial juga menjadi opsi sarana untuk dimaksimalkan dalam menyampaikan pesan pesan politik yang efektif bagi gen-z entah itu dengan instagram, tik tok, twitter ataupun facebook, dengan pemetaan target dan konten yang sesuai dengan generasi-z. sudah waktunya generasi muda menentukan arah politik yang lebih progresif dan substansial pada kemajuan zaman dan pembangunan negara kearah yang lebih baik. Maka peran gen-z dan kaum muda lainnya sangat menarik untuk dijadikan konsiderasi bagi perilaku politik dimasa sekarang serta masa yang akan datang.

Note: Tulisan  dimuat juga di rubrik News Anlysis Bangka Pos, 21Juni 2022

 



UBB Perspectives

Di Era Society 50 Mahasiswa Perlu Kompetensi SUYAK

HUT ke-77 Kemerdekaan Republik Indonesia, sudah merdekakah kita?

Pemblokiran PSE, Pembatasan Kebebasan Berinternet?

Jalan Ketiga bagi Sarjana

Pentingnya Pemahaman Moderasi Beragama Pada Mahasiswa di Perguruan Tinggi Umum

SOCIAL MAPPING SEBAGAI SOLUSI TATA KELOLA SUMBER DAYA ALAM

Bisnis Digital dan Transformasi Ekonomi

Masyarakat Tontonan dan Risiko Jenis Baru

Penelitian MBKM Mahasiswa Biologi

PEREMPUAN DI SEKTOR PERTAMBANGAN TIMAH (Refleksi atas Peringatan Hari Kartini 21 April 2022)

Kiat-kiat Menjadi “Warga Negara Digital” yang Baik di Bulan Ramadhan

PERANG RUSIA VS UKRAINA, NETIZEN INDONESIA HARUS BIJAKSANA

Kunci Utama Memutus Mata Rantai Korupsi

Xerosere* Bangka dan UBB

Pengelolaan Sumber Daya Air yang Berkelanjutan

SI VIS PACEM PARABELLUM, INDONESIA SUDAH SIAP ATAU BELUM?

RELASI MAHA ESA DAN MAHASISWA (Refleksi terhadap Pengantar Mata Kuliah Pendidikan Agama Islam di Perguruan Tinggi Umum)

KONKRETISASI BELA NEGARA SEBAGAI LANGKAH PREVENTIF MENGHADAPI PERANG DUNIA

Memaknai Sikap OPOSISI ORMAWA terhadap Birokrasi Kampus

Timah, Kebimbangan yang Tak akan Usai

Paradigma yang Salah tentang IPK dan Keaktifan Berorganisasi

Hybrid Learning dan Skenario Terbaik

NEGARA HARUS HADIR DALAM PERLINDUNGAN EKOLOGI LINGKUNGAN

Mental, Moral dan Intelektual: Menakar Muatan Visi UBB dalam Perspektif Filsafat Pierre Bourdieu

PEMBELAJARAN TATAP MUKA DAN KESIAPAN

Edukasi Kepemimpinan Milenial versus Disintegrasi

Membangun Kepemimpinan Pendidikan di Bangka Belitung Berbasis 9 Elemen Kewarganegaraan Digital

Menuju Kampus Cerdas, Ini yang Perlu Disiapkan UBB

TI RAJUK SIJUK, DIANTARA KESEMPATAN YANG TERSEDIA

TATAP MUKA

Mengimajinasikan Dunia Setelah Pandemi Usai

MENJAGA(L) LINGKUNGAN HIDUP

STOP KORUPSI !

ILLEGAL MINING TIMAH (DARI HULU SAMPAI HILIR)

KARAKTER SEPERADIK

SELAMAT BEKERJA !!!

ILLEGAL MINING

Pers dan Pesta Demokrasi

PERTAMBANGAN BERWAWASAN LINGKUNGAN

GENERASI (ANTI) KORUPSI

KUDETA HUKUM

Inflasi Menerkam Masyarakat Miskin Semakin Terjepit

NETRALITAS DAN INTEGRITAS PENYELENGGARA PEMILU

Siapa Penjarah dan Perampok Timah ???

Memproduksi Kejahatan

Potret Ekonomi Babel

Dorong Kriminogen

Prinsip Pengelolaan SDA

Prostitusi Online

Menjaga Idealisme dan Kemandirian Pers

JUAL BELI BERITA

POLITIK RAKYAT DAN TANGGUNG JAWAB PEMIMPIN

Penelitian Rumpon Cumi Berhasil di Perairan Tuing, Pulau Bangka

Budidaya Ikan Hias Laut

Gratifikasi, Hati-Hatilah Menerima Sesuatu

KEPUASAN HUKUM

JANGAN SETOR KE APARAT

JAKSA TIPIKOR SEMANGAT TINGGI

Perairan Tuing, Benteng Sumberdaya Perikanan Laut di Kabupaten Bangka

GRAND DESIGN KEPENDUDUKAN (Refleksi Hari Penduduk Dunia)

Berebut Kursi Walikota

Kenalkan Bangka Belitung dengan Foto !

Demokrasi yang Tersandera

Pamor Rajendra

DNSChanger dan Kiamat Kecil Internet

MARI DISIPLIN BERLALU LINTAS

Radiasi Perlu Diteliti

Kebablasan Otonomi Daerah : Obral Izin Pertambangan

TIMAH PENCABUT NYAWA

Labelling

Penegakan Perda Tambang Lemah

Gratifikasi = Suap

Bukan Berarti Sudah Sejahtera

Tips Menjadi Jurnalis Online Sejati

Ujian (Nasional) Kejujuran

Bukan Politis

Saatnya Mencontoh Sumber Energi Alternatif Brazil

LEGOWO DAN BERSATU MEMBANGUN BABEL

Aspek Hukum Hibah dan Bansos

Pengawasan Senjata Api

Gelatin Tulang Rawan Ikan Hiu

MERAMU PAKAN IKAN LELE

Tak Etis Sembako Naik

Berharap Gubernur Baru Babel Pro Perikanan

Aquaculture's Never Ending

AYO MENULIS, MENULIS DAN MENULIS (SILAHTURAHMI KEILMUAN-Bagian 5)

SIAP MENANG (TAK) SIAP KALAH?

Pendalaman Demokrasi Babel Menuju Demokrasi Substansial

PENJAHAT ONLINE

Akuakultur di Bangka Belitung

KEPEMIMPINAN NASIONAL ANTI KORUPSI DALAM MENEGAKKAN KEDAULATAN HUKUM